Langkah kaki yang terasa begitu berat, menahan beb
2025/8/7 Diedit ke
... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali dengar kata "memekakkan", aku kira itu cuma dipakai buat suara yang keras, kayak konser atau suara mesin. Tapi setelah ngalamin sendiri suasana lorong rumah sakit yang panjang dan sepi, menuju pintu bertuliskan "ICU", aku baru merasa kata ini juga bisa dipakai buat menggambarkan suasana yang begitu berat sampai bikin kepala dan hati seolah bising sendiri.
Secara umum, "memekakkan" artinya adalah membuat telinga terasa penuh atau sakit karena suara yang terlalu keras, bising, atau mengganggu. Misalnya, kita bisa bilang: "Suara sirene ambulans itu memekakkan telinga" atau "Musik di klub tadi memekakkan". Jadi, kata ini sering muncul saat kita ngomongin hal-hal yang berkaitan dengan kebisingan.
Tapi dalam pengalaman pribadi, rasa "memekakkan" kadang bukan cuma soal suara nyata. Lorong rumah sakit yang sunyi justru terasa lebih bising di dalam kepala. Pikiran tentang kondisi orang tersayang di ICU, suara tanda monitor yang kadang bunyi, langkah kaki sendiri yang bergema di lantai dingin – semua itu terasa memekakkan, meskipun secara fisik suasananya sepi.
Kalau kamu lagi cari "memekakkan artinya" karena nemu kata ini di buku, film, atau obrolan, bayangin aja situasi saat telingamu udah nggak kuat lagi nerima suara. Bisa karena musik terlalu kencang, teriakan, atau kebisingan jalan raya. Kata ini biasanya punya nuansa negatif, menunjukkan ketidaknyamanan, kelelahan, atau rasa terganggu.
Dalam konteks ceritaku di lorong rumah sakit menuju ICU, rasa memekakkan itu lebih ke hati dan pikiran. Suasana berat, ketakutan, dan kekhawatiran bercampur jadi satu. Kadang kita nggak dengar apa-apa, tapi di dalam kepala seperti ada suara yang ramai, memekakkan, bikin susah bernapas lega. Jadi, kalau kamu lagi berada di situasi sulit, wajar banget kalau menggambarkan kondisi itu dengan kata "memekakkan" – bukan cuma telinga, tapi juga perasaan.
Menurutku, memahami arti kata seperti "memekakkan" membantu kita buat lebih jujur sama diri sendiri. Saat menulis cerita tentang lorong rumah sakit dan pintu ICU, kata itu muncul karena memang terasa pas untuk menggambarkan tekanan batin yang dialami. Buat kamu yang lagi belajar bahasa atau sekadar penasaran, coba pakai kata ini di kalimat sehari-hari, misalnya: "Suasana di kantor hari ini memekakkan, semua orang panik". Dengan begitu, kamu bisa lebih peka terhadap nuansa emosi yang dibawa oleh kata-kata, bukan cuma arti literalnya.