“Kenapa diam saja?”
Suara itu pe cah di ruang sempit, lebih seperti gumaman yang dipaksa keluar daripada pertanyaan.
“Kadang diam itu pilihan,” jawab perempuan itu pelan. “Kalau mereka menghi na, biarin. Kita nggak bakal jatuh cuma karena ludah.”
“Ludah itu kehormatan, Bu.”
An ak itu menunduk, memungut sendok, tapi pandangannya terhenti di meja kayu. Di atasnya, sesuatu memantulkan cahaya samar: sebilah pis au dapur, ujungnya tumpul tapi masih cukup ta jam untuk membuat seseorang berdar ah.
Jari-jarinya menyentuh gagang kayu itu perlahan. Hangat. Masih ada bekas minyak goreng di permukaannya. Pi sau itu biasa dipakai ibunya memotong sayur — benda sederhana yang tiba-tiba terasa berat di tangan.
“Ibu nggak ma rah?”
“Untuk apa ma rah?”
“Karena mereka meludahi Ibu di depan orang.”
Perempuan itu memalingkan wajah. “Mar ah cuma bikin hati kotor, Nak.”
“Lalu kenapa mereka boleh bikin hati Ibu kotor duluan?”
Kalimat itu menggantung lama di udara.
“Jangan macem-macem,” katanya pelan. “Ibu cuma pengen kita baik-baik aja.”
“Baik?”
Senyum itu muncul lagi, tapi kali ini lebih tipis, lebih getir. “Kita nggak akan pernah baik selama mereka pikir Ibu pantas diludahi.”
“Taruh. Tolong.”
Ia menatap wajah ibunya — kulitnya pucat, mata lelah tapi lembut.
“Ibu nggak ngerti.”
“Aku ngerti. Justru karena Ibu ngerti, Ibu minta kamu berhenti.”
Ia menatap lantai. Suaranya pelan, tapi menu suk. “Kalau aku berhenti, siapa yang bikin mereka berhenti, Bu?”
Hening.
Suara jangkrik pun seakan lenyap dari dunia yang tiba-tiba sempit.
Perempuan itu menghela napas, lalu berjalan ke dekat tungku. Ia menaruh sendok ke baskom, menyandarkan tu buhnya pada dinding, dan menatap an aknya lama sekali.
“Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Kata-kata itu nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membuat pis au di tangan itu turun sedikit.
Lalu sesuatu berubah di mata an ak itu. Bukan lagi amarah yang meledak, tapi sesuatu yang lebih sunyi: keteguhan.
“Kalau kehilangan aku bikin mereka berhenti nyak itin Ibu, aku rela.”
“Jangan bilang begitu,” suaranya pec ah. “Ibu cuma butuh kamu, bukan pembalasan.”
An ak itu berjalan ke rak kecil di sudut dapur.
Pis au itu diletakkan di sana. Untuk sesaat, perempuan itu bernapas lega. Tapi ketika ia memalingkan wajah untuk menatap panci, pisa u itu sudah tidak ada.
“Nak?”
Suara itu pelan, cemas. “Kamu di mana?”
Tak ada jawaban.
Pintu kayu di ujung ruangan terbuka perlahan, menimbulkan derit panjang.
“Ibu,” suara itu terdengar pelan dari luar, “kalau besok orang tanya, bilang aja aku cuma pengin mereka berhenti ngeludah.”
Langkah-langkah kaki menapak tanah.
Pelan, tapi pasti.
Perempuan itu berlari ke depan pintu, tapi terlambat. Punggung itu sudah menjauh, menelan bayangan ru mah.
Tangannya gemetar, memegang kusen pintu seolah bisa menahan takdir agar tak melangkah lebih jauh.
“Jangan pergi, Nak!”
Angin membawa suara itu pergi tanpa balasan.
Ia menatap ke meja dapur, ke tempat pis au tadi diletakkan. Kosong.
Pi sau itu kini berada di tangan seseorang yang wajahnya telah berubah — bukan lagi an ak kecil yang ia besarkan, tapi ama rah yang tumbuh dari rasa sayang yang tak tertahan.
Jemarinya mencengkeram kuat gagang kayu.
Udara di sekitarnya terasa berat, seolah dunia menahan napas bersamanya.
Di kejauhan, suara anjing menggonggong, menandai langkah yang semakin jauh.
Setiap langkah adalah doa yang tak pernah diminta, tapi juga tak bisa dibatalkan.
Ia berhenti sejenak di tikungan jalan.
Tatapannya menembus gelap yang sunyi, pikirannya hanya satu: wajah lelaki yang meludahi ibunya.
Tangan kirinya menggenggam erat gagang pis au.
Tangan kanannya terbuka, bergetar halus seperti daun yang tak mau jatuh tapi dipaksa angin.
Ia menunduk sebentar, menarik napas panjang, lalu menatap ke depan.
Pisau di tangannya bergetar — langkah kakinya menuju rumah Feri.
Judul; Ibuku Gi la Karena Aku
Penulis : Rahima_imha




































































