“Lucu ya… rakyat yang bayar pajak, rakyat yang gaji DPR, rakyat yang tiap hari menanggung utang negara… justru disebut tolol saat bersuara.
Kalau rakyat demo dibilang tolol, berarti pinter itu apa? Diam? Tepuk tangan saat uang rakyat dikorupsi?
Dan lebih aneh lagi, kemarin dia sempat usul OTT KPK harus koordinasi dulu sama ketua partai. Itu sama aja maling bilang ke polisi: ‘Tolong ya, sebelum nangkep saya, izin dulu ke bos saya.’”
... Baca selengkapnyaKalimat "tolol itu apa" belakangan sering banget seliweran di kepala aku sejak lihat berita soal Syahroni yang bilang orang yang minta DPR dibubarkan itu tolol. Dari situ aku jadi mikir, sebenernya arti kata tolol itu apa sih dalam keseharian kita sebagai rakyat?
Kalau buka KBBI, kurang lebih "tolol" itu berarti bodoh, susah mengerti, nggak paham-paham. Tapi di dunia nyata, kata ini sering dipakai buat menjatuhkan orang lain. Misalnya, rakyat yang turun ke jalan demo dibilang tolol, padahal mereka lagi pakai hak konstitusional buat protes. Sementara pejabat yang gajinya dari uang pajak rakyat, justru santai aja waktu ada korupsi, atau malah bikin pernyataan yang nyakitin.
Buat aku pribadi, tolol itu bukan soal nilai rapor atau gelar S1, S2, S3. Tolol itu ketika seseorang punya kekuasaan, punya akses informasi, tapi pura-pura nggak tahu mana yang benar. Contohnya, ketika ada usulan KPK harus koordinasi dulu ke ketua partai sebelum OTT. Di gambar yang aku lihat, Syahroni berdiri di podium dengan teks yang nyamain usul itu kayak maling bilang ke polisi: sebelum nangkep saya, izin dulu ke bos saya. Nah, di situ aku mikir, yang tolol itu rakyat yang protes, atau sistem yang sengaja dibikin ribet biar koruptor aman?
Di salah satu gambar juga ada tulisan bahwa rakyat yang bayar pajak dan menggaji DPR malah disebut tolol kalau bersuara. Menurutku, justru yang tolol itu koruptor yang dengan santai ngambil uang rakyat, seakan-akan lupa kalau gaji mereka, fasilitas mewah mereka, semuanya dari keringat orang biasa. Ada juga ilustrasi kartun dengan teks "PEJABAT BEDA TIPIS DENGAN PENJAHAT". Keras sih, tapi itu nunjukin gimana kecewanya orang-orang sama tingkah sebagian pejabat.
Aku juga suka dengan satu teks di gambar: bahwa yang tolol itu pejabat yang lupa rakyat adalah bos mereka. Kalau dipikir, logikanya simple: di negara demokrasi, rakyat itu atasan, pejabat cuma mandat sementara. Jadi kalau ada rakyat demo, kritik, marah, itu bukan karena tolol, tapi karena capek lihat kasus korupsi nggak kelar-kelar.
Jadi kalau kamu masih nanya "tolol itu apa?", dari kacamata aku sebagai warga biasa: tolol itu ketika orang yang seharusnya melindungi rakyat malah merendahkan rakyat. Tolol itu ketika pejabat lebih sibuk jaga kursi dan partai daripada jaga kepercayaan publik. Rakyat yang bertanya, yang ngepalkan tangan di depan bendera, yang nuntut keadilan, menurutku justru lagi nunjukkin kalau mereka melek dan peduli, bukannya tolol.
Makanya, tiap kali dengar ada pejabat ngomong seenaknya, aku jadi balik bertanya dalam hati: "Syahroni vs rakyat, siapa yang tolol?" Mungkin jawaban tiap orang beda-beda, tapi setidaknya kita jadi lebih kritis saat dengar kata-kata kayak gitu dilontarkan di depan mikrofon dan disiarkan ke seluruh Indonesia.