Aku IRT 30+ anak satu yang ingin berbagi cerita dan pengalaman kecil.
Kebiasaan kita para IRT jadiin baju bekas jadi lap/keset. Apalagi kalau udah Nemu kaos belel, daster bolong, atau handuk jelek. Berasa Nemu harta Karun ya 😅. Karena emang se-enak itu pakai baju bekas buat lap.
Tapi karena denger itu bisa bikin jadi miskin seketika langsung patah hati 💔.
Tenang ya Buibu !! itu semua hanya mitos, karena:
~ Tidak ada hubungannya dengan kemiskinan
~ Memanfaatkan baju bekas tidak mubazir
~ Tidak ada larangan syariat
Hanya saja caranya yang harus kita ubah. lagian kalau jadiin baju bekas langsung jadi lap atau keset kan penampakannya juga gak bagus ya. Kita lihat baju atau celana yang pernah kita sayang dan kita pakai akhirnya terbengkalai jadi benda yang kotor dan menjijikkan.
Jadi ada baiknya kita ubah dulu bentuk nya dari pakaian jadi sehelai kain. Kalau aku selain di potong2 jadi beberapa bagian, biasanya bagian2 yang tebal seperti kerah, karet, atau resleting aku buang dulu. Dan untuk kancing aku copot tapi di simpan bisa untuk stok kancing kalau ada baju yang kancing nya lepas.
Menurut Buibu gimana nih ? pernah dengar mitos ini juga ??
... Baca selengkapnyaSebagai seorang IRT yang sering memanfaatkan baju bekas sebagai lap atau keset, saya ingin berbagi pengalaman seputar hal ini. Sering kali saya mendengar anggapan bahwa menggunakan baju bekas untuk lap atau keset adalah pertanda akan membawa kemiskinan, sebuah mitos yang cukup membuat saya ragu pada awalnya. Namun setelah mencari tahu lebih jauh, saya menyadari bahwa yang sebenarnya penting adalah bagaimana kita memperlakukan barang tersebut.
Menurut filosofi hidup hemat yang saya pelajari, cara kita memperlakukan barang adalah cerminan bagaimana kita memperlakukan rezeki. Baju, meski sudah tidak layak dipakai, masih memiliki nilai jika kita menggunakannya dengan cara yang tepat. Misalnya, memotong baju menjadi potongan-potongan kain, membuang bagian yang tidak nyaman seperti karet dan resleting, serta melepas kancing untuk disimpan sebagai cadangan.
Triknya adalah mengubah identitas baju bekas menjadi kain yang fungsional. Dengan cara ini, barang tersebut sudah tidak lagi terlihat sebagai pakaian, sehingga tidak menimbulkan kesan kotor atau tidak senonoh saat digunakan sebagai lap. Pengalaman saya, potongan kain ini sangat efektif untuk membersihkan rumah tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan membeli lap baru.
Selain itu, kebiasaan ini membantu mengurangi sampah serta mendukung prinsip zero waste dalam rumah tangga. Saya juga merasa lebih menghargai barang karena tidak langsung membuang sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan. Ini juga mengajarkan pada anak saya tentang pentingnya menjaga dan menggunakan barang dengan bijak.
Jadi, memanfaatkan baju bekas sebagai lap atau keset bukanlah hal yang negatif dan tentu saja tidak akan membawa kemiskinan. Yang terpenting adalah mindset kita saat menggunakannya. Jangan sampai terjadi pola pikir "murah dan buang" yang dapat merefleksikan cara kita mengelola keuangan secara boros. Semoga pengalaman saya ini bisa membantu banyak Buibu agar lebih bijak dan hemat dalam mengelola rumah tangga, tanpa harus terjebak dalam mitos yang tidak berdasar.
Lihat komentar lainnya