sebagai anak rantau, betapa banyak pengalaman hidup yang kita dapatkan, sebagai contoh kita bisa menjadi pribadi yang lebih mandiri, lebih peka terhadap sosial karena jauh dari keluarga, lebih selektif sama pengeluaran, bebas berekspresi (ngga sampe menyalahi norma dan agama) dan masih banyakkk lagii
dengan merantau kita jadi menghargai setiap waktu, kita tau apa arti rindu sama orang tua dan keluarga juga bestie tercintaa
tapi tapi tapi hal yg paling bikin trauma balik itu omongan² saudara dan tetangga yang template bgtt deh, di umur yg udh memasuki medium well mmg untuk masyarakat desa aku bisa dikatakan perawan tua -jahattt bgttt, ditakut²in keburu kiamat atau takut kena resiko kehamilan,, nauzubillah
belum lagiii suka nanya² pencapaian dan banding²in sama orang² yg seumuran dan dia terlihat pencapaiannyaa, huaaa
sedangkan kalau kita merantau di kota,
punya temen² yang senasib seperjuangan, bukan sosok calon suami yang sering kita bicarakan, tapi gimana kita kedepannya, planning apa untuk mencapai karir brilian, selalu saling support dalam setiap pengembangan diri, seakan berbanding terbalik cara memperlakukan pada diri ini huhu
untuk para anak rantau, jangan bener² pulang ke kampung halaman sebelum kamu siap dalam hal apapun okee!!
... Baca selengkapnyaSebagai anak perantauan, ada banyak banget kata-kata yang cuma kita yang paham maknanya. Hidup di perantauan itu bukan cuma soal jauh dari keluarga, tapi juga proses jadi versi diri yang lebih kuat, meski kadang dipaksa kuat sama keadaan.
Salah satu hal yang bikin aku betah di perantauan adalah suasana yang lebih "lega". Di kota, orang jarang nanyain hal-hal pribadi kayak "kapan nikah", "kerja apa sekarang", atau bandingin kamu sama anak tetangga yang udah mapan. Teman-teman sesama anak rantau lebih sering bahas gimana caranya survive, nabung, cari kerjaan lebih baik, atau nyusun rencana masa depan. Kata-kata yang sering muncul di obrolan kami lebih ke motivasi: "pelan tapi pasti", "nggak apa-apa capek, yang penting nggak nyerah".
Hidup di perantauan juga ngajarin aku buat lebih selektif dalam pergaulan dan pengeluaran. Dulu aku gampang banget ikut-ikutan, sekarang jadi mikir dua kali sebelum beli atau hangout. Ada kalimat yang sering aku ucapin ke diri sendiri: "lihat saldo dulu, baru ikut nongki". Kedengarannya receh, tapi buat anak rantau, ini bentuk sayang sama diri sendiri dan masa depan.
Di sisi lain, ada beban moral sebagai anak rantau: tuntutan pulang harus sudah sukses. Tulisan di gambar "pulang harus udah sukses" bener-bener relate. Kadang aku mikir, kalau pulang nanti dan belum punya apa-apa, siap nggak dengar komentar saudara atau tetangga? Dari situ muncul motivasi yang tiap hari aku pegang: "aku berjuang di sini bukan cuma buat diri sendiri, tapi juga buat banggain orang rumah".
Buat kamu yang lagi nyari kata-kata hidup di perantauan, mungkin bisa relate dengan ini: "perantauan ngajarin rindu, tapi juga kasih ruang buat bertumbuh". Jauh dari kampung halaman bikin kita ngerti arti pulang, tapi juga bikin kita sadar kalau proses yang sekarang dijalani itu penting. Nggak apa-apa kalau belum sampai di titik sukses versi orang lain, yang penting kamu terus bergerak.
Kalau kamu anak perantauan yang sering ditanyain "kapan balik" atau "kapan nikah", coba ingat: hidup kamu, kamu yang jalanin. Pulang kampung boleh banget, tapi pastikan kamu pulang dalam kondisi mental yang siap, bukan karena terpaksa. Selama di perantauan, nikmatin tiap proses: belajar mandiri, bangun jaringan pertemanan, dan pelan-pelan wujudkan rencana kariermu. Pada akhirnya, kata-kata anak perantauan yang paling kuat adalah: "aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri".
kadang banyak yang gamau pulang gara gara ini ya kak. dulu aku juga gitu wkwk