Bab 3
Namaku Qori. Status jan da kinyis-kinyis. Baru juga dice rai, eh, tiba-tiba takdir malah ngajak bercanda. Mantan tunangan nongol lagi dengan niat ngajak nikah. Ya ampun, ini jodoh, apa prank takdir sih?
“Bu Qori …” panggil Rara dengan suara parau.
Berjalan mendekat, aku pun tersenyum padanya. “Ya? Gimana sekarang? Sudah enakan? Ada yang terasa s akit? Maaf, ibu enggak tau kalau Rara—”
“Rara yang salah … Papa, jangan ma rah sama Bu Qori, ya ….”
“Oke. Papa enggak ma rah sama Bu Qori,” balas Sandy sembari terus menatap sinis padaku. Argh! Ingin sekali kuambil kaca matanya dan kupatahkan.
“Bu Qori, boleh Rara pegang tangan ibu? Sebentar … aja.”
Kembali memberikan raut wajah kebingungan, Sandy hanya terdiam membiarkan an aknya menggenggam er at tangan serta bersandar padaku. Jemarinya masih terasa dingin dan ada getaran kecil yang dapat kurasakan. Apa sejak tadi dia menahan rasa takutnya?
Entah mengapa, ada perasaan yang tidak kumengerti, hingga membuatku tak kuasa menge cup kening dan membe lai lembut kepalanya layaknya seorang ibu. Apa aku kelewatan?
Angin merayap masuk melewati celah pintu dan jendela. Waktu tak terasa berlalu. Namun, entah mengapa genggaman tangannya semakin menceng kram erat saat gerakan kecil kulakukan.
Paras mungil dan cantik itu pasti didapat darinya. Kulit putih bersih dengan rambut coklat gelap. Bola matanya memiliki warna yang indah, sangat menarik perhatian. Namun, kenapa ia begitu merasa ketakutan? Sejak tadi aku menunggu di sini. Di mana ibunya? Kenapa tak kunjung datang atau berbarengan dengan Sandy?
Sekilas kulihat jari manis pria bertubuh tinggi dan tegap itu. Masih ada cincin yang melingkar di sana. Harus menjaga sikap, aku harus tau diri bagaimana harus bersikap ketika berada di depannya. Tidak ingin mencari masalah, aku memutuskan untuk pulang.
“Bu Qori … mau … ke mana?” tanya Rara dengan napas masih tersenggal. Genggamannya kembali mencengkram erat jemariku.
Aku tersenyum, berkata dengan nada lembut. “ Ini sudah jam 4 sore … waktunya ibu pulang. Nanti kan mamanya Rara datang ke sini. Jadi, Bu Qori pu—”
“Enggak! Rara enggak mau! Enggak! Enggak! Whuuaaa ….”
Genggaman tangannya terlepas. Namun, entah mengapa tu buhnya bergetar hebat, seolah memiliki rasa trauma yang tidak bisa dijelaskan. Sandy segera mengambil alih posisiku dengan memeluknya. Tangisan Rara begitu terdengar pilu, seolah retakan hatinya menjerit dari batas ambang kesabaran yang selama ini ia tahan. Apa aku tadi ada melakukan kesalahan?
“Rara? Rara, ya, Allah … cucu nenek … kenapa sayang?” ucap Bu Jihan, ibu dari Sandy. Mendorongku agar menjauh dari Rara, entah mengapa sejak dulu, ia sangat membenciku.
“Bu, Rara enggak apa-apa. Tenang, kondisinya udah—”
“Tenang? Gini jadinya enggak nurut sama ibu! Jangan sekolah biasa, biar Rara private aja di rumah! Pasti gara-gara dia enggak bisa jaga! Kamu gurunya kan?”
“Bu, tenang! Ini ru mah s akit, jangan bikin ribut.” Sandy berusaha menarik Bu Jihan keluar, tetapi Bu Jihan melawan dan justru berjalan ke arahku.
“Ya-aa Bu … saya wali kelas Ra—”
Dunia seakan berhenti dalam sekejap. Telapak tangan itu mendarat keras di pipi kananku, terdengar lebih nyaring daripada rasa sa kitnya. Kepala ini tersentak ke samping dan terasa kaku. Telinga berdengung pelan, ada rasa panas yang menyengat, menjalar dilapisan kulit.
Perlahan rasa nyeri mulai menguat, seperti memar yang muncul seketika, tetapi batin terasa lebih sa kit daripada raga. Ada rasa malu, hina, ma rah didalamnya yang tidak bisa kuungkapkan. Air mataku menitik bukan karena lemah, tetapi karena sedang berusaha memproses semua itu dalam diam. Tam paran adalah simbol batas yang dilanggar, luka yang tak terlihat.
Bersambung~
Judul : Ditinggal Ce rai? Nikah Lagi!
Penulis : Fidia KR
Platform : KBM





















