Jujur, dulu aku sempat salah paham soal ini. Aku pikir, selama niatnya baik atau sekadar hiburan, muslimah joget di media sosial itu sah-sah saja. Tapi setelah aku ulik lagi penjelasannya (salah satunya dari Buya Yahya), ternyata Islam nggak se-abu-abu itu.
Ada batasan yang sangat jelas. Islam sangat menjaga kehormatan wanita, bukan untuk dipertontonkan didepan umum & bukan mahram apalagi jika:
1. Menampakkan lekuk tubuh (Aurat).
2. Mengundang pandangan yang tidak semestinya.
3. Memicu syahwat pria non-mahram.
Bahkan, miris banget pas tahu kalau orang tua yang membiarkan anak perempuannya menari untuk ditonton publik juga bisa ikut menanggung dosanya.
Tapi, Islam itu indah! Menari bukan dilarang total. Kalau di depan suami? Malah dianjurkan didepan suami, di depan sesama wanita pun boleh, asal tetap menjaga batasan aurat dan tidak menyerupai hal yang dilarang.
Islam tidak mematikan seni, tapi mengarahkannya agar kita tetap bermartabat sebagai muslimah.
Setelah tahu batasannya begini, kalau menurut kalian, apakah konten joget yang sering lewat di timeline kita sekarang itu sudah kebablasan soal aurat, atau menurut kalian itu masih dalam batas wajar "hiburan" aja? Coba dong share pendapat kalian di bawah!
... Baca selengkapnyaJujur, aku dulu termasuk yang cuek soal dosa tidak menutup aurat. Rasanya biasa aja pakai baju agak ketat atau jilbab yang masih kelihatan lekuk tubuh, apalagi kalau niatnya buat konten lucu atau joget di media sosial. Tapi setelah sering lihat pembahasan tentang dosa jariyah wanita, aku mulai mikir ulang.
Yang bikin ngeri dari dosa jariyah adalah: dosanya nggak berhenti saat kita selesai upload. Selama konten aurat yang kita tampilkan masih ditonton, dishare, atau bikin orang lain tergoda, pahala dosa itu terus mengalir ke kita. Jadi kalau ada video joget yang menampakkan aurat, mengundang pandangan tidak semestinya, dan memicu syahwat pria non-mahram, dampaknya bukan cuma sekali.
Aku sempat baca penjelasan bahwa dosa tidak menutup aurat bukan cuma soal jilbab ada atau tidak, tapi juga soal bagaimana pakaian itu menutupi tubuh. Banyak muslimah yang merasa sudah berhijab, tapi bajunya transparan, ketat, atau dipakai untuk menarik perhatian di depan bukan mahram. Di situ letak bahayanya: kita nggak cuma menanggung dosa sendiri, tapi bisa jadi penyebab orang lain berdosa juga.
Pelan-pelan aku mulai evaluasi akun media sosial aku. Konten mana yang bisa termasuk membuka aurat, foto mana yang terlalu menonjolkan tubuh, atau video mana yang vibes-nya lebih ke mengundang pandangan daripada sekadar berbagi kebahagiaan. Rasanya berat, apalagi kalau sudah terlanjur punya banyak konten seperti itu. Tapi kalau ingat risiko dosa jariyah wanita, aku merasa lebih tenang setelah mulai hapus dan merapikan.
Buat yang masih bingung, menurutku langkah sederhana yang bisa kita lakukan:
1. Cek lagi standar aurat: bukan cuma rambut, tapi juga lekuk tubuh dan cara kita bergerak di depan kamera.
2. Tanyakan ke diri sendiri: kalau konten ini ditonton pria non-mahram, apakah bisa mengundang pandangan yang tidak semestinya?
3. Kalau ragu, lebih baik pilih aman. Islam nggak anti seni, tapi mengarahkan supaya tetap menjaga kehormatan.
Aku pribadi sekarang lebih milih share hal-hal yang netral: tips hijab, review buku, atau cerita keseharian tanpa perlu joget atau gaya yang berpotensi membuka aurat. Rasanya lebih ringan di hati, karena nggak was-was lagi soal dosa tidak menutup aurat atau jadi sumber dosa jariyah.
Kalau kamu pernah punya pengalaman serupa, atau justru lagi bergulat dengan dilema konten di medsos, boleh banget share cerita kamu. Siapa tahu dari saling cerita dan mengingatkan, kita bisa sama-sama jaga diri dari dosa yang efeknya panjang ini.
Astagfirullahal'adzhim betul kak 🥺 semoga Allah jauhkan kita dari hal² yang tidak baik yah kak 🥺