Ini cerita fiktif, tapi aku yakin banyak yang mengalami. Msski endingnya belum tentu sama.
Hari pertama bekerja... semangat, semua terasa manis — sampai kutahu tidak semua sambutan tulus.
Dari awal aku bertekad ingin bekerja rajin dengan hati ikhlas dan tetap menebar senyum kebaikan. Namun tidak semua orang siap melihat cahaya kecil dari orang lain.
Kadang luka tak harus datang dari tindakan,
tapi dari cara seseorang berkata. Tak memukul dan tidak membentak keras. Namun atasanku adalah pribadi drama queen dan piawai playing victim.
Seiring waktu, perkataan dan hinaannya kian mengganggu tidak saja ke penilaian kinerjaku krn ia sungguh subyektif tapi juga kesehatan mentalku. Aku beberapa kali menangis karena hinaannya. Aku menangis di kamar mandi kantor, menangis saat hendak sholat bahkan aku menangis jelang tidur bila ingat ucapannya yang menyakitkan.
Hingga akhirnya aku menyerah karena tak mungkin melawan atasan. Aku berniat resign... Namun ternyata ia adalah public enemy - musuh bersama.
Saat kawan2 mengetahui aku hendak resign, mereka kompak membelaku dan melaporkan tindakan atasanku yang selalu menghina dan marah tanpa alasan yang jelas.
Hingga beberapa hari jelang pengajuan pengunduran diri, manajemen perusahaan justru mengumumkan sesuatu yang membuat aku urung untuk resign.
YA Alhamdulillah atasanku yang iri dan drama queen tersebut justru dipindahkan ke kantor cabang. Kepergian atau perpindahannya bagiku adalah hadiah paling bahagia yang memberikan ketenangan dalam bekerja.
... Baca selengkapnyaPengalaman bekerja dengan atasan yang iri dan suka memainkan drama victim bukan hal yang mudah dihadapi. Ketika seseorang di posisi atasan tidak mampu mengelola emosinya dengan baik, hal ini dapat menyebabkan suasana kerja menjadi tidak nyaman sekaligus berpotensi mengganggu kesehatan mental bawahan. Seperti cerita yang diangkat di sini, ungkapan bahwa "Ada luka yang tak terlihat, hanya terdengar" menggambarkan betapa kata-kata dan sikap atasan bisa melukai tanpa perlu kekerasan fisik.
Senyum dan kebaikan hati yang ditunjukkan oleh karyawan seringkali justru menimbulkan kecemburuan atau ketidaksukaan dari atasan yang iri, karena "bibit tumbuh" keunggulan yang dianggap mengancam posisi mereka. Oleh sebab itu, penting bagi perusahaan untuk memiliki sistem feedback yang transparan dan perlindungan bagi karyawan, agar keadaan seperti ini dapat segera ditangani sebelum menyebabkan dampak negatif lebih luas.
Selain itu, rekan kerja yang solid dapat menjadi penolong utama. Dalam cerita ini, solidaritas kawan-kawan untuk melaporkan tindakan atasan yang merugikan merupakan contoh nyata bahwa kebersamaan dan keberanian untuk bersuara dapat membuat perubahan signifikan. Manajemen pun punya peranan penting dengan mengambil keputusan menempatkan atasan ke tempat lain, memberikan ruang bagi karyawan untuk bekerja dengan tenang dan produktif.
Bagi para karyawan yang menghadapi atasan semacam ini, menebar kebaikan tetaplah langkah positif. Walau terkadang terasa sulit, menjaga integritas dan sikap profesional serta mencari dukungan sejawat bisa membantu mempertahankan kesehatan mental. Mengingat pesan "setiap kebaikan akan menuai kebaikan," optimisme dan kebaikan hati kita akan memberikan hasil baik di waktu yang tepat.
Jangan lupa juga untuk secara sadar memelihara kesehatan mental dengan cara beristirahat cukup, mengatur batasan diri, dan jika perlu konseling atau bantuan profesional lain. Lingkungan kerja ideal harus mendukung karyawan untuk berkembang tanpa tekanan berlebihan dari luar, apalagi dari atasan yang iri dan tidak profesional.
Memahami dan mengenali tanda-tanda atasannya yang "drama queen" dan sering bermain korban dapat membantu kita mempersiapkan strategi komunikasi terbaik dan menjaga jarak emosional yang sehat. Dengan cara ini, kita dapat menjaga produktivitas sekaligus kesehatan mental dalam perjalanan karier. Di atas segalanya, kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap tantangan di kantor, ada hikmah berupa kesempatan belajar dan bertumbuh.