Pernah tidak, kamu merasa sedang berjalan… tapi tidak benar-benar tahu ke mana arahmu?
Di tengah kesibukan, target, dan harapan orang lain, kadang kita lupa bertanya pada diri sendiri: “Apa sebenarnya yang membuatku hidup terasa bermakna?”
Dari sinilah aku mulai mengenal konsep —sebuah cara sederhana namun dalam untuk memahami tujuan hidup. Bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang menemukan titik temu antara apa yang kita cintai, apa yang kita kuasai, apa yang dunia butuhkan, dan apa yang bisa menopang kehidupan kita.
Melalui konten ini, aku ingin mengajak kamu berjalan perlahan… mengenal diri, memahami arah, dan mungkin—menemukan makna yang selama ini kamu cari.
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang sampai di tujuan, tapi tentang menemukan alasan untuk tetap melangkah dengan hati yang penuh.
... Baca selengkapnyaJujur, pertama kali dengar kata "Ikigai" aku cuma mikir ini konsep Jepang yang aesthetic aja. Tapi setelah pelan-pelan baca dan coba praktek, ternyata ikigai bisa banget ditempel ke kehidupan sehari-hari, bahkan ke kota tempat kita tinggal—misalnya Manado.
Kalau kamu tinggal di Manado atau pernah ke sana, kamu pasti notice kalau kota ini kaya banget: budaya, kuliner, pariwisata, laut, sampai keramahtamahan orang-orangnya. Nah, di sinilah aku mulai mikir, gimana caranya ikigai nyambung sama realitas hidup di Manado.
Komponen pertama: "Apa yang kamu sukai (What You Love)". Di Manado, banyak banget orang yang suka masak, diving, foto-foto sunset di Boulevard, atau sekadar nongkrong sambil ngopi. Dulu aku suka banget desain grafis dan nulis. Awalnya cuma jadi hobi, bikin poster gereja, edit foto teman, atau nulis refleksi pribadi. Tapi aku catat semua hal kecil yang bikin aku “senang” itu, karena dalam ikigai, hal-hal sederhana adalah petunjuk penting.
Komponen kedua: "Apa yang kamu kuasai (What You Are Good At)". Aku mulai jujur ke diri sendiri: aku nggak jago semua hal, tapi ada beberapa skill yang lumayan, seperti desain dan public speaking. Di Manado, aku lihat banyak teman yang jago masak makanan khas, ada yang pintar mengajar anak-anak, ada yang ahli fotografi underwater. Ikigai mengajak kita untuk nggak meremehkan kemampuan yang kelihatan remeh, karena justru itu bisa jadi awal tujuan hidup.
Lalu komponen ketiga: "Apa yang dibutuhkan dunia (What The World Needs)". "Dunia" di sini nggak harus global; bisa dimulai dari lingkungan sekitar. Manado butuh orang yang peduli lingkungan laut, butuh konten kreator yang bisa promosi wisata dengan cara yang bertanggung jawab, butuh guru dan mentor buat anak muda, dan butuh komunitas yang saling dukung. Waktu aku sadar kalau skill desain dan nulis bisa dipakai untuk kampanye soal edukasi atau promosi lokal yang positif, rasanya aku mulai melihat benang merah ikigai-ku.
Komponen keempat: "Apa yang bisa menghasilkan uang (What You Can Be Paid For)". Ini biasanya bagian paling bikin galau. Kita mungkin suka menggambar, jago ngomong, atau senang mengajar, tapi gimana caranya itu bisa jadi pemasukan? Di Manado, aku lihat banyak contoh nyata: orang yang suka foto laut jadi fotografer wisata, yang suka masak jadi pemilik warung atau kafe, yang suka desain jadi ilustrator atau social media specialist. Dari sini aku belajar, kadang kita perlu kreatif sedikit untuk mengemas passion jadi profesi.
Ketika keempat lingkaran itu mulai ketemu—yang kamu sukai, yang kamu kuasai, yang dibutuhkan sekitar, dan yang bisa dibayar—di situlah muncul "Ikigai". Contohnya, kalau kamu suka menggambar, jago menggambar, turis dan pelaku usaha di Manado butuh ilustrasi dan konten, dan kamu bisa dibayar untuk desain logo atau poster wisata, maka karier sebagai ilustrator/seniman digital bisa jadi ikigai-mu.
Yang paling aku rasakan dari belajar ikigai adalah: hidup jadi terasa lebih terarah, tapi tanpa tekanan harus langsung "sukses". Ikigai bukan cuma soal pekerjaan, tapi tentang melakukan sesuatu yang kita cintai, kita kuasai, bermanfaat buat orang lain, dan tetap bisa menopang hidup.
Kalau kamu lagi merasa jalan tanpa arah, coba tulis empat lingkaran ikigai versi kamu, sambil lihat potensi yang ada di kotamu—entah itu Manado atau di mana pun kamu tinggal. Pelan-pelan aja, nggak harus langsung ketemu. Kadang ikigai muncul dari hal-hal kecil yang selama ini kita anggap biasa.