Bab 5
"Abi terjepit, Umi. Di satu sisi ada kewajiban pada pesantren, pada keluarga besar. Di sisi lain... ada kewajiban pada Umi."
"Dan Abi memilih mengorbankan Umi," bisik Aisyah, air matanya akhirnya tumpah. "Setelah lima anak, setelah dua belas tahun membangun ru mah tangga, setelah semua pengorbanan Umi.. Abi pilih untuk menyak iti Umi."
"Ini bukan tentang menyaki ti! Ini tentang..."
"Tentang apa?" Potong Aisyah. " Katakan dengan jujur! Ini tentang keinginan Abi memiliki anak laki-laki, atau tentang nafsu Abi pada Nadia?"
Arfan berdiri dengan wajah merah. "Jangan lancang! Saya masih suamimu, masih kiaimu!"
"Sekarang Abi ingat statusmu?" Aisyah membalas, tak gentar. "Kalau memang Abi kiai yang baik, mengapa Abi tidak bisa melindungi istri dan anak-anakmu dari kepedihan ini?"
Perde batan mereka terhenti ketika terdengar tangisan Alina. Aisyah bergegas mengangkat bayi mereka, dan untuk sesaat, suasana mereda. Tapi keteg angan masih menggantung di udara.
....
“Lima bintang…" Aisyah berbisik, mengucapkan julukan yang ia berikan pada putri-putrinya.
Ia kemudian berjalan ke lemari, membuka pintu, dan melihat deretan pakaian putri-putrinya.
Ada baju batik milik Alifa, anak sulung yang cerdas dan ambisius. Aisyah ingat saat Alifa menangis hebat karena mendapat nilai B. Anak itu ingin menjadi yang terbaik, selalu. Ia adalah fondasi.
Jika aku bercer ai, Alifa akan menjadi yang paling terlu ka. Ia akan merasa bertanggung jawab, merasa bahwa kegagalan kami adalah tanggung jawabnya sebagai anak sulung.
Aisyah bergeser. Ia melihat seragam sekolah milik Azizah, yang selalu bersih dan rapi. Azizah adalah anak yang kritis, selalu mempertanyakan segala hal.
Jika aku berce rai, Azizah akan menganalisis semua kegagalan ini. Ia akan kehilangan kepercayaan pada pernikahan, pada Ayahnya yang ia anggap sempurna. Aku tidak mau ia menjadi sinis.
Di sampingnya, ada selimut tipis kesukaan Azalia. Ga dis kecil yang peka, bahkan merasakan kesedihan tersembunyi ibunya. Percer aian akan menghancurkan jiwa Azalia. Ia akan menyerap semua rasa sa kit dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga keutuhan kami. Ia terlalu lembut untuk menanggung beban itu.
Aisyah tersentuh pada jilbab mini berwarna cerah milik Annisa. Si bungsu sebelum Alina, periang, dan penuh tawa.
Annisa masih sangat kecil. Ia membutuhkan sosok Ayah yang utuh dan penyayang. Ia tidak akan mengerti alasan poligami ini. Perceraian akan merenggut tawa Annisa.
Terakhir, ia pergi ke kamarnya, menatap Alina di ranjang. Dan Alina? Ia bahkan belum mengenal dunia. Ia tidak boleh tumbuh tanpa kasih sayang penuh dari ayahnya, hanya karena ego Umi-nya yang terlu ka.
“Sampai Alina menikah. Aku sanggup,” bisiknya, suaranya menguat.
Pintu ka mar terbuka, Azalia masuk tanpa mengetuk pintu sepulangnya dari pondok, ia terbiasa pulang lebih dulu dari kakaknya.
"Umi, kenapa mata Umi bengkak?" tanya Azalia kecil sambil menyentuh wajah Aisyah dengan tangan mungilnya. Aisyah tersentak, menyadari betapa jelasnya bekas tangisan semalam terpancar di wajahnya.
"Umi kurang tidur saja, Sayang," bohong Aisyah sambil memel uk putri ketiganya itu. Tapi Azalia yang berusia enam tahun itu terlalu peka.
"Abi juga matanya merah tadi malam saat masuk ke kamarku" bisik anak itu. "Apakah Abi dan Umi berteng kar?"
Lanjutkan di KBMApp.
Judul : Demi An4k-an4k, Umi Rela Dimadu
Penulis : Yasmine Bening























































