Datomudo Fadli
Setiap pagi saat bangun tidur dan setiap malam sebelum tidur, bacalah afirmasi untuk diri sendiri. Awali dengan membaca “Bismillah” dan akhiri dengan “Amin.”
Aku berharga, aku pantas dicintai, dan aku layak bahagia.
Aku penuh harapan, penuh cinta, dan penuh semangat hidup.
Aku tidak menyerah, aku terus berjuang, dan aku akan berhasil.
Aku sabar, aku ikhlas, dan aku percaya setiap luka akan sembuh.
Aku mampu melewati segala ujian karena aku diciptakan untuk kuat.
Aku selalu belajar dari masa lalu dan melangkah dengan bijak ke depan.
Aku semakin tenang, semakin kuat, dan semakin dewasa setiap harinya.
Aku berkembang, aku bangkit, aku menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.
Aku bersinar, aku menebarkan kebaikan, dan aku menarik cinta yang tulus.
Aku membebaskan diri dari kesedihan, aku membuka pintu untuk kebahagiaan baru.
Kadang, rasa rindu itu rasanya sesak banget. Rindu pada ibu, keluarga, atau seseorang yang sudah jauh. Dulu setiap dengar lagu bertema rindu seperti “ibu aku rindu” atau lirik “peluk aku sekarang”, aku selalu nangis karena merasa sendirian. Tapi belakangan ini aku mulai belajar: kalau nggak ada yang bisa memeluk kita saat itu, kita bisa belajar memeluk diri sendiri lewat afirmasi. Biasanya, aku mulai dari jujur sama perasaanku sendiri. Misalnya, saat kangen ibu tapi nggak bisa ketemu, aku duduk sebentar, tarik napas dalam, lalu bilang ke diri sendiri: “Aku rindu, dan itu wajar. Aku tetap berharga meski sedang merasa kosong.” Dari situ, aku lanjut dengan kalimat-kalimat afirmasi seperti di tulisan ini: aku berharga, aku pantas dicintai, aku layak bahagia. Ternyata, ketika diulang pelan-pelan, rasanya seperti ada pelukan halus ke hati sendiri. Supaya lebih terasa, aku punya kebiasaan baca afirmasi di depan cermin. Setiap pagi saat bangun tidur dan setiap malam sebelum tidur, aku menatap wajah sendiri dan berkata lirih, seolah-olah lagi menyanyikan lirik penguat hati: “Aku tidak menyerah, aku terus berjuang, dan aku akan berhasil.” Lama-lama, kalimat itu nggak cuma seperti kata-kata kosong, tapi jadi pengingat bahwa aku memang pernah kuat, dan bisa kuat lagi. Kalau kamu sering mencari lirik lagu yang menyentuh seperti “peluk aku sekarang” atau lagu bernuansa daerah seperti lirik lagu warok temanggung untuk menemani rasa sepi, kamu juga bisa kombinasikan musik itu dengan afirmasi. Caranya, putar lagu yang bikin kamu merasa dekat dengan rumah atau dengan sosok yang kamu rindukan, lalu sambil dengar, ucapkan: “Aku penuh harapan, penuh cinta, dan penuh semangat hidup.” Rasanya seperti ada koneksi antara kenangan, musik, dan harapan baru. Satu hal yang penting: afirmasi bukan berarti menolak rasa sakit. Justru aku belajar untuk mengakui luka itu dulu, baru pelan-pelan menyembuhkan. Saat hati patah atau habis bertengkar dengan orang tua, aku biasanya bilang ke diri sendiri: “Aku sabar, aku ikhlas, dan aku percaya setiap luka akan sembuh.” Kalimat ini membantu aku untuk nggak terjebak di marah dan kecewa terus-terusan. Perlahan, aku merasa semakin tenang, semakin kuat, dan semakin dewasa setiap harinya. Rasa rindu ke ibu, keluarga, atau kampung halaman mungkin nggak hilang sepenuhnya, tapi berubah jadi energi untuk membuat hidup lebih baik. Setiap kali aku kangen, aku jadikan itu sebagai alasan untuk berkembang, bangkit, dan jadi versi terbaik dari diriku sendiri. Kalau kamu yang baca ini sedang rindu seseorang atau sedang merasa butuh dipeluk, coba sempatkan satu-dua menit hari ini untuk memeluk dirimu sendiri. Ucapkan dengan lembut: “Aku bersinar, aku menebarkan kebaikan, dan aku menarik cinta yang tulus. Aku membebaskan diri dari kesedihan, aku membuka pintu untuk kebahagiaan baru.” Pelukan mungkin nggak langsung datang dari orang lain, tapi kamu bisa mulai dari pelukan kecil yang kamu kasih ke dirimu sendiri.





















































