Cinta yang Disembunyikan - KBM App
Part 4
Selesai mengurus ibunya, Anna mulai bersiap. Ia mengenakan seragam kerja berwarna maroon yang disetrika sangat lic in. Ram butnya disanggul rapi tanpa celah, bib irnya dipulas li pstik peach yang segar. Saat ia keluar dari pintu ru mah, ia sudah bukan lagi Anna si gadis gang sempit. Ia adalah Anna Lutfia, representasi keramahan ho tel bintang lima.
Akan tetapi, langkahnya terhenti saat melewati sekumpulan ibu-ibu yang sedang bela nja di tukang sayur depan gang. Bisik-bisik itu selalu ada, seperti musik latar yang tidak pernah berhenti dalam hidupnya.
“Itu si Anna, a nak si Lastri. Cantik-cantik tapi kasihan, nggak jelas bapaknya siapa,” bisik salah seorang perempuan dengan daster batik.
“Ya maklum toh, ibunya dulu juga gitu. Tiba-tiba ha mil, nggak ada suaminya. Paling juga ditinggal laki-laki karena ibunya cuma buat mainan. Da rah nggak jauh jatuh dari pohonnya,” sahut yang lain dengan nada men cemo oh.
Anna mempercepat langkah, telinganya terasa pa nas. Ia sudah terbiasa dengan stigma ‘a nak ha ram’ atau ‘a nak tanpa bapak’. Mereka tidak tahu bahwa Sulastri ibunya pernah menikah secara sah dengan ayahnya, meskipun ka win lari. Mereka tidak tahu bahwa kakek dan neneknya dari pihak ibu adalah orang-orang kolot yang tidak me res tui ayahnya yang hanya seorang peran tau mis kin. Mereka juga tidak tahu betapa han curnya ayahnya saat diu sir pak sa hingga akhirnya menyerah dan pulang ke kampung halamannya tanpa pernah kembali lagi.
Bagi lingkungan ini, keabsenan figur pria di ru mah berarti tabu. Anna tumbuh besar dengan beban itu, menanggung ma lu atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
***
Pukul 07.00 WIB, Anna sudah berdiri di lobi me gah Ho tel Grandise Jakarta. Lantainya berkilau, aroma essential oil me wah menyeruak, sangat kontras dengan bau selokan yang baru saja ia lewati.
“Selamat pagi, selamat datang di Grandise Jakarta. Ada yang bisa saya bantu, Pak?” sapa Anna dengan suara yang diatur sedemikian rupa, lembut tetapi masih terkesan tegas.
Selama delapan jam berikutnya, Anna adalah pela yan yang sempurna. Ia menangani tamu-tamu VIP yang cerewet, mengatur pesanan bunga untuk kejutan ulang tahun, hingga berdiri tegak menyambut tamu asing. Kakinya yang mengenakan high heels tujuh sentimeter mulai berde nyut nye ri setelah jam keempat. Namun senyumnya tidak boleh turun sesenti pun.
“Anna, tamu di presidential suite minta diaturkan makan malam privat di balkon jam tujuh nanti. To long koordinasikan dengan bagian food and beverage, ya,” perintah atasannya.
“Baik, Pak. Segera saya laksa nakan.”
Anna mencatat semuanya dengan cekatan. Di mata rekan-kerjanya, Anna adalah ga dis beruntung yang punya karir stabil. Mereka tidak tahu bahwa saat jam istirahat, Anna seringkali hanya minum air putih banyak-banyak untuk menggan jal pe rutnya yang lapar karena ua ng makannya ia ta bung untuk bia ya kontrol dokter ibunya.
Pukul 16.00 WIB, shift ho tel berakhir. Namun, bagi Anna, hari baru saja dimulai. Ia masuk ke ru ang loker, menghapus riasan segar GRO-nya, dan menggantinya dengan riasan yang lebih be rani. Ia melepas sanggulnya, membiarkan rambut hitamnya terurai. Ia menang galkan seragam elegannya dan mengenakan pakaian hitam simpel yang lebih kasual.
Dua jam kemudian, ia sudah berada di Sob bers. Dunia ini sangat berbeda. Jika di ho tel ia dipuja karena kesopanannya, di Sob bers ia hanyalah sebuah objek yang berge rak di antara dent um musik yang memekakkan telinga. Ia bekerja sebagai waitress paruh waktu, mengantarkan minu man dari ba r ke meja-meja tamu yang sudah mulai te ler.
Judul : Cinta yang Disembunyikan
Penulis : Parwati
Tersedia di K B M App.





























































