Jejak Yang Tak Pernah Pergi
Hujan akhirnya mulai mereda, tapi dingin malam itu justru semakin menggigit. Selia tetap berdiri memandangi punggung Raga yang perlahan menjauh. Payung di tangannya goyah oleh angin, namun ia tak peduli. Yang ia lihat hanyalah sosok pria yang pernah menjadi rumah bagi hatinya.
Raga berhenti sejenak di dekat lampu jalan yang berkedip.
Tanpa menoleh, ia meremas jemarinya sendiri—usaha terakhir untuk menahan dirinya agar tidak kembali pada wanita itu.
Ia tahu, sekali saja ia memeluknya… semuanya akan runtuh.
Semua alasan untuk pergi akan hilang.
Tapi takdir punya caranya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah suara kecil memanggil lirih dari arah Selia.
“Tolong…”
Raga refleks menoleh. Bukan suara Selia.
Seorang anak kecil—basah kuyup, gemetar—berdiri tak jauh dari tempat Selia berada. Ia kehilangan payung, tangan kecilnya menggenggam boneka kain yang basah.
Selia langsung jongkok dan memeluk anak itu agar tak semakin kedinginan.
Raga, tanpa berpikir, berlari ke arah mereka.
“Dia dari mana?” tanya Raga cepat, suaranya cemas.
“Aku nggak tahu… dia muncul begitu saja,” jawab Selia, masih memegang anak itu. “Sepertinya tersesat.”
Anak itu menatap Raga dengan mata ketakutan.
Dan untuk pertama kalinya malam itu… Raga menunjukkan sisi yang sama sekali berbeda.
Ia melepas jaket denimnya yang dingin dan basah, lalu memakaikannya ke anak itu.
“Tenang,” katanya lembut. “Kita cari rumah kamu.”
Selia menatap Raga dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Ada kehangatan di sana.
Ada harapan yang tak pernah benar-benar padam.
---
Mereka bertiga berjalan menyusuri gang yang remang.
Anak itu hanya mengatakan satu hal:
“Ayah… belum pulang.”
Tak banyak petunjuk.
Hanya kecemasan yang semakin menebal.
Saat mereka sampai di sebuah ujung gang, seorang pria tua berlari dari kejauhan, wajahnya panik. Begitu melihat anak itu, ia langsung memeluknya.
“Ya Allah, kamu di sini! Aku cari dari tadi!”
Pria itu menatap Raga dan Selia.
“Terima kasih… terima kasih sudah menolong.”
Raga hanya mengangguk. Selia tersenyum kecil.
Lalu, saat keluarga itu menghilang di balik rumah tua, keheningan kembali datang.
Tapi bukan keheningan yang sama seperti sebelumnya.
“Aku lihat sesuatu barusan,” ujar Selia pelan.
“Apa?” tanya Raga.
“Kamu.”
Tatapannya menembus hujan yang tersisa.
“Kamu yang dulu. Yang lembut. Yang masih peduli.”
Raga menunduk. “Itu cuma refleks.”
“Tidak.” Selia menggeleng. “Itu kamu. Yang selalu berusaha jadi baik… walau dunia bikin kamu keras.”
Raga terdiam.
Lama.
“Kenapa kamu selalu bisa lihat aku lebih baik dari kenyataannya?” tanya Raga lirih.
“Karena aku tahu siapa kamu sebelum semua ini,” jawab Selia. “Dan aku yakin… bagian itu masih ada.”
Raga menatap wajah Selia yang mulai diterangi lampu jalan.
Samar. Lembut. Penuh luka yang ia sendiri tinggalkan.
Untuk pertama kalinya, ia mengambil satu langkah mendekat.
Tapi kemudian ia berhenti.
“Selia…” suaranya bergetar, “Jika aku kembali… aku takut aku akan menyakitimu lagi.”
Selia menahan napas sejenak.
Lalu ia berkata pelan:
“Kalau kamu pergi… kamu tetap menyakitiku.”
Hening.
Sekali lagi, hanya suara hujan yang terdengar jatuh perlahan.
Raga merasakan dunia seperti berhenti.
Selia tak meminta ia berubah.
Tak meminta masa lalu hilang.
Ia hanya meminta… untuk tidak lagi ditinggalkan.
Rasa bersalah, rindu, dan kenangan bercampur menjadi satu dalam dada Raga.
Ia ingin maju.
Ia ingin memeluknya.
Ia ingin berkata bahwa ia pun tidak pernah berhenti berharap.
Tapi sebelum kata-kata itu keluar…
Ponsel Raga bergetar di sakunya.
Ia melihat layar—dan wajahnya langsung berubah tegang.
Selia melihat reaksi itu. “Ada apa?”
Raga menatapnya dengan mata yang penuh dilema.
“Aku harus pergi,” katanya cepat.
“Sekarang?” suara Selia melemah.
Raga mengangguk. “Ini penting. Sangat penting.”
Selia tak berkata apa-apa.
Hanya menatap Raga yang tampak seperti kembali menarik dirinya ke dunia yang selama ini ia coba tinggalkan.
Raga menunduk dalam, mengambil napas berat.
“Aku janji… aku akan kembali,” katanya pelan.
Selia menahan air mata.
“Janji yang sama seperti dulu.”
Raga terdiam.
Lalu, tanpa banyak kata, ia menyentuh lengan Selia—sentuhan yang singkat namun penuh makna.
Dan akhirnya ia melangkah pergi ke dalam gelapnya malam.
Meninggalkan Selia sendirian,
di bawah hujan yang tinggal sisa-sisa,
bertanya dalam hati:
Kali ini…
benarkah ia akan kembali?




















































