Dosa mertua terhadap menantu perempuan...
Aku sering dengar cerita teman-teman soal hubungan mertua dan menantu perempuan yang tegang, padahal harusnya setelah menikah itu jadi nambah orang tua dan nambah anak, bukan nambah masalah. Dari yang aku pelajari, ada beberapa sikap mertua yang bisa jadi dosa besar di hadapan Allah SWT kalau terus dibiarkan. Pertama, menuntut menantu harus sesuai keinginannya. Misalnya, menantu wajib nurut semua perintah, harus bisa masak begini, harus ngurus rumah begini, harus ikut semua aturan keluarga besar tanpa melihat kondisi menantu. Lupa kalau menantu itu juga manusia yang punya latar belakang, kebiasaan, dan kemampuan berbeda. Kalau tuntutannya berlebihan sampai membuat menantu tertekan, nangis, atau kehilangan harga diri, itu bisa jadi bentuk kedzaliman. Kedua, ikut campur urusan rumah tangga anak dan menantu. Wajar kalau orang tua menasihati, tapi yang bahaya itu kalau setiap masalah rumah tangga selalu dicampuri, bahkan sampai mengatur keuangan, pola asuh anak, sampai keputusan penting rumah tangga. Apalagi kalau setiap habis ada masalah, menantu yang selalu disalahkan di depan keluarga besar. Lama-lama rumah tangga jadi nggak sehat, suami istri jadi nggak punya batasan dari orang tua. Ketiga, menjelek-jelekkan menantu kepada orang lain. Ini sering banget terjadi: di depan menantu kelihatan baik, tapi di belakang cerita ke tetangga, saudara, bahkan ke anaknya sendiri kalau menantu begini-begitu. Padahal menjaga kehormatan sesama muslim itu penting. Mengumbar aib, melebih-lebihkan kekurangan menantu, bahkan sampai fitnah, itu bisa jadi dosa besar dan merusak silaturahmi. Keempat, memandang rendah menantu. Contohnya, meremehkan pendidikan, pekerjaan, atau asal keluarga menantu. Sering nyeletuk, “Dulu mantan calon menantu ibu lebih bagus,” atau “Kamu itu bisa apa sih?” Perkataan seperti ini bisa sangat melukai hati. Kita suka lupa kalau menantu itu anak orang lain yang sudah diajak susah payah membangun rumah tangga dengan anak kita. Kalau kita merendahkan menantu, sama saja kita tidak menghargai pilihan anak sendiri. Sebagai menantu, aku pribadi merasa lebih tenang kalau mertua mau diajak komunikasi baik-baik. Kalau memang ada kekurangan, sampaikan dengan cara yang lembut, bukan dengan marah atau sindiran di depan orang lain. Dan buat para orang tua, mungkin bisa diingat lagi: menantu itu bukan pembantu dan bukan musuh, tapi amanah dari Allah yang harus dijaga hak dan perasaannya. Intinya, hubungan mertua dan menantu perempuan bisa jadi ladang pahala kalau sama-sama belajar menahan ego, saling menghormati, dan nggak saling mendzalimi. Kalau sudah terlanjur ada luka, nggak ada salahnya mulai minta maaf, perbaiki sikap, dan sama-sama belajar lagi supaya dijauhkan dari dosa-dosa yang dibenci Allah SWT.




































