Separuh ✨
Pas pertama kali baca kalimat, "separuh dari etika adalah tidak ikut campur urusan orang, dan separuh dari kebijaksanaan adalah diam", jujur aku sempat mikir: emang harus sejauh itu ya nggak ikut campur dan diam aja? Tapi makin ke sini, aku ngerasa kutipan ini tuh relevan banget sama kehidupan kita sehari-hari, apalagi di zaman media sosial. Aku sering banget lihat orang ribut di kolom komentar, bahas aib orang, atau sotoy tentang masalah rumah tangga orang lain hanya karena lihat potongan video. Padahal, kalau dipikir-pikir, itu sama sekali bukan urusan kita. Dari situ aku belajar, mungkin ini maksud dari "separuh dari etika adalah tidak ikut campur urusan orang". Etika di sini bukan cuma soal sopan santun ngomong, tapi juga kemampuan menahan diri buat tidak masuk ke ranah pribadi orang lain tanpa diminta. Contoh simpelnya, ketika ada teman yang lagi kelihatan sedih tapi dia belum cerita apa-apa. Dulu aku tipe yang kepo banget, langsung tanya detail: "Kenapa? Berantem sama siapa? Emang dia ngomong apa?" Sekarang aku lebih milih nanya pelan-pelan: "Kalau mau cerita, aku ada kok," lalu berhenti sampai di situ. Kalau dia siap, dia bakal cerita sendiri. Kalau nggak, ya kita hormati. Di situ aku ngerasain sendiri bedanya: ternyata nggak ikut campur secara berlebihan juga bentuk sayang dan respect. Lalu soal "separuh dari kebijaksanaan itu adalah diam". Diam di sini menurutku bukan berarti pasif dan nggak punya pendapat, tapi tahu kapan harus bicara dan kapan harus tahan diri. Ada momen-momen tertentu di mana komentar kita nggak akan menambah kebaikan apa-apa, malah bisa bikin situasi makin runyam. Misalnya, ketika lagi ada saudara yang emosi dan cerita sambil marah-marah. Dulu aku sering buru-buru ngasih nasihat, menggurui, atau membandingkan dengan masalah orang lain. Akhirnya, dia malah ngerasa nggak didengar. Sekarang aku mencoba latihan diam dulu: dengar sampai selesai, baru kasih tanggapan kalau diminta. Ternyata, sering kali yang orang butuhkan itu bukan jawaban, tapi didengarkan. Di dunia kerja pun sama. Nggak semua gosip kantor harus kita ikuti. Ada hal-hal yang lebih baik diabaikan demi menjaga hati sendiri dan suasana tim. Diam dan tidak ikut nimbrung di obrolan yang menjatuhkan orang lain ternyata bikin hidup lebih tenang. Kita jadi nggak kebawa benci, nggak ikut menilai orang yang bahkan belum tentu kita kenal dekat. Bukan berarti kita harus selalu diam dan cuek. Kalau menyangkut hal yang salah secara jelas, seperti ketidakadilan atau kekerasan, kita tetap punya tanggung jawab buat speak up. Tapi di luar situasi-situasi itu, kutipan tentang etika dan diam ini bisa jadi pengingat: tidak semua yang kita lihat harus kita komentari, dan tidak semua yang kita tahu harus kita sebarkan. Buat aku pribadi, mempraktikkan "tidak ikut campur pada apa yang bukan urusan kita" dan belajar "diam" itu proses panjang. Masih sering khilaf ikut komentar, masih kadang kepo. Tapi setiap kali ingat kalimat ini, rasanya kayak ditampar halus: fokus perbaiki diri dulu, bukan hidup orang lain. Dari situ pelan-pelan aku belajar, mungkin inilah salah satu bentuk kebijaksanaan yang sederhana, tapi dampaknya besar buat hati dan hubungan kita dengan orang lain.



































Lihat komentar lainnya