batasan itu penting
Dalam kehidupan sehari-hari, menetapkan batasan pribadi merupakan hal yang sangat penting, terutama untuk menjaga keseimbangan emosi dan hubungan sosial yang sehat. Saya pernah merasakan betapa stresnya menjadi seseorang yang selalu berusaha memenuhi harapan semua orang tanpa menjaga batasan diri sendiri. Seiring waktu, saya belajar untuk mengatakan 'tidak' pada beberapa hal yang sebenarnya tidak saya prioritaskan atau tidak diminta dari saya. Misalnya, saya dulu merasa sulit untuk tidak ikut campur dalam urusan orang lain, bahkan saat mereka tidak ingin dilibatkan. Namun, setelah belajar dari pengalaman, saya mencoba untuk menetapkan batasan seperti "jangan ikut campur" dan "jangan umbar saran" ketika saya menyadari ini justru membuat suasana menjadi tidak nyaman dan kadang melukai perasaan. Hal ini juga mengajarkan saya untuk tidak 'kepoh' soal hal-hal yang bukan urusan saya dan menghormati privasi orang lain. Menetapkan batasan seperti "tidak didengarkan jangan lanjut bicara" juga membantu saya dalam komunikasi, sebab saya jadi paham kapan waktu yang tepat untuk berbicara dan kapan harus mendengarkan. Begitu pun dengan konsep "tidak diprioritaskan jangan memprioritaskan" yang mengingatkan saya bahwa penting untuk memfokuskan energi dan perhatian pada hal-hal yang memang penting dan berharga saja. Dari pengalaman di Ambon City Center (ACC), saya melihat banyak orang yang juga melakukan hal serupa demi mengurangi tekanan sosial dan menjaga ketenangan hati. Saat kita menghargai batasan orang lain, kita pun akan belajar untuk lebih tenang dan rela menerima keadaan tanpa harus memaksakan kehendak. Secara keseluruhan, menetapkan batasan bukan hanya soal membatasi diri atau orang lain, tetapi lebih kepada membangun ruang aman bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Dengan batasan yang jelas, kita jadi lebih bebas mengekspresikan diri tanpa rasa bersalah dan mampu menjaga hubungan tetap harmonis tanpa merasa terbebani.




































































