Setelah cukup lama aku menghilang dari media sosial dan dunia perkontenan, hari ini aku aku akhirnya memberanikan diri untuk kembali.
Bukan karena semua sudah pulih sepenuhnya... tapi karena aku mulai berani memeluk diriku yang sekarang—dengan segala lelah, luka, dan proses yang masih berjalan perlahan.
Aku tahu rasanya tenggelam dalam diam.
Rasanya asing dengan diri sendiri.
Tapi aku juga tahu, ada harapan kecil yang pelan-pelan tumbuh.
Itu cukup dan layak dirayakan.
Kalau kamu juga sedang berjuang untuk kembali mencintai dirimu sendiri setelah lama ‘menghilang’—dalam bentuk apa pun itu—aku harap konten ini bisa jadi pelukan hangat yang kamu butuhkan.
Nggak perlu terburu-buru.
Yuk, kita pulih sama-sama.🌿
Scroll carousel ini pelan-pelan, semoga ada satu atau dua kalimat yang bisa jadi teman untuk hatimu yang lelah.
... Baca selengkapnyaDulu, waktu aku tiba-tiba hilang dari media sosial, banyak yang mungkin lihatnya cuma: aku memilih diam dan menghilang. Padahal di balik itu, ada perasaan lelah yang numpuk, rasa kecewa sama diri sendiri, dan bingung mau mulai cerita dari mana.
Di titik itu, aku baru paham kalau diam itu bukan selalu tanda kalah. Kadang, memilih diam dan menjauh sebentar dari keramaian justru jadi cara paling jujur untuk jaga diri. Aku berhenti memaksa diri buat selalu kelihatan "baik-baik saja" di depan orang lain. Aku mulai berani mengakui: "Aku capek. Aku sedih. Aku butuh istirahat."
Ada fase di mana aku benar-benar merasa asing sama diri sendiri. Hal-hal yang dulu bikin semangat, tiba-tiba kerasa hambar. Scroll media sosial malah bikin makin cemas, karena rasanya semua orang punya tujuan jelas, sementara aku kayak jalan di tempat. Di situ aku mulai belajar untuk pelan-pelan ngobrol lagi sama diri sendiri: nulis di buku catatan, duduk sendirian dengan secangkir minuman hangat, dan jujur sama apa yang aku rasakan.
Aku juga belajar memaknai ulang kata "menghilang". Ternyata, menghilang bukan selalu lari dari masalah. Buatku, itu jadi jeda. Jeda untuk diam, dengerin suara hati yang selama ini ketutup oleh komentar orang, ekspektasi, dan perbandingan. Aku nggak langsung jadi versi diri yang lebih kuat dan bahagia, tapi aku mulai menemukan versi diri yang berbeda: lebih pelan, lebih sadar, dan lebih manusiawi.
Di perjalanan ini, ada banyak hari maju mundur. Ada hari di mana aku merasa, "Oke, aku mulai pulih," tapi besoknya tiba-tiba drop lagi tanpa alasan jelas. Dulu aku sering marahin diri sendiri karena merasa lemah. Sekarang aku coba bilang: "Nggak apa-apa. Namanya juga proses." Di momen-momen itu, aku belajar buat nyusun ulang tujuan hidup: bukan lagi soal harus selalu produktif, tapi soal punya ritme yang lebih manusiawi dan selaras sama kebutuhanku.
Yang paling sulit buatku adalah memaafkan diri sendiri. Memaafkan karena pernah memaksa diri terlalu keras, karena pernah pura-pura kuat, karena pernah memilih diam dan menghilang tanpa penjelasan. Tapi pelan-pelan aku sadar, kalau aku bisa mengerti orang lain yang sedang lelah, kenapa aku nggak bisa memberikan pengertian yang sama ke diriku sendiri?
Kalau kamu sekarang lagi di fase memilih diam dan menghilang, aku cuma mau bilang: kamu nggak aneh, kamu nggak berlebihan. Kadang kita memang butuh berhenti sejenak untuk bisa lanjut jalan. Nggak semua orang akan paham perjalananmu, dan itu nggak apa-apa. Yang penting, kamu perlahan belajar untuk lebih lembut sama dirimu sendiri.
Kamu boleh istirahat, boleh vakum dari media sosial, boleh bilang "tidak" ke hal yang menguras energi. Pelan-pelan, ketika sudah siap, kamu akan nemu ritmemu lagi. Dan saat itu datang, kamu nggak akan jadi orang yang sama seperti dulu—kamu akan jadi versi diri yang mungkin lebih tenang, lebih sadar, dan lebih sayang diri.
Jadi, kalau hari ini kamu cuma kuat untuk bertahan dan bernapas, itu sudah cukup. Terima kasih sudah sejauh ini. Yuk, kita pulih pelan-pelan, tanpa harus buru-buru membuktikan apa-apa ke siapa pun.
klo aku susah jadi diri sendiri aku harus menuruti kata² orang lain dan sulit untuk menolak 🥺