... Baca selengkapnyaKadang orang bilang, hujan hanya air yang turun dari langit. Tapi kalau kamu pernah berdiri sendirian di jendela kamar, lihat pap hujan di depan rumah, kamu pasti paham kalau rasanya nggak sesederhana itu.
Ada malam-malam ketika suara hujan di atap justru bikin kamar terasa makin sepi. Lampu redup, jendela sedikit terbuka, udara dingin pelan-pelan menyelinap. Di luar cuma ada jalan aspal basah, pepohonan rindang yang ikut menunduk, dan rumah-rumah tetangga yang terlihat sayup. Dari dalam kamar, pemandangan itu bisa jadi “gambar hujan sedih” yang cuma kita yang benar-benar mengerti artinya.
Buatku, hujan sering datang bareng perasaan yang susah dijelaskan. Misalnya, waktu lihat tetes hujan jatuh berurutan di kaca jendela, tiba-tiba keinget seseorang yang dulu pernah kita tunggu. Chat yang sekarang udah nggak pernah masuk, cerita yang dulu ngalir terus sekarang berhenti di titik yang nggak kita pilih. Rasanya aneh, hujan turun dari langit, tapi yang basah justru hati sendiri.
Kalau lagi duduk di teras depan rumah, lihat jalan aspal basah setelah hujan, ada sensasi tenang tapi juga hampa. Suara motor beradu pelan dengan sisa genangan. Tiang listrik, bangku kayu di pinggir jalan, semua jadi saksi diam dari momen-momen yang pernah lewat. Mungkin dulu pernah ada tawa di situ, atau obrolan panjang yang sekarang cuma jadi potongan kenangan.
Di media sosial, banyak yang suka upload pap hujan di depan rumah atau dari jendela kamar. Awalnya keliatan cuma estetika: jendela berembun, ranting pohon basah, awan kelabu. Tapi kalau diperhatiin caption-nya, sering banget nyelip kata-kata kesepian, rindu, atau lelah. Seolah-olah gambar hujan sedih itu jadi cara halus buat bilang, "Aku nggak sekuat yang kalian kira."
Tapi di balik semua itu, hujan juga bisa jadi waktu terbaik buat ngobrol sama diri sendiri. Saat dunia di luar sedikit melambat, kita bisa jujur sama perasaan yang selama ini ditahan. Nggak masalah kalau ternyata kamu masih keinget momen-momen yang nggak bisa diulang. Nggak masalah juga kalau hujan hari ini bikin kamu nangis diam-diam di kamar.
Yang penting, ingat kalau kamu nggak sendirian merasa seperti itu. Banyak orang yang juga melihat hujan bukan sekadar air, tapi sebagai teman lama yang datang bawa memori. Besok, waktu hujan turun lagi di depan rumahmu, coba perhatiin sebentar. Mungkin masih ada hal-hal kecil yang bisa kamu syukuri, meski hati lagi nggak sepenuhnya baik-baik saja.
Hujan boleh bikin suasana sendu, tapi dari situ kita pelan-pelan belajar: beberapa kehilangan memang nggak bisa diganti, tapi kita tetap bisa melangkah, dengan kenangan yang kita peluk seperlunya, bukan sekuat-kuatnya.
Semoga yg kita ingat yg baik-baik haja