... Baca selengkapnyaSebagai IRT yang pernah ngerasain sendiri punya mertua bhaiq, aku jadi makin kepikiran juga sama cerita teman-teman yang merasa mertuanya jahat atau kurang adil. Apalagi buat yang muslim, pasti kepikiran: gimana sih cara menghadapi mertua jahat menurut Islam, tapi tetap nurut sama suami dan nggak bikin masalah baru?
Dari yang aku pelajari dan denger dari ustazah maupun kajian online, poin pertama adalah tetap jaga akhlak. Sekesal apa pun sama mertua, Islam ngajarin kita untuk tetap sopan, nggak kasar, dan nggak membalas kejahatan dengan kejahatan. Sama seperti ketika menghadapi mertua baik, kita diminta menjaga sopan santun, hanya bedanya di sini tantangannya lebih besar. Jadi, kalau mertua ngomongnya nyelekit, kita usahakan jawab pelan, seperlunya, dan nggak nambah drama.
Poin kedua, banyak-banyak curhat sama Allah. Jangan cuma curhat ke teman atau media sosial. Salat malam, baca doa, minta dikuatin hati dan dilembutkan hati mertua. Di Islam, doa menantu untuk keluarga itu besar banget pahalanya, selama doanya baik. Kadang kita nggak bisa ubah sifat seseorang, tapi kita bisa minta Allah yang ubah situasinya.
Poin ketiga, hormati posisi mertua sebagai orang tua, tapi tetap pasang batas sehat. Menghadapi mertua baik saja ada caranya, apalagi kalau yang dirasa jahat. Misalnya, kalau mertua sering mengkritik, kita boleh kok ambil jarak seperlunya: kurangi intensitas pertemuan, batasi topik pembicaraan yang sensitif, tapi tetap sapa dan jaga tata krama. Ini bukan durhaka, tapi menjaga diri supaya nggak meledak dan malah jadi dosa.
Keempat, komunikasi pelan-pelan dengan suami. Dalam Islam, suami tetap pemimpin rumah tangga, jadi penting banget ada di satu tim sama dia. Ceritakan perasaan tanpa nyalahin, misalnya: "Aku sedih kalau diperlakukan begini, gimana kalau kita coba cara lain?" Dengan begitu, suami bisa jadi penengah antara kita dan orang tuanya.
Kelima, bedakan antara mertua yang benar-benar dzolim dan yang hanya beda karakter. Kadang kita merasa mertua jahat, padahal sebenarnya cuma cara bicara yang keras atau gaya didik zaman dulu. Kalau masih bisa ditoleransi, banyak-banyak latihan sabar. Tapi kalau sudah sampai kekerasan atau merusak rumah tangga, jangan ragu cari bantuan pihak ketiga yang dipercaya, misalnya ustaz/ustazah, konselor, atau orang tua kandung.
Terakhir, jangan banding-bandingkan. Punya mertua baik itu rezeki, dan menghadapi mertua yang terasa jahat juga bisa jadi ujian untuk naik level sabar. Kebaikan itu harus dijaga, bukan dimanfaatkan, baik saat kita berhadapan dengan mertua yang bhaiq maupun yang sulit. Yang penting, kita tetap berusaha jadi menantu yang berakhlak, tanpa mengorbankan kesehatan mental dan keutuhan rumah tangga.
🥰🍋👍👍