ini bukan tentang perpisahan
Kalau dengar kata perpisahan, yang kebayang di aku bukan cuma adegan sedih di film, tapi momen-momen kecil yang ternyata bikin hati nyesek. Kadang cuma lihat gambar perpisahan di timeline, misalnya foto dua orang yang saling membelakangi atau tangan yang perlahan terlepas, itu saja sudah cukup buat kita keingat banyak hal yang sebenarnya belum siap kita lepaskan. Aku sendiri sering banget menyimpan gambar perpisahan di galeri, entah itu ilustrasi, quote, atau foto langit senja. Bukan karena aku suka hal-hal sedih, tapi karena di balik "gambar perpisahan" itu ada rasa lega, ikhlas, marah, rindu, semuanya campur jadi satu. Kadang aku pakai gambar-gambar itu buat story, cuma buat ngode ke diri sendiri, kayak bilang, "hei, kamu kuat kok, walau harus berpisah". Lucunya, perpisahan itu nggak selalu soal pacar. Ada perpisahan sama sahabat yang pindah kota, sama keluarga yang makin jarang ketemu, bahkan perpisahan sama versi diri kita yang dulu. Pernah nggak sih kamu scroll foto-foto lama, terus merasa kayak lagi lihat "gambar perpisahan" antara kamu yang dulu dan kamu yang sekarang? Rasanya kayak, "oh, ternyata aku sudah sejauh ini ya". Buat aku, berpisah itu bukan cuma tanya, "apa aku sanggup berpisah denganmu?", tapi juga, "apa aku sanggup berdamai dengan diriku sendiri setelah perpisahan itu?". Kadang kita terlalu fokus sama siapa yang pergi, sampai lupa merangkul diri sendiri yang ditinggal. Di titik itu, aku suka nulis kalimat-kalimat pendek di atas foto atau background polos, semacam quote perpisahan versi aku sendiri. Bukan buat cari belas kasihan, tapi sebagai cara pelan-pelan menerima. Kalau kamu lagi cari gambar perpisahan buat dijadiin wallpaper, status, atau sekadar disimpan, mungkin yang kamu cari bukan sekadar gambarnya, tapi rasa yang bisa mewakili isi hati. Coba pilih gambar yang bikin kamu merasa dipahami, bukan yang makin menjatuhkan. Misalnya, gambar langit pagi yang tenang, bukan cuma hujan dan gelap. Karena perpisahan memang berat, tapi selalu ada harapan di ujungnya. Pada akhirnya, setiap pertemuan memang bawa kemungkinan perpisahan. Aku juga nggak tahu kapan perpisahan itu terjadi dan apakah nanti aku benar-benar sanggup. Tapi lewat kata-kata dan gambar perpisahan yang kadang aku simpan diam-diam, aku belajar bahwa nggak apa-apa kok takut berpisah. Yang penting, kita tetap jujur sama perasaan sendiri, pelan-pelan belajar melepaskan, sambil percaya bahwa setelah satu perpisahan, akan ada pertemuan baru yang mungkin lebih baik.
























































