Kapolda Aceh, Irjen Pol. Marzuki Ali Basyah, resmi meluncurkan buku berjudul “Polda Aceh Meutuah: Sabe Tajaga Aceh Mulia”.
Peluncuran berlangsung di Aula Landmark BSI Aceh, Banda Aceh, Rabu (3/6/2026).
Buku tersebut mengisahkan perjalanan hidup putra asal Tangse, Kabupaten Pidie, sejak masa kecil hingga menjadi pimpinan tertinggi Polda Aceh.
Selain itu, buku setebal lebih dari 250 halaman tersebut juga merekam berbagai tantangan dan gagasan yang dijalankan Irjen Marzuki selama memimpin Polda Aceh sejak Agustus 2025.
Buku tersebut juga menjelaskan konsep “Polda Aceh Meutuah” yang menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal Aceh ke dalam pelaksanaan tugas kepolisian.
Dalam acara peluncuran itu, Irjen Marzuki mengatakan buku Polda Aceh Meutuah menjadi wadah untuk berbagi pengalaman sekaligus menuangkan gagasan tentang konsep kepolisian yang berlandaskan kearifan lokal Aceh tanpa mengesampingkan ketentuan dalam Undang-Undang Kepolisian.
Baca selengkapnya di Serambinews.com dan Harian Serambi Indonesia edisi Kamis 4 Juni 2026.
Sebagai warga Aceh yang sangat peduli dengan pengembangan budaya dan keamanan di daerah ini, saya merasa buku "Polda Aceh Meutuah: Sabe Tajaga Aceh Mulia" adalah karya yang sangat penting. Buku ini bukan sekadar biografi namun juga merupakan panduan praktis yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Aceh ke dalam tugas kepolisian. Konsep "Polda Aceh Meutuah" yang diusung oleh Kapolda Marzuki Ali Basyah sangat menarik karena mengedepankan pendekatan yang tidak hanya menegakkan hukum secara formal, tetapi juga memperhatikan adat istiadat dan budaya masyarakat Aceh. Saya sendiri pernah merasakan bagaimana kearifan lokal dan rasa hormat terhadap budaya setempat mampu menenangkan situasi sosial yang biasanya tegang. Pendekatan polisi yang humanis dan menghargai norma budaya lokal jelas dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat pada aparat keamanan. Peluncuran buku di Aula Landmark BSI Aceh ini bukan hanya momen penting bagi kepolisian, tetapi juga menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Aceh agar lebih memahami pentingnya menjaga keamanan sekaligus melestarikan budaya. Dalam buku ini, dijelaskan pula perjalanan hidup Kapolda Marzuki yang berasal dari Tangse, Kabupaten Pidie, hingga menjadi pucuk pimpinan Polda Aceh. Kisah inspiratif ini menunjukkan bahwa dengan tekad dan dedikasi, seseorang dapat memimpin dengan penuh integritas dan rasa tanggung jawab yang kuat terhadap daerah asalnya. Buku ini saya rekomendasikan bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana konsep kepolisian yang mengedepankan kearifan lokal dapat diterapkan di era modern, khususnya dalam menjaga keutuhan masyarakat Aceh yang beragam dan kaya budaya.



























































