Wahabi Bilang Tidak Tahu Bentuk Fisik Tuhan,
Wahabi Bilang Tidak Tahu Bentuk Fisik Tuhan, Tapi Mengimani Tuhan Berbentuk Fisik
Kalimat seperti ini sering terdengar dalam perdebatan aqidah. Sekilas terlihat hati-hati, seolah ingin menjaga keagungan Allah. Namun jika dipahami lebih dalam, kalimat tersebut justru mengandung masalah besar dalam pemahaman tauhid.
Dalam Islam, Allah سبحانه وتعالى tidak disamakan dengan makhluk apa pun. Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Artinya, Allah tidak memiliki sifat-sifat yang menjadi ciri makhluk, seperti bentuk fisik, tubuh, ukuran, arah, tempat, atau bagian-bagian anggota.
Ketika seseorang mengatakan “tidak tahu bentuk fisik Tuhan”, tetapi di saat yang sama mengatakan “mengimani Tuhan berbentuk fisik”, sebenarnya ia telah menetapkan sesuatu yang tidak boleh ditetapkan. Sebab, fisik atau bentuk adalah ciri makhluk. Walaupun dikatakan “tidak tahu bagaimana bentuknya”, tetap saja itu berarti meyakini Allah memiliki tubuh atau rupa, dan ini bertentangan dengan prinsip dasar tauhid.
Dalam aqidah Islam yang diajarkan para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, Allah ada tanpa membutuhkan tempat, arah, atau bentuk. Segala sesuatu yang memiliki bentuk pasti terbatas, tersusun, dan membutuhkan ruang. Semua itu adalah sifat makhluk, bukan sifat Tuhan. Karena itu, menetapkan bentuk fisik bagi Allah, dalam bentuk apa pun, adalah kesalahan dalam memahami aqidah.
Para ulama salaf ketika menghadapi ayat-ayat yang maknanya tidak bisa dipahami secara lahiriah, seperti ayat tentang tangan, wajah, atau istiwa’, tidak pernah mengatakan bahwa Allah memiliki tubuh atau fisik. Mereka mengimani ayat tersebut sebagaimana datangnya, tanpa membahas bagaimana hakikatnya, dan tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Mereka tidak menetapkan makna fisik, juga tidak membayangkannya.
Sebagian ulama menjelaskan ayat-ayat tersebut dengan penafsiran yang sesuai dengan keagungan Allah, agar umat tidak terjebak pada pemahaman yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Ini dilakukan bukan untuk menolak Al-Qur’an, tetapi justru untuk menjaga kemurnian tauhid.
Maka, pernyataan “mengimani Tuhan berbentuk fisik” tidak bisa dibenarkan, meskipun dibungkus dengan kalimat “kami tidak tahu bentuknya”. Dalam aqidah Islam, yang benar adalah meyakini bahwa Allah ada, Maha Sempurna, dan sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya, baik dalam bentuk, fisik, arah, maupun sifat-sifat yang terbatas.
Kesimpulannya, tauhid yang lurus adalah menyucikan Allah dari segala sifat makhluk. Allah tidak bisa dibayangkan, tidak bisa digambarkan, dan tidak bisa diserupakan dengan apa pun. Apa pun yang terlintas di pikiran manusia, Allah pasti tidak seperti itu.
Semoga kita semua dijaga oleh Allah dari pemahaman aqidah yang keliru, dan diberi pemahaman yang benar sesuai ajaran Islam yang murni. Aamiin.
























































































