Day 3 #RunMadhan26
Ada kepuasan tersendiri di hari ketiga ini. Fokus 5K kali ini murni menjaga Heart Rate agar tetap terkontrol.
Dengan pace rata-rata 7:16/km, aku fokus membangun base yang solid—hasilnya 54% waktu lari aman berada di Zona 2.
Malam ini juga menerapkan strategi negative split. Mulai dengan pace santai di kilometer awal sebagai pemanasan, lalu bertahap naik hingga menyentuh 5:56/km di kilometer terakhir.
Lari di bulan Ramadan ternyata bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tapi seberapa baik kita mengenali ritme tubuh setelah seharian berpuasa.
• Distance: 5,01 km
• Avg HR: 152 bpm (Solid & Sustainable!)
• Moving Time: 36:23
Minggu ke-28 konsistensi masih terjaga. Jangan biarkan streak putus.
Berlari saat berpuasa di bulan Ramadan memang menantang, tapi sekaligus memberi kesempatan untuk lebih mengenali kondisi tubuh kita. Dari pengalaman pribadi, menjaga detak jantung di kisaran 152 bpm sangat membantu membuat lari tetap nyaman dan terkontrol, terutama saat menjauhi overexertion setelah puasa seharian. Metode negative split yang dilakukan di mana pace dimulai santai di kilometer awal, lalu meningkat secara bertahap, ternyata sangat efektif untuk memaksimalkan stamina dan performa. Pendekatan ini juga meningkatkan mental fokus karena tidak langsung memforsir tenaga. Zona 2, yang merupakan zona intensitas sedang, menjadi sangat penting. Berada 54% waktu dalam zona ini memberi manfaat pembangunan daya tahan yang solid tanpa menimbulkan kelelahan berlebih. Ini kunci melatih tubuh agar lebih efisien mengolah oksigen (VO2 Max) sekaligus menjaga kebugaran secara berkelanjutan. Selain itu, menggunakan aplikasi seperti Strava sangat membantu dalam memantau detak jantung, pace, dan progres lari secara real-time. Dengan data lengkap seperti kenaikan elevasi, rata-rata kecepatan, dan denyut jantung, kita dapat menyesuaikan latihan agar tetap optimal selama Ramadan. Menjaga konsistensi latihan, seperti streak lari mingguan selama 28 minggu, memberikan kepuasan tersendiri dan memperlihatkan bahwa tubuh mampu beradaptasi dengan baik, meski dalam kondisi berpuasa. Jadi, fokus bukan pada kecepatan semata, tapi pada pemahaman ritme tubuh, sehingga berlari tetap aman, efektif, dan menyenangkan.















































