Setuju Gak Kak,Anak SD Angkut MBG Jauh dan Naik Tangga ?
Haaaiii 🤗 assalamu'alaikum teman-2 🍋 💙
Sedih banget waktu lihat berita ini Kak... 🥺
Di Nias Selatan, anak-anak SD harus jalan kaki naik tangga curam sejauh 300 meter sambil mikul tumpukan ompreng Makan Bergizi Gratis (MBG). Niat hati pengen mereka makan bergizi biar makin semangat belajar, tapi di lapangan malah anak-anak kecil ini yang dijadiin "kurir logistik".
Satu sisi, gigih dan gotong royong mereka bikin haru. Tapi di sisi lain, hati nurani kita miris banget. Tugas seberat ini harusnya jadi tanggung jawab petugas distributor atau relawan, bukan anak-anak SD yang pundaknya belum siap menanggung beban seberat itu.
Rasanya relate banget sama prinsip kehidupan sehari-hari kita ya Kak, di mana kita diingatin untuk gak ngasih beban melebihi kemampuan seseorang. Seperti firman Allah SWT:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Semoga sistem distribusi program MBG ini bisa segera dievaluasi total ya Kak, biar anak/adik kita fokus belajar dan menikmati haknya tanpa perlu kerja keras angkut ompreng lagi! 🤲✨
Menurut Kakak, langkah nyata apa yang paling cepat harus dilakuin pihak penyelenggara biar kejadian seperti ini gak terulang lagi di pelosok lain? Boleh share pendapat Kakak di kolom komentar ya! 💬👇
... Baca selengkapnyaPengalaman pribadi saya mengenai distribusi bantuan di daerah pelosok mengajarkan bahwa tantangan logistik sering kali menjadi beban tambahan bagi masyarakat kecil, terutama anak-anak. Melihat anak SD di Nias Selatan harus mengangkut ompreng MBG naik tangga sejauh 300 meter sungguh menyayat hati dan memicu keprihatinan.
Dalam beberapa kesempatan, saya pernah menyaksikan langsung bagaimana anak-anak di daerah terpencil harus membantu mengangkut barang bantuan karena minimnya tenaga relawan atau petugas distribusi. Kondisi ini seringkali disebabkan oleh keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia yang memadai.
Penting bagi penyelenggara program MBG untuk segera mengevaluasi sistem distribusi agar anak-anak tidak lagi terbebani tugas berat yang bukan kewajiban mereka. Misalnya, melibatkan lebih banyak relawan lokal, menyediakan transportasi bantuan yang sesuai, atau memanfaatkan teknologi sederhana seperti gerobak dorong untuk mengurangi beban anak-anak.
Selain itu, edukasi pada masyarakat sekitar tentang pentingnya bergotong royong juga dapat membantu meringankan beban distribusi. Saya percaya bahwa setiap anak harus punya kesempatan belajar dan menikmati makanan bergizi tanpa harus merasakan kelelahan yang berlebihan.
Melalui pengalaman ini, saya mengajak pembaca untuk peduli dan memberikan masukan konstruktif agar program seperti MBG benar-benar memberikan manfaat optimal tanpa efek samping pada kesejahteraan anak-anak. Semoga dengan langkah nyata dari berbagai pihak, situasi ini dapat berubah menjadi lebih baik.
Mengutip QS. Al-Baqarah: 286 bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya, mari kita pastikan beban distribusi MBG juga disesuaikan dengan kemampuan para penerimanya, khususnya anak-anak yang seharusnya fokus pada pendidikan dan pertumbuhan mereka.
hanya sepotong foto, kita tdk tau sebenarnya seperti apa. mungkin anak"nya yg ingin bantu saking senangnya dpt MBG