Perhitungan THR keagamaan bagi pekerja harian menurut PP 35 Tahun 2021 adalah:
- *Masa Kerja ≥ 1 bulan secara terus-menerus*: 1 bulan upah
- *Masa Kerja < 1 bulan secara terus-menerus*: (Masa Kerja / 12) x 1 bulan upah
- *Pekerja harian*: (Total upah dalam 1 bulan terakhir / jumlah hari kerja dalam 1 bulan) x jumlah hari kerja yang berhak atas THR
Contoh:
- Pekerja harian dengan upah Rp 100.000/hari, bekerja 20 hari dalam 1 bulan
- THR: Rp 100.000 x 20 hari = Rp 2.000.000 (jika masa kerja ≥ 1 bulan)
- THR: (Rp 100.000 x 10 hari / 12) x jumlah hari kerja yang berhak atas THR (jika masa kerja < 1 bulan)
Dasar hukum: Pasal 3 PP No. 36 Tahun 2021 dan Pasal 15 PP No. 35 Tahun 2021.
Sebagai pekerja harian, memahami cara menghitung THR sangat penting agar hak kita terpenuhi dengan baik saat momen Lebaran tiba. Berdasarkan PP 35 Tahun 2021, perhitungan THR bagi pekerja harian cukup berbeda dibandingkan dengan pekerja bulanan biasa. Biasanya, perhitungan mengikuti jumlah hari kerja yang sudah dijalani dalam periode tertentu dan besaran upah harian. Dalam pengalaman saya, mengetahui rumus ini sangat membantu agar tidak ada kerancuan penghitungan THR dari perusahaan. THR bagi pekerja harian dihitung dengan membagi total upah selama satu bulan terakhir dengan jumlah hari kerja efektif, lalu dikalikan dengan jumlah hari kerja yang menjadi hak pekerja tersebut. Contohnya, bila Anda bekerja 20 hari dalam satu bulan dengan upah Rp 100.000 per hari, maka THR yang didapat adalah Rp 2.000.000 untuk masa kerja satu bulan atau lebih. Selain itu, penting untuk diperhatikan jika masa kerja Anda kurang dari satu bulan, maka rumusnya menggunakan perbandingan masa kerja dibagi 12 dikalikan upah satu bulan dan jumlah hari kerja yang berhak atas THR. Hal ini menjadi hak pekerja sesuai perundang-undangan yang berlaku, yaitu Pasal 3 PP No. 36 Tahun 2021 dan Pasal 15 PP No. 35 Tahun 2021. Pengalaman banyak pekerja harian menunjukkan adanya ketidaktahuan terkait mekanisme THR ini, sehingga sering kali terjadi kesalahpahaman antara karyawan dan pengusaha. Saya menyarankan untuk selalu mendokumentasikan jumlah hari kerja dan pendapatan harian secara jelas, sehingga saat perhitungan THR dapat berjalan transparan dan adil. Saya juga pernah berdiskusi di forum #tunjanganhariraya, di mana sesama pekerja berbagi pengalaman dan cara menghitung THR yang benar. Satu hal yang saya pelajari adalah bahwa semangat mendapatkan THR pada hari raya sangat tinggi, dan mengetahui cara hitung yang tepat membuat kita lebih percaya diri dalam memperjuangkan hak tersebut. Akhirnya, penting bagi pengusaha dan pekerja untuk sama-sama mengacu pada regulasi resmi supaya hak dan kewajiban dapat dipenuhi dengan baik. Jangan ragu untuk bertanya atau mencari informasi yang terpercaya agar perhitungan THR berjalan lancar dan sesuai aturan.






































