Bab sekian dari cerita Perjalanan Ali

“Huhhhh…”

Hembusan napas panjang terdengar jelas dari sambungan telepon, berat, dan nyaris bisa dibayangkan bentuknya. Tidak perlu melihat pun, Bu Alit tahu persis kebiasaan itu. Bah Adi pasti sedang bersandar santai, ditemani rokok favoritnya, membiarkan bara kecil di ujungnya menyala perlahan sambil menimbang kata-kata yang akan keluar.

Panggilan itu sengaja diatur ke mode pengeras suara. Maka suara napas tua itu memenuhi ruang keluarga, menggantung di udara seperti pertanda sebelum badai datang.

Tak seorang pun bergerak.

Indra duduk tegak, rahangnya mengeras tanpa ia sadari.

Aila yang berdiri di dekat sandaran kursi perlahan menurunkan tubuhnya, seolah lututnya kehilangan kekuatan.

Sunyi.

Lalu.

“Ali sudah nikah.”

Kalimat itu meluncur lugas. Tanpa pembuka. Tanpa penjelasan. Tanpa peringatan.

Seperti petir di langit cerah.

Udara di ruang keluarga mendadak terasa tipis.

Bu Alit membeku. Untuk sepersekian detik, otaknya menolak memproses apa yang baru saja ia dengar, seolah kata-kata itu menggunakan bahasa asing.

Indra adalah orang pertama yang bereaksi, bukan dengan suara, melainkan dengan tarikan napas tajam yang terdengar hampir seperti tersedak.

Aila menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Matanya membulat sempurna.

Televisi di ruang santai masih menyala, menampilkan adegan penuh tawa dari film yang tak lagi ditonton siapa pun. Ironis, karena di ruangan ini, tak ada satu pun yang merasa ingin tertawa.

Jam dinding berdetak.

Satu.

Dua.

Tiga.

Namun waktu terasa seperti berhenti.

Bu Alit akhirnya berkedip, pelan… sekali. Tangannya yang memegang ponsel sedikit bergetar, tapi suaranya belum juga keluar. Ia hanya menatap kosong ke depan, mencoba menyusun ulang dunia yang barusan berubah arah tanpa izin.

Ali.

Anaknya yang bahkan baru beberapa pekan genap tujuh belas.

Menikah.

Tanpa sepengetahuannya.

Tanpa restunya.

Tanpa satu pun tanda.

Di ujung telepon, bara rokok mungkin masih menyala tenang.

Sementara di Kota Matahari, tanpa suara ledakan, sebuah keluarga baru saja diguncang gempa yang tak terlihat.

“Bababa… pak becanda, kan?”

Suara Bu Alit pecah sebelum kalimat itu benar-benar utuh. Tangannya bergetar hebat, ponsel di genggamannya terasa jauh lebih berat dari seharusnya. Ia ingin mempercayai bahwa ini hanya lelucon buruk, guyonan yang keterlaluan.

Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu.

Bah Adi bukan tipe orang yang bercanda tentang hal sebesar ini. Tidak pernah.

Hening menjalar di antara mereka, tebal dan menekan dada.

Bu Alit menelan ludah, mencoba menolak kenyataan yang mulai merayap masuk.

Di seberang sana...

“Huhhhh…”

Napas panjang kembali terdengar. Berat. Seolah setiap hembusan membawa beban keputusan yang tak bisa ditarik kembali.

“Untuk apa bapak menyampaikan kabar yang menurutmu tidak pantas ku keluarkan, Alit.”

Suara Bah Adi rendah, datar, tapi justru itu yang membuatnya terasa semakin final.

Tak ada nada bercanda.

Tak ada celah untuk berharap ini salah dengar.

“Tapi… kenapa…” bisik Bu Alit.

Begitu pelan hingga hampir tenggelam sebelum mencapai mikrofon.

Pa Indra tak mampu menahan diri lebih lama.

Tubuhnya condong ke depan, matanya menajam, dan suaranya keluar dengan tekanan yang bergetar oleh amarah yang ditahan.

“Pak, kenapa hal sebesar ini tidak bapak bicarakan dengan kami? Kami orang tuanya. Kami berhak tahu, Pak.”

Aila tetap membisu.

Dunia di sekitarnya terasa jauh, seperti ia sedang berdiri di dasar air. Kakaknya.... sosok yang bahkan belum sempat ia temui lagi... kini sudah menjadi suami seseorang.

Kata itu terasa asing.

Menikah.

Ali?

Pikirannya belum mampu mengejar kenyataan.

“Ya.”

Jawaban Bah Adi pendek.

Tegas.

“Kalian memang orang tuanya…”

Ia berhenti sejenak. Bukan ragu, melainkan memberi ruang agar kalimat berikutnya jatuh dengan bobot penuh.

“Tapi aku yang mendidiknya.”

Skak mat.

Kalimat itu tidak diucapkan keras, namun daya hantamnya terasa seperti palu yang dijatuhkan tepat di tengah ruang keluarga. Tak seorang pun langsung menjawab.

Mereka terdiam.

Untuk sesaat, ego sebagai orang tua bertabrakan dengan satu kesadaran yang tak bisa disangkal,,, jika bukan karena Bah Adi, mungkin Ali sudah lama terseret arus hidup yang jauh lebih gelap.

Pria tua itu bukan sekadar kakek.

Ia benteng terakhir yang menjaga Ali tetap berdiri.

Namun menerima fakta itu tidak serta-merta membuat hati mereka lapang.

Keputusan menikahkan Ali tanpa sepengetahuan mereka tetap terasa seperti garis yang dilangkahi.

“Dengar.”

Suara Bah Adi kini berubah. Tegas. Tidak memberi ruang untuk bantahan yang emosional.

“Ali sebelumnya… nyaris membunuh anak orang.”

Ia menjeda ucapannya.

Bukan karena ragu, melainkan sengaja memberi waktu agar kalimat itu meresap, menghantam, lalu meledak di kepala para pendengarnya.

Reaksi datang seketika.

“Haahhh—”

Aila refleks menutup mulutnya sendiri. Matanya membesar, napasnya tercekat.

“Ka-kak… ba-bagaimana bi-sa…” bisiknya gemetar. Suaranya tipis, nyaris patah, namun masih cukup jelas terdengar melalui sambungan telepon.

Di ujung sana, nada Bah Adi melunak.

“Itukah suara cucuku yang cantik itu… Aila?”

Penyebutan nama itu mengalir hangat, kontras dengan kabar dingin yang baru saja ia lepaskan. Sejenak, ketegangan di udara seperti retak oleh kelembutan seorang kakek yang tetap mengenali darahnya, bahkan dalam situasi sepahit ini.

“Maafkan Abah ya, Aila… huuuhhhhhhh…”

Hembusan napas panjang itu terdengar jelas melalui speaker, berat, seperti udara yang dipaksa keluar dari dada yang terlalu lama menahan beban.

“Harusnya Abah…” Ia berhenti sejenak. Sunyi merambat di sela sambungan telepon.

“Harusnya Bapak kasih tahu kalian sebelumnya. Ali kini sudah bisa kalian bawa ke Kota Matahari. Hari buruk yang membelenggunya telah ia lewati. Warisan yang ia tanggung dari darah Ardana… sudah ia taklukkan. Walau tidak bisa aku ceritakan semuanya.”

Kalimat itu menggantung, sarat makna yang justru terasa lebih mengkhawatirkan karena tidak dijelaskan.

Indra menegang di kursinya.

Darah Ardana.

Nama itu bukan nama biasa di telinganya. Ada masa lalu di sana, sesuatu yang tidak pernah benar-benar mereka bicarakan, namun selalu mereka hindari dengan diam-diam.

Bu Alit menelan ludah. Jemarinya mencengkeram ujung meja hingga buku-buku jarinya memucat.

“Apa… sebenarnya yang terjadi pada anakku…” bisiknya hampir tanpa suara.

Bah Adi kembali berbicara, lebih pelan, namun setiap katanya jatuh dengan presisi yang menyakitkan.

“Untuk pernikahan Ali… setelah ia nyaris membuat anak orang mati, dia melakukan kesalahan dengan anak gadis yang telah menculiknya… dan Ali-lah yang menjadi penolongnya itu.”

Ruangan seketika terasa mengecil.

Seolah dinding-dinding bergerak mendekat.

“Apa maksudnya… melakukan kesalahan?” suara Indra akhirnya keluar, rendah namun bergetar, menahan amarah yang belum menemukan bentuk.

Bu Alit menutup mulutnya. Kali ini bukan karena terkejut, melainkan karena bayangan terburuk sudah lebih dulu muncul di kepalanya.

Aila perlahan duduk.

Kakinya mendadak lemas.

Kakaknya… menikah karena keadaan seperti itu?

Bukan karena cinta.

Bukan karena kesiapan.

Melainkan karena sebuah kejadian yang terdengar seperti badai yang datang tanpa peringatan.

Mereka tidak tahu kebenarannya.

Tak ada yang langsung berbicara setelah itu.

Hanya suara statis halus dari sambungan telepontelepon, dan napas tiga orang yang kini terasa terlalu berat untuk ruangan sebesar itu.

Lalu…

Bah Adi kembali menarik napas panjang.

Namun kali ini berbeda.

Ada sesuatu dalam cara ia menahan udara, seperti seseorang yang tahu bahwa kalimat berikutnya akan mengubah segalanya.

“Dan ada satu hal lagi yang harus kalian tahu…”

Ia berhenti.

Detik berdetak keras.

“Ali tidak melakukan kesalahan itu atas dasar paksaan. Mereka sudah terlihat saling mencintai sejak jauh hari… dan mereka menikah dengan cara siri. Jika kalian berniat membawa Ali, bawa juga istrinya, yang sekarang adalah menantu kalian. Jangan salahkan Ali… salahkan keadaan.”

Kalimat panjang itu mengalir dari seberang sambungan seperti putusan yang tak bisa ditawar.

Tidak ada nada ragu.

Tidak ada ruang untuk perdebatan.

Lalu - klik.

Panggilan berakhir.

Namun gema ucapannya masih terasa berputar di ruang keluarga itu.

Bu Alit adalah orang pertama yang bergerak.

“Pah… kita harus ke Gunung Karang, Pah.” Tangannya langsung menggenggam lengan Indra, erat, hampir memohon. Matanya basah, tapi bukan hanya karena keterkejutan, ada kerinduan yang mendadak menyeruak tanpa bisa ditahan.

“Kita harus menjemputnya… kita harus menerima takdir putra kita.”

Ia menggoyangkan tangan suaminya seperti anak kecil yang menuntut jawaban saat itu juga.

“Bapak benar… tidak perlu menyalahkan Bapak… tidak perlu menyalahkan Ali…”

Suaranya pecah. Bukan tangisan, tapi sesuatu yang lebih dalam, campuran rasa bersalah, kehilangan waktu, dan naluri seorang ibu yang akhirnya menemukan arah pulang.

Di sudut ruangan, Aila yang sedari tadi terpaku perlahan tersadar. Kabar demi kabar yang sempat menghantam batinnya seperti badai kini terasa tersapu oleh satu hal yang jauh lebih kuat:

Ali hidup.

Ali menikah.

Ali punya keluarga.

Harapan menggantikan keterkejutan.

“Iya, Pah… bener!” Aila berdiri cepat, semangatnya menyala. “Ayo kita jemput Kakak! Bawa juga Abah… biar dia nggak kesepian di kampung.”

Ruangan yang tadi terasa dingin kini perlahan menghangat oleh rencana yang belum terbentuk, namun sudah cukup untuk membuat dada mereka terasa lebih lapang.

“Huhhh…”

Indra menghembuskan napas panjang sambil memijat pelipisnya. Beban itu belum hilang, hanya berubah bentuk.

Putranya dikeluarkan dari sekolah.

Nyaris membunuh seseorang.

Menikah diam-diam.

Dan sekarang… ia memiliki menantu yang bahkan belum pernah mereka lihat wajahnya.

Namun di balik semua itu, ada satu kesadaran yang menembus pertahanannya sebagai seorang ayah.

Ia terlalu lama tidak berada di sisi putranya.

“Besok kita jemput mereka,” akhirnya ia berkata, suaranya berat namun mantap.

“Kita sekolahkan lagi Ali… dan istrinya itu.”

Bu Alit langsung mengangguk cepat, seolah takut keputusan itu bisa berubah jika dibiarkan terlalu lama di udara.

Aila tersenyum lebar, senyum pertama malam itu.

Untuk sesaat, masa depan tampak bisa diperbaiki.

Bisa dirapikan.

Bisa dimulai ulang.

Telepon yang masih berada di atas meja tiba-tiba bergetar pelan.

Sebuah pesan masuk.

Indra melirik sekilas.

Dari Bah Adi.

Hanya satu kalimat pendek:

“Tong poho oleh-olehnya.”

(Jangan lupa oleh-olehnya.)

Refleks, ketiganya tersenyum kecil. Kalimat itu terasa begitu khas, ringan, hangat, hampir seperti penutup dari malam yang penuh guncangan.​

#Fizzo #fizzoindonesia #fypシ゚viral #RamadhanGuide #followlikecomment Lemon8_ID

2/9 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMembaca cerita tentang perjalanan Ali membuat saya teringat pada pentingnya komunikasi dan pengertian dalam keluarga, terutama saat menghadapi kejadian-kejadian yang tidak terduga. Situasi seperti yang dialami Ali, yakni menikah secara siri di usia muda akibat kondisi sulit, memang tidak mudah diterima oleh orang tua maupun anggota keluarga lainnya. Dari pengalaman saya, seperti juga yang dialami oleh keluarga Ali, konflik batin sering kali muncul terlebih jika keputusan besar diambil tanpa melibatkan semua pihak terkait. Dalam keluarga saya, pernah terjadi peristiwa di mana seorang anggota mengambil keputusan penting tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan orang tua, menyebabkan kesalahpahaman dan kesedihan yang mendalam. Namun, yang saya pelajari adalah bahwa keterbukaan dan usaha untuk saling memahami situasi dan alasan di balik keputusan tersebut sangat krusial agar hubungan tetap harmonis. Sama dengan kisah Ali, ketika Bah Adi memberi kabar yang mengejutkan, meskipun membuat suasana menjadi tegang, hal itu menjadi titik awal untuk membuka dialog dan kesempatan menerima keadaan baru. Hal lain yang menarik dari cerita ini adalah penekanan pada peran Bah Adi sebagai sosok yang membimbing dan mendidik Ali, menunjukkan bahwa kadang peran pengasuhan bisa datang dari figur selain orang tua langsung. Ini menjadi pelajaran bahwa pentingnya dukungan dari berbagai pihak dalam membentuk masa depan anak, terlebih saat masa lalu mereka penuh cobaan seperti yang digambarkan dengan istilah "darah Ardana" yang menyiratkan beban sejarah keluarga. Menurut saya, cerita ini juga memperlihatkan bagaimana sebuah keluarga menghadapi keterkejutan dan perlahan berusaha mencari jalan untuk memperbaiki keadaan bersama. Sikap Bu Alit, Indra, dan Aila yang akhirnya sepakat untuk menjemput Ali dan istrinya, serta melanjutkan sekolah Ali, semakin menekankan arti penerimaan dan harapan baru. Ini mengingatkan kita semua bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memulai ulang dan membangun masa depan yang lebih baik, meskipun dengan cara yang mungkin berbeda dari ekspektasi awal. Keberadaan pesan "Tong poho oleh-olehnya" di akhir cerita terasa sangat menyentuh dan humanis, sebagai pengingat bahwa di tengah masalah besar sekalipun, ada kehangatan dan perhatian kecil yang menguatkan ikatan keluarga. Secara keseluruhan, kisah perjalanan Ali ini mengajarkan banyak hal tentang dinamika keluarga, konflik, cinta, dan penerimaan. Bagi pembaca yang pernah atau sedang mengalami situasi serupa, kisah ini bisa menjadi inspirasi untuk tidak menyerah dan terus berusaha memperbaiki hubungan dan nasib bersama.

1 komentar

Gambar Lemon8_ID
Lemon8_ID

🍋 Welcome to Lemon8! 🍋 Seneng banget lihat kamu posting! 🎉 Dapatkan tips agar konten kamu makin populer dengan follow @Lemon8Indonesia! Yuk posting lebih banyak konten lainnya! 🤩

Posting terkait

Perjalanan Hidup Ali bin Abi Thalib — Dari Masa
menceritakan perjalanan Ali — dari pemuda pertama yang beriman, hingga panglima perang yang tak pernah mundur. Daya tariknya bukan hanya pedang… tapi akhlak dan kecintaan pada kebenaran. #yfp #fylemon8
Maung Bodas utama

Maung Bodas utama

14 suka

PERJALANANKU:DARI RAGU MENJADI BERANI BUAT NULIS
#MyJourney Siapa sangka, aku yang dulu cuma pembaca setia, akhirnya memberanikan diri buat nulis ceritaku sendiri. 🥺 Jujur? Deg-degannya luar biasa banget! Takut salah ketik, takut gak lolos, takut tulisannya jelek. Tapi rasa bangganya lebih besar! 😆💪 Nulis gak semudah bayangan, lho! Harus m
Handayani

Handayani

29 suka

Kolase enam gambar menampilkan berbagai kreator Lemon8 dan jenis konten mereka, seperti konten bucin, rekap kegiatan, kreator inspiratif, perjalanan ngonten, review gaya, dan tips ngonten, dengan judul besar #Lemon8Family.
Rayakan perjalanan & perasaanmu #Lemon8Family ✨
Halooo semua #Lemon8Family ! Bukan cuma soal ngonten, tapi juga soal berbagi perjalanan dan perasaan kita bareng-bareng 💛 Yuk, rayakan semua cerita positif—dari kebucinan sama Lemon8, momen seru bareng tim, sampai tips ngonten—supaya kita bisa saling support sebagai satu keluarga! 🍋🤝 Kit
Lemon8_ID

Lemon8_ID

162 suka

MENYAPA DUNIA DARI BALIK PERJALANAN
#CeritaLebaran #RamadhanGuide #MomenBerharga #mukbangasmr #mukbangindonesia
andra.famo

andra.famo

0 suka

cerita perjalanan jualan dari rumah ala housewife
jadi awalnya aku cuma niat jualan dessert box aja, buat isi waktu luangku pas hamil adek limabulan tahun lalu dan ya mumpung lagi dikampung. alhamdulilah laku keras di kalangan anak-anak sekolah sama temen kerjaanku dulu waktu masih kerja di garmen, terus seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya
ummahnya mahatma ☘️

ummahnya mahatma ☘️

7 suka

Gambar menunjukkan seorang wanita berhijab duduk di sofa dengan tulisan besar "Pengalaman di 2025 Dari Konten Biasa Sampai Akhirnya bikin rekap gini...." di atasnya, menandai awal rekap perjalanan kontennya.
Gambar menampilkan "Rekap Impresi" dengan cuplikan konten-konten awal pengguna di Lemon8, menunjukkan jumlah tayangan (views) seperti 15,9rb, 33rb, 44,7rb, dan 18,7rb, serta refleksi tentang konten fyp pertama dan kedua.
Gambar menyajikan grid berisi sembilan cuplikan konten dengan berbagai topik seperti "GLOW UP", "Marketing", "ILMU MARAH", "Tipe HUTANG", "Journaling", dan "Parfum Indomaret", menunjukkan jumlah tayangan yang bervariasi.
Rekap perjalanan ngontenku di 2025💐
Sebenernya maju mundur mau sharing ini, takut bgt dikira pamer. Tapi akhirnya aku memberanikan diri karena aku rasa ada yg perlu aku sampaikan disini🤍 2025 bukan tahun yg mudah, tp juga bukan hal yg selalu sulit. Seneng rasanya bisa sharing pengalaman yg kita rasain, yg kita pikirin, yg kita sim
𝙍𝙯𝙖𝙝𝙧𝙭

𝙍𝙯𝙖𝙝𝙧𝙭

14 suka

Cerita kecil dari perjalanan iman kami
Ketika itu saya sedang mengalami masalah dan merasa cukup berat menjalani hari. Pasangan saya berkata, “Coba sebelum berangkat kerja, doakan ini.” Dia hanya mengingatkan saya untuk menyerahkan hari itu kepada Tuhan lewat doa sederhana. Sejak itu setiap pagi sebelum keluar rumah, saya be
yohannaavs

yohannaavs

1 suka

📸Share perjalanan ngontenmu di #MyJourney ✨
Kamu gak harus jadi creator besar dulu kok buat bikin konten 🙌 Justru proses belajar, struggle, dan progress kecilmu itu bisa jadi konten yang relate banget 💛 Yukk share perjalanan kamu jadi content creator! ✨ Gak harus aesthetic ✨ Gak harus jago edit ✨ Yang penting mulai posting dulu aj
Lemon8 Bahas Uang

Lemon8 Bahas Uang

72 suka

Kolase empat gambar makanan yang dipanggang: donat, kue mangkuk buah, kue kering segitiga, dan kue mangkuk cokelat. Teks utama berbunyi "IRT Belajar Baking Otodidak BEGINi CARAKU" dengan panah menunjuk ke bawah.
Beberapa kue mangkuk cokelat kukus dalam wadah kertas. Teks menjelaskan bahwa penulis mulai belajar baking tahun 2018 karena anaknya suka makanan bule, dan hanya membuat versi kukus atau goreng karena peralatan terbatas.
Tumpukan pancake dengan taburan gula halus dan krim di atas piring hitam. Teks menyatakan bahwa selain dikukus dan digoreng, bisa juga menggunakan teflon untuk membuat pancake, martabak manis, dan pizza teflon.
Begini perjalanan ku belajar baking otodidak ✨🥰
Hai, Lily disini! Kata siapa baking itu cuma bisa dilakukan orang yang sekolah khusus baking? Enggak juga kok. Contohnya aku. Aku cuma bocah ingusan yang nekad nikah muda trus belajar masak dari nol lewat HP doang. Tentu ilmuku masih cetek banget dibanding yang sekolah boga yaa. Jelas lah. 🤣
💎ᏞเᥣᥡᏴɾเᥣเᥲᥒเꫀ

💎ᏞเᥣᥡᏴɾเᥣเᥲᥒเꫀ

84 suka

Seorang wanita berhijab duduk di atas tikar kotak-kotak, dikelilingi berbagai barang seperti tas, teko, camilan, buah, dan beberapa sertifikat, merayakan satu tahun ngonten di Lemon8.
Seorang wanita berhijab menikmati waktu minum teh di kafe merah muda dengan kue dan minuman, bersama boneka beruang, mengungkapkan keinginannya untuk merchandise Lemon8.
Seorang wanita berhijab duduk di atas tikar kotak-kotak, menikmati waktu minum teh dengan merchandise dan hadiah Lemon8, merayakan satu tahun ngonten secara nyata.
Perjalanan 1 Tahun Ngonten Di Lemon🥰💕‼️
Hai Lemonade🌷 🌿Alhamdulillah, listrik di daerah aku udah hidup kembali. Mulai besok aku bakal rutin posting lagi ya💕 🌸Oh ya, Tepat hari ini, tanggal 29 November 2025, aku resmi udah konsisten ngonten 1 tahun. Aku mulai ngonten di lemon tahun lalu, tgl 29 November 2024. 💐Hari ini aku pengen
Pah 🎀 🦢𐙚˚.ᡣ𐭩

Pah 🎀 🦢𐙚˚.ᡣ𐭩

104 suka

Gambar ini menampilkan perbandingan profil Lemon8 @nputri58, menunjukkan pertumbuhan dari 0 pengikut menjadi 787 pengikut dan 28.6rb suka & simpan. Teks di atas berbunyi 'Cerita Perjalanan genZ di Lemon Dari 0 Followers Sampai Sekarang', menggambarkan perjalanan konten kreator.
Cerita Perjalanan Ngonten di Lemon8 🍋✨
Dulu aku cuma coba-coba upload konten, follower? ya pasti masih 0 lah😭 Tapi yaudahlah,tetap dicoba aja walaupun ragu sama diri sendiri. Tapi,lama-lama aku ngerasa,perjalanan kecil ini berarti banget buat aku💛 Belajar bikin konten,berani tampil ap adanya,sampai akhirnya bangga sama diri sendir
Putri Kalsuma

Putri Kalsuma

16 suka

setiap perjalanan ada hikmah...
saat traveling lakukan kegiatan diluar kebiasaan kurangi gadget dan perhatikan sekitar dalam perjalanan... akan terasa hikmah dari semuanya. #MyJourney #gjrsan #SelfReminder #Lemon8ID
Gjrsan inspire

Gjrsan inspire

0 suka

#Cerita Perjalanan Sendiri
"Aku dulu sering begadang cuma buat scroll tiktok 5 menit..tau tau udah jam 3 pagi ajj😂" Besok nya bangun rasa nya dah kaya zombie Ternyata kebiasaan kecil seperti itu ngaruh banget ke energi & fokus aku seharian..Jadi saat ini aku mulai benahi diri dari hal yang kecil dulu..kamu juga
Reetha Sagala

Reetha Sagala

16 suka

Gambar kolase menunjukkan dua struk pembelian emas, seorang wanita tersenyum, dan emas batangan. Teks utama menyatakan perjalanan menabung 100 juta pertama dari 2019-2026 dengan konsistensi.
Seorang wanita berhijab hijau tersenyum, dengan teks menjelaskan riwayat pekerjaannya sejak 2014 dan gaji awal yang rendah sebelum mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil pada 2016.
Struk pembelian emas dari tahun 2019, dengan teks yang menjelaskan awal mula menabung dan membeli emas sejak 2018, serta harga emas 5 gram pada waktu itu.
PERJALANAN NABUNG 100JT PERTAMAKU✨ DARI 2019 ✨💸💵
Nabung Itu kalau bisa banyak lebih baik..tapi kalau Gk bisa ya Ya dikit2 lama2 jadi bukit bukan begitu mak..dikepala 3 bisa menyentuh angka 100 jg itu pencapaian bagiku yg hanya IRT Sejak 2019 waktu aku dpt kerjaan mapan aku mulai nabung..Aku jg tetep bantu ortu dan Saudara2ku..Tapi aku memutus
Yasa Star

Yasa Star

117 suka

Perjalanan selalu punya cerita
View favorit setiap kali terbang ✈️☁️ #lemon8indonesia #AkuPernah #Lemon8
Lisheea

Lisheea

0 suka

Seorang wanita muda berhijab dan berkacamata mengenakan seragam silat hitam, tersenyum ke kamera. Teks overlay menyatakan 'Rate 100/10 Tetep Maksa Jadi Coach Silat Meski Sering Dibilang GAK PANTES!'.
Wanita muda berhijab dan berkacamata dalam seragam silat tersenyum. Teks overlay menjelaskan bahwa ia adalah asisten pelatih dan coach silat meskipun sering diremehkan karena fisiknya, dan ia menekuni silat sejak SMA.
Wanita muda berhijab dan berkacamata dalam seragam silat tersenyum. Teks overlay mencantumkan keuntungan menjadi asisten pelatih dan coach silat, seperti menambah relasi, pengalaman, semangat, uang jajan, dan lebih dihargai.
Rate 100/10 Untuk Perjalananku Jadi Coach Silat🥊
Hai Lemonades!🍋🍒🧚‍♂️ Aku mau cerita sedikit tentang Hobi aku yang super seru! Kenapa Aku bisa jadi Coach dan Asisten Silat? Sejujurnya Aku pun gak tau😭😅 Aku emang dari SMA menekuni Beladiri silat ini, tapi statusnya masi atlet biasa. Dulu sempet berhenti silat, alhasil banyak materi yang kele
Ratnaa⋆🩷⋆𐙚˚

Ratnaa⋆🩷⋆𐙚˚

42 suka

Setiap Perjalanan Punya Cerita
Tidak hanya datang untuk melihat tempatnya, tapi juga menikmati setiap momennya. Cuaca cerah, suasana tenang, dan perjalanan yang menyenangkan. Kadang dari perjalanan sederhana, kita membawa pulang banyak cerita. #jalanjalan #Wisata #ceritaperjalanan #healing #lemon8indonesia
Vely-smile

Vely-smile

0 suka

Kisah 40 Tahun Perjalanan di Padang Gurun: Dari Perbudakan Menuju Janji part 1
Secara geografis, perjalanan dari Mesir ke tanah Kanaan sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10-11 hari berjalan kaki. Namun, Tuhan tidak menuntun mereka melalui jalan yang dekat ke negeri orang Filistin. Firman Tuhan: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi pep
Gani Kurniawan

Gani Kurniawan

2 suka

Seorang wanita berhijab hitam tersenyum, dengan teks 'Perjalananku Hilangkan Malu karena Gigi Berantakan' dan tiga foto kecil yang menunjukkan kondisi gigi sebelum dan sesudah perawatan.
Foto close-up mulut yang menunjukkan kondisi gigi atas yang renggang dan tidak rata pada Februari 2024, sebelum memulai perawatan aligner.
Dua foto close-up mulut berdampingan, menunjukkan perbandingan gigi sebelum perawatan (kiri) dan setelah proses merapikan gigi (kanan) dari Februari hingga September 2024.
Perjalanan Merapikan Gigi dengan Rata -No Endorse-
A Journey with Rata: Review Jujur jadi Pasien Aligner Rata Hai, Gaes. Kali ini saya mau sharing pengalaman sebagai salah satu pasien Rata yang belakangan booming dengan aligner-nya. Bagi saya sebenarnya malu baru memutuskan untuk merapikan gigi di usia yang matang (Baca: menolak tua). S
Deasy Rafianty

Deasy Rafianty

15 suka

Gambar ini menampilkan judul "Kumpulan Do'a PERJALANAN MUDIK" dengan ilustrasi mobil kartun di atas jalan raya saat senja, menunjukkan suasana perjalanan mudik yang lancar dan selamat.
Gambar ini menunjukkan tangan memegang gerbang rumah, disertai teks doa keluar rumah dalam bahasa Arab dan artinya, "Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah".
Gambar ini menampilkan seorang anak kecil di dalam mobil, dengan teks doa naik kendaraan dalam bahasa Arab dan artinya, "Maha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami...".
KUMPULAN DO'A UNTUK PERJALANAN MUDIK ✅WAJIB SAVE‼️
Halo Kawan Lemon 🍋👋🏻 🚗Masyaallah udah pada mudik ya? Semoga lancar dan selamat sampai kampung halaman ya Lemoners. Supaya makin tenang perjalanannya, wajib berdoa sebelum berangkat mudik mulai dari keluar rumah, naik kendaraan, dan selama di perjalanan. Insyaallah hati lebih tenang, perjal
Julliana Nuning

Julliana Nuning

6 suka

Lihat lainnya