Datomudo Fadli
Di usia yang hampir menginjak kepala manusia ini, aku sudah malas berdebat.
Biarlah—dia orang baik, aku orang jahat. Dia malaikat aku iblis.
Sudah gitu saja.
Memasuki usia matang, saya mulai merasakan betapa pentingnya menerima perbedaan tanpa harus selalu berdebat atau memaksakan pendapat saya. Sebagai seseorang yang pernah sangat aktif dalam diskusi dan perdebatan, saya menyadari bahwa tidak semua hal harus diperjuangkan secara keras. Kadang, membiarkan perbedaan itu ada dan menerima keberadaan orang lain dengan segala karakter mereka justru membawa kedamaian batin. Ungkapan sederhana "Biarlah—dia orang baik, aku orang jahat. Dia malaikat, aku iblis" bagi saya bukan hanya metafora, tetapi adalah cara untuk memahami bahwa dunia ini penuh warna dan keberagaman sifat manusia. Tidak perlu semua orang selalu sepakat atau terlihat sempurna menurut standar kita. Dengan berhenti berdebat, saya juga belajar untuk fokus pada hal-hal yang lebih produktif dan menenangkan jiwa. Pengalaman ini sangat relevan bagi generasi muda yang sering kali terjebak dalam banyak perdebatan yang tidak berujung dan melelahkan. Kadang, hal terbaik adalah memberi ruang bagi perbedaan dan memilih berdamai dengan ketidaksempurnaan. Renungan seperti ini membantu saya untuk terus bersyukur dan menjalani hidup dengan lebih ringan. Semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang sedang berjuang dalam memahami arti ikhlas dan menerima diri sendiri serta orang lain.
























































