Day 10 #RunMadhan26
Akhirnya untuk pertama kalinya aku bisa finish 21K sampai selesai. Sebelumnya aku cuma mentok di 15km, itu pun dengan zona pace yang berantakan. Setelah dua bulan coba push latihan buat mencapai target ini, rasanya melegakan banget.
Tadi aku bener-bener ngerasain 'Hitting the Wall'; kaki sudah capek luar biasa dan mental diuji antara mau menyerah atau lanjut, padahal sisa jarak tinggal 30% lagi. Untungnya, aku coba buat lawan ego dan milih tetap stabil di zona pace 1 & 2, lalu ditutup dengan jalan kaki 1km untuk recovery.
Meskipun sekarang kaki capek banget, setidaknya rasa penasaranku buat namatin jarak ini sudah terobati. Next, targetku adalah memperbaiki waktu dengan performa yang lebih stabil dan terus improve.
Menuntaskan lari sejauh 21 km untuk pertama kali memang bukan hal yang mudah, apalagi jika sebelumnya hanya mampu sampai 15 km dengan pace yang tidak stabil. Saya ingin berbagi pengalaman personal dalam latihan khusus menuju target ini yang mungkin bisa membantu pelari lain dengan tantangan serupa. Pertama, sangat penting untuk konsisten dalam menjalani latihan. Biasanya saya melakukan latihan inti dengan fokus pada peningkatan jarak dan kestabilan pace selama dua bulan terakhir. Saya mengatur jadwal latihan agar tubuh punya waktu istirahat cukup untuk pemulihan, sehingga saat hari lomba atau latihan panjang, stamina dapat maksimal. Dalam pelaksanaan, saat tubuh mulai merasa lelah terutama di sekitar 70% jarak, fenomena 'Hitting the Wall' bisa sangat menguji mental. Di momen ini, saya memilih untuk menahan ego tidak terlalu memaksa kecepatan, justru menjaga zona pace 1 dan 2 yang berarti kecepatan relatif stabil dan tidak berlebihan. Strategi ini membantu menghindari kelelahan berlebih dan menjaga otot tetap bekerja efisien. Selain itu, saya tambahkan sesi recovery aktif berupa jalan kaki 1 km di akhir lari. Ini sangat membantu proses pemulihan otot serta mencegah cedera akibat kelelahan otot terlalu berat. Bagi yang berlatih dengan alat seperti Strava, memonitor split time dan pace zones bisa jadi panduan real-time untuk menjaga ritme lari agar tidak terlalu cepat atau lambat. Setelah berhasil menyelesaikan 21K, tantangan berikutnya ialah memperbaiki waktu dan meningkatkan kestabilan performa di setiap sesi lari. Target jangka panjang saya adalah meningkatkan endurance dan kecepatan sambil meminimalisasi risiko cedera dengan pemanasan dan pendinginan yang benar. Saya sangat merekomendasikan teman-teman pelari untuk mencatat kemajuan latihan di aplikasi atau jurnal latihan. Hal tersebut bisa memberikan gambaran nyata perkembangan dan motivasi untuk terus berlatih. Jadi, jangan takut untuk coba push diri tapi juga jangan abaikan sinyal tubuh supaya tetap sehat dan bugar.















































