semoga diterima segala amal baiknya, diampuni semua dosa"nya,
diberi tempat disisi allah yg paling mulia,
2025/8/16 Diedit ke
... Baca selengkapnyaBelakangan ini aku sering kepikiran satu kalimat: kematian adalah nasehat terbaik. Apalagi setelah dengar berita wafatnya Mpok Alpa dan bayi-bayi kembarnya, rasanya hati langsung ke-rem, kaya diingetin kalau hidup ini sebentar banget.
Ada satu hadits yang kurang lebih maknanya, orang yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Dulu aku baca hadits ini sekilas aja, tapi setelah ada kabar duka seperti ini, maknanya kerasa lebih dalam. Bukan buat nakut-nakutin, tapi justru sebagai pengingat lembut dari Allah supaya kita nggak kebablasan sama dunia.
Pas lihat foto Mpok yang lagi senyum pakai kerudung, lalu disandingkan dengan potret beliau saat sakit, plus bayi-bayi kembar yang masih kecil banget di bawahnya, aku jadi sadar: semuanya bisa Allah ambil kapan saja, bahkan yang paling kita sayang. Nggak peduli kita lagi sehat, lagi sibuk kerja, atau lagi ngerencanain masa depan, kalau waktunya pulang ya pulang.
Buat aku pribadi, mengingat kematian itu jadi cara untuk ngerem diri:
- Biar lebih hati-hati sama dosa kecil yang sering dianggap sepele
- Biar lebih semangat ngejar amal baik, walau cuma hal sederhana kayak senyum, bantu orang tua, atau sedekah sedikit-sedikit
- Biar nggak terlalu over mikirin omongan orang, karena ujungnya kita bakal sendirian di hadapan Allah
Aku juga lagi belajar buat biasain beberapa hal kecil:
- Baca doa sebelum tidur sambil ingat bisa jadi itu malam terakhir
- Sering istighfar, terutama habis marah atau habis ngelakuin hal yang nggak bermanfaat
- Niatin setiap aktivitas harian jadi ibadah, misalnya kerja buat nafkah halal, bantu keluarga, dan lain-lain
Wafatnya Mpok dan anak-anak kembarnya jadi tamparan lembut buat kita semua. Mereka sudah lebih dulu pulang, semoga dalam keadaan husnul khatimah, amal baik diterima, dosa diampuni, dan ditempatkan di sisi Allah yang paling mulia. Tinggal sekarang kita tanya ke diri sendiri: kalau ajal datang, kita sudah siap atau belum?
Bukan berarti setelah ingat kematian kita jadi sedih terus, tapi justru supaya hidup lebih bermakna. Lebih sayang keluarga, lebih jaga lisan, dan lebih sering bilang maaf dan terima kasih. Karena bisa jadi, pertemuan yang menurut kita biasa aja, ternyata itu terakhir kalinya.
Semoga kita semua dikasih husnul khatimah, dijauhkan dari su’ul khatimah, dan dimampukan buat memperbaiki diri selagi masih dikasih kesempatan hidup.