... Baca selengkapnyaKalau dipikir-pikir, jadi IRT itu bukan cuma urus rumah, tapi juga jadi ‘menteri keuangan’ keluarga. Saldo ATM dan uang tunai di dompet berasa cepet banget habis, padahal kita ngerasa udah ngirit maksimal. Dari sini aku mulai coba evaluasi pelan-pelan, sebenarnya uang ini larinya ke mana sih?
Pertama, aku sekarang lebih hati-hati banget kalau lihat tulisan promo di kios atau minimarket. Dulu, tiap lihat tulisan DISKON langsung kalap, apalagi kalau belanja di kios yang katanya lebih murah dari supermarket. Setelah dicatat, ternyata banyak barang diskonan yang kubeli itu bukan kebutuhan utama, cuma karena takut kehabisan atau FOMO. Akhirnya malah numpuk di rumah dan beberapa kedaluwarsa. Sekarang, tiap mampir ke kios aku bawa list belanja di HP, dan berusaha keras cuma ambil yang ada di list.
Hal lain yang aku rasain banget adalah soal barang murah. Contohnya jam tangan digital murah, peralatan dapur, sampai piring dan mangkuk. Awalnya senang karena merasa hemat, tapi karena kualitasnya kurang, cepat rusak dan harus beli lagi. Kalau ditotal, jatuhnya lebih mahal dibanding beli satu barang yang kualitasnya oke sejak awal. Jadi sekarang aku bedain mana yang boleh beli murah (seperti kantong sampah, tisu, dll.) dan mana yang harus sedikit ‘invest’ (panci, pisau dapur, peralatan sering dipakai).
Belanja sayur dan buah juga sama. Aku pernah beberapa kali belanja banyak di pasar karena harganya lebih murah, apalagi kalau beli sepaket. Di hari pertama sampai ketiga sih aman, tapi masuk hari keempat, sayur mulai layu, buah mulai busuk. Berakhir di tempat sampah, dan itu rasanya kayak buang uang. Sekarang aku pilih belanja lebih sedikit tapi sering, misalnya dua hari sekali. Kelihatannya lebih capek, tapi malah lebih hemat karena hampir nggak ada yang terbuang.
Soal langganan aplikasi juga cukup mengagetkan. Satu aplikasi cuma belasan ribu per bulan kelihatan kecil, tapi kalau dijumlah: streaming film, musik, penyimpanan cloud, aplikasi belajar anak, dan lain-lain, bisa tembus ratusan ribu tiap bulan. Aku sempat duduk bareng suami, cek satu-satu di mutasi ATM dan SMS banking, habis itu mutusin aplikasi mana yang benar-benar dipakai dan mana yang bisa di-stop.
Terakhir, aku juga belajar jangan terlalu sering menunda beli barang penting yang benar-benar dibutuhkan rumah. Misalnya peralatan dapur yang sudah rusak, atau benda yang membahayakan kalau terus dipakai. Dulu suka mikir, “nanti saja deh, sayang uangnya”, tapi ternyata akibatnya bisa bikin pengeluaran lain jadi membengkak.
Intinya, sekarang tiap mau mengeluarkan uang, aku selalu tanya ke diri sendiri: ini karena butuh atau cuma karena kelihatan hemat dan pengin aja? Pelan-pelan, kebiasaan kecil ini lumayan bantu supaya saldo ATM nggak cepat hilang begitu saja. Buibu ada yang sering belanja ke kios atau pasar dan ngerasa sama juga nggak?
bener kak, setuju...nyari barang diskon tp ternyata nga awet ato nga begitu perlu , malah boncos