Bab sekian dari cerita Perjalanan Ali
“Huhhhh…”
Hembusan napas panjang terdengar jelas dari sambungan telepon, berat, dan nyaris bisa dibayangkan bentuknya. Tidak perlu melihat pun, Bu Alit tahu persis kebiasaan itu. Bah Adi pasti sedang bersandar santai, ditemani rokok favoritnya, membiarkan bara kecil di ujungnya menyala perlahan sambil menimbang kata-kata yang akan keluar.
Panggilan itu sengaja diatur ke mode pengeras suara. Maka suara napas tua itu memenuhi ruang keluarga, menggantung di udara seperti pertanda sebelum badai datang.
Tak seorang pun bergerak.
Indra duduk tegak, rahangnya mengeras tanpa ia sadari.
Aila yang berdiri di dekat sandaran kursi perlahan menurunkan tubuhnya, seolah lututnya kehilangan kekuatan.
Sunyi.
Lalu.
“Ali sudah nikah.”
Kalimat itu meluncur lugas. Tanpa pembuka. Tanpa penjelasan. Tanpa peringatan.
Seperti petir di langit cerah.
Udara di ruang keluarga mendadak terasa tipis.
Bu Alit membeku. Untuk sepersekian detik, otaknya menolak memproses apa yang baru saja ia dengar, seolah kata-kata itu menggunakan bahasa asing.
Indra adalah orang pertama yang bereaksi, bukan dengan suara, melainkan dengan tarikan napas tajam yang terdengar hampir seperti tersedak.
Aila menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Matanya membulat sempurna.
Televisi di ruang santai masih menyala, menampilkan adegan penuh tawa dari film yang tak lagi ditonton siapa pun. Ironis, karena di ruangan ini, tak ada satu pun yang merasa ingin tertawa.
Jam dinding berdetak.
Satu.
Dua.
Tiga.
Namun waktu terasa seperti berhenti.
Bu Alit akhirnya berkedip, pelan… sekali. Tangannya yang memegang ponsel sedikit bergetar, tapi suaranya belum juga keluar. Ia hanya menatap kosong ke depan, mencoba menyusun ulang dunia yang barusan berubah arah tanpa izin.
Ali.
Anaknya yang bahkan baru beberapa pekan genap tujuh belas.
Menikah.
Tanpa sepengetahuannya.
Tanpa restunya.
Tanpa satu pun tanda.
Di ujung telepon, bara rokok mungkin masih menyala tenang.
Sementara di Kota Matahari, tanpa suara ledakan, sebuah keluarga baru saja diguncang gempa yang tak terlihat.
“Bababa… pak becanda, kan?”
Suara Bu Alit pecah sebelum kalimat itu benar-benar utuh. Tangannya bergetar hebat, ponsel di genggamannya terasa jauh lebih berat dari seharusnya. Ia ingin mempercayai bahwa ini hanya lelucon buruk, guyonan yang keterlaluan.
Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu.
Bah Adi bukan tipe orang yang bercanda tentang hal sebesar ini. Tidak pernah.
Hening menjalar di antara mereka, tebal dan menekan dada.
Bu Alit menelan ludah, mencoba menolak kenyataan yang mulai merayap masuk.
Di seberang sana...
“Huhhhh…”
Napas panjang kembali terdengar. Berat. Seolah setiap hembusan membawa beban keputusan yang tak bisa ditarik kembali.
“Untuk apa bapak menyampaikan kabar yang menurutmu tidak pantas ku keluarkan, Alit.”
Suara Bah Adi rendah, datar, tapi justru itu yang membuatnya terasa semakin final.
Tak ada nada bercanda.
Tak ada celah untuk berharap ini salah dengar.
“Tapi… kenapa…” bisik Bu Alit.
Begitu pelan hingga hampir tenggelam sebelum mencapai mikrofon.
Pa Indra tak mampu menahan diri lebih lama.
Tubuhnya condong ke depan, matanya menajam, dan suaranya keluar dengan tekanan yang bergetar oleh amarah yang ditahan.
“Pak, kenapa hal sebesar ini tidak bapak bicarakan dengan kami? Kami orang tuanya. Kami berhak tahu, Pak.”
Aila tetap membisu.
Dunia di sekitarnya terasa jauh, seperti ia sedang berdiri di dasar air. Kakaknya.... sosok yang bahkan belum sempat ia temui lagi... kini sudah menjadi suami seseorang.
Kata itu terasa asing.
Menikah.
Ali?
Pikirannya belum mampu mengejar kenyataan.
“Ya.”
Jawaban Bah Adi pendek.
Tegas.
“Kalian memang orang tuanya…”
Ia berhenti sejenak. Bukan ragu, melainkan memberi ruang agar kalimat berikutnya jatuh dengan bobot penuh.
“Tapi aku yang mendidiknya.”
Skak mat.
Kalimat itu tidak diucapkan keras, namun daya hantamnya terasa seperti palu yang dijatuhkan tepat di tengah ruang keluarga. Tak seorang pun langsung menjawab.
Mereka terdiam.
Untuk sesaat, ego sebagai orang tua bertabrakan dengan satu kesadaran yang tak bisa disangkal,,, jika bukan karena Bah Adi, mungkin Ali sudah lama terseret arus hidup yang jauh lebih gelap.
Pria tua itu bukan sekadar kakek.
Ia benteng terakhir yang menjaga Ali tetap berdiri.
Namun menerima fakta itu tidak serta-merta membuat hati mereka lapang.
Keputusan menikahkan Ali tanpa sepengetahuan mereka tetap terasa seperti garis yang dilangkahi.
“Dengar.”
Suara Bah Adi kini berubah. Tegas. Tidak memberi ruang untuk bantahan yang emosional.
“Ali sebelumnya… nyaris membunuh anak orang.”
Ia menjeda ucapannya.
Bukan karena ragu, melainkan sengaja memberi waktu agar kalimat itu meresap, menghantam, lalu meledak di kepala para pendengarnya.
Reaksi datang seketika.
“Haahhh—”
Aila refleks menutup mulutnya sendiri. Matanya membesar, napasnya tercekat.
“Ka-kak… ba-bagaimana bi-sa…” bisiknya gemetar. Suaranya tipis, nyaris patah, namun masih cukup jelas terdengar melalui sambungan telepon.
Di ujung sana, nada Bah Adi melunak.
“Itukah suara cucuku yang cantik itu… Aila?”
Penyebutan nama itu mengalir hangat, kontras dengan kabar dingin yang baru saja ia lepaskan. Sejenak, ketegangan di udara seperti retak oleh kelembutan seorang kakek yang tetap mengenali darahnya, bahkan dalam situasi sepahit ini.
“Maafkan Abah ya, Aila… huuuhhhhhhh…”
Hembusan napas panjang itu terdengar jelas melalui speaker, berat, seperti udara yang dipaksa keluar dari dada yang terlalu lama menahan beban.
“Harusnya Abah…” Ia berhenti sejenak. Sunyi merambat di sela sambungan telepon.
“Harusnya Bapak kasih tahu kalian sebelumnya. Ali kini sudah bisa kalian bawa ke Kota Matahari. Hari buruk yang membelenggunya telah ia lewati. Warisan yang ia tanggung dari darah Ardana… sudah ia taklukkan. Walau tidak bisa aku ceritakan semuanya.”
Kalimat itu menggantung, sarat makna yang justru terasa lebih mengkhawatirkan karena tidak dijelaskan.
Indra menegang di kursinya.
Darah Ardana.
Nama itu bukan nama biasa di telinganya. Ada masa lalu di sana, sesuatu yang tidak pernah benar-benar mereka bicarakan, namun selalu mereka hindari dengan diam-diam.
Bu Alit menelan ludah. Jemarinya mencengkeram ujung meja hingga buku-buku jarinya memucat.
“Apa… sebenarnya yang terjadi pada anakku…” bisiknya hampir tanpa suara.
Bah Adi kembali berbicara, lebih pelan, namun setiap katanya jatuh dengan presisi yang menyakitkan.
“Untuk pernikahan Ali… setelah ia nyaris membuat anak orang mati, dia melakukan kesalahan dengan anak gadis yang telah menculiknya… dan Ali-lah yang menjadi penolongnya itu.”
Ruangan seketika terasa mengecil.
Seolah dinding-dinding bergerak mendekat.
“Apa maksudnya… melakukan kesalahan?” suara Indra akhirnya keluar, rendah namun bergetar, menahan amarah yang belum menemukan bentuk.
Bu Alit menutup mulutnya. Kali ini bukan karena terkejut, melainkan karena bayangan terburuk sudah lebih dulu muncul di kepalanya.
Aila perlahan duduk.
Kakinya mendadak lemas.
Kakaknya… menikah karena keadaan seperti itu?
Bukan karena cinta.
Bukan karena kesiapan.
Melainkan karena sebuah kejadian yang terdengar seperti badai yang datang tanpa peringatan.
Mereka tidak tahu kebenarannya.
Tak ada yang langsung berbicara setelah itu.
Hanya suara statis halus dari sambungan telepontelepon, dan napas tiga orang yang kini terasa terlalu berat untuk ruangan sebesar itu.
Lalu…
Bah Adi kembali menarik napas panjang.
Namun kali ini berbeda.
Ada sesuatu dalam cara ia menahan udara, seperti seseorang yang tahu bahwa kalimat berikutnya akan mengubah segalanya.
“Dan ada satu hal lagi yang harus kalian tahu…”
Ia berhenti.
Detik berdetak keras.
“Ali tidak melakukan kesalahan itu atas dasar paksaan. Mereka sudah terlihat saling mencintai sejak jauh hari… dan mereka menikah dengan cara siri. Jika kalian berniat membawa Ali, bawa juga istrinya, yang sekarang adalah menantu kalian. Jangan salahkan Ali… salahkan keadaan.”
Kalimat panjang itu mengalir dari seberang sambungan seperti putusan yang tak bisa ditawar.
Tidak ada nada ragu.
Tidak ada ruang untuk perdebatan.
Lalu - klik.
Panggilan berakhir.
Namun gema ucapannya masih terasa berputar di ruang keluarga itu.
Bu Alit adalah orang pertama yang bergerak.
“Pah… kita harus ke Gunung Karang, Pah.” Tangannya langsung menggenggam lengan Indra, erat, hampir memohon. Matanya basah, tapi bukan hanya karena keterkejutan, ada kerinduan yang mendadak menyeruak tanpa bisa ditahan.
“Kita harus menjemputnya… kita harus menerima takdir putra kita.”
Ia menggoyangkan tangan suaminya seperti anak kecil yang menuntut jawaban saat itu juga.
“Bapak benar… tidak perlu menyalahkan Bapak… tidak perlu menyalahkan Ali…”
Suaranya pecah. Bukan tangisan, tapi sesuatu yang lebih dalam, campuran rasa bersalah, kehilangan waktu, dan naluri seorang ibu yang akhirnya menemukan arah pulang.
Di sudut ruangan, Aila yang sedari tadi terpaku perlahan tersadar. Kabar demi kabar yang sempat menghantam batinnya seperti badai kini terasa tersapu oleh satu hal yang jauh lebih kuat:
Ali hidup.
Ali menikah.
Ali punya keluarga.
Harapan menggantikan keterkejutan.
“Iya, Pah… bener!” Aila berdiri cepat, semangatnya menyala. “Ayo kita jemput Kakak! Bawa juga Abah… biar dia nggak kesepian di kampung.”
Ruangan yang tadi terasa dingin kini perlahan menghangat oleh rencana yang belum terbentuk, namun sudah cukup untuk membuat dada mereka terasa lebih lapang.
“Huhhh…”
Indra menghembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya. Beban itu belum hilang, hanya berubah bentuk.
Putranya dikeluarkan dari sekolah.
Nyaris membunuh seseorang.
Menikah diam-diam.
Dan sekarang… ia memiliki menantu yang bahkan belum pernah mereka lihat wajahnya.
Namun di balik semua itu, ada satu kesadaran yang menembus pertahanannya sebagai seorang ayah.
Ia terlalu lama tidak berada di sisi putranya.
“Besok kita jemput mereka,” akhirnya ia berkata, suaranya berat namun mantap.
“Kita sekolahkan lagi Ali… dan istrinya itu.”
Bu Alit langsung mengangguk cepat, seolah takut keputusan itu bisa berubah jika dibiarkan terlalu lama di udara.
Aila tersenyum lebar, senyum pertama malam itu.
Untuk sesaat, masa depan tampak bisa diperbaiki.
Bisa dirapikan.
Bisa dimulai ulang.
Telepon yang masih berada di atas meja tiba-tiba bergetar pelan.
Sebuah pesan masuk.
Indra melirik sekilas.
Dari Bah Adi.
Hanya satu kalimat pendek:
“Tong poho oleh-olehnya.”
(Jangan lupa oleh-olehnya.)
Refleks, ketiganya tersenyum kecil. Kalimat itu terasa begitu khas, ringan, hangat, hampir seperti penutup dari malam yang penuh guncangan.
#Fizzo #fizzoindonesia #fypシ゚viral #RamadhanGuide #followlikecomment Lemon8_ID











































🍋 Welcome to Lemon8! 🍋 Seneng banget lihat kamu posting! 🎉 Dapatkan tips agar konten kamu makin populer dengan follow @Lemon8Indonesia! Yuk posting lebih banyak konten lainnya! 🤩