Bab 2
"Kamu serius, mau makan sebanyak ini?" Erik nyaris tak percaya--di depannya ada beberapa menu makanan yang terhidang menggoda di depan mata.
Dengan polos, Luna justru mengangguk. Tanpa basa-basi, sekretaris cupu itu mulai melahap satu per satu makanan lezat di depannya. Erik memilih beralih menatap Al yang detik ini tengah mengulum bibir menahan tawa.
"Nggak usah frustrasi begitu, Rik. Sekali-kali ini, nraktir bawahan. Nggak bakal bikin elo bangkrut juga. Itung-itung sedekah." Al nyaris tertawa ketika mendapati wajah lesu Erik detik ini. Sedang CEO itu memilih memijit-mijit pelipis. Rasanya ia sudah cukup kenyang melihat sekretarisnya makan dengan lahap.
"Gue bukannya takut bangkrut, tapi gue mendadak ilfeel lihat cewek makannya rakus begini," gerutu lelaki itu dengan nada pelan. Tetapi ga dis di depannya mampu mendengar apa yang baru saja ia ucapkan.
"Lo kenapa masih bengong di situ?! Kerja sono!" usir Erik pada sahabatnya. Ada rasa risih saja ketika ada seseorang yang dengan sengaja mengamati sekretarisnya itu secara terang-terangan.
"Elah. Ini resto gue, napa lo yang sewot? Gue seneng aja kalau lihat cewek lagi lahap makan begini. Gemesin gimana gitu."
Erik dengan ragu melirik ke arah Luna. Penasaran, apakah ga dis itu benar menggemaskan seperti yang dikatakan oleh Al barusan atau tidak?
"Dah, ya. Selamat menikmati hidangan di 'The Food'. Jangan lupa, kami menantikan adegan suap-suapan antara si bos dan sekretaris. Itung-itung bikin foto prewedding, gitu."
Pria itu mencoba meredam emo si. Kembali melanjutkan acara makannya yang tadi sempat tertunda, tetapi tiba-tiba dahinya mengernyit--ketika mendapati Luna menyodorkan udang saus tiram tepat di depan mata.
"Why?"
"Cobain, deh. Enak banget ini, Pak. Saya tau, Bapak demen banget sama udang." Sendok makan berisi udang saus tiram yang tampak begitu menggoda itu, niatnya ingin Luna suapkan untuk bosnya.
"Kamu ngigo?" Erik nyaris tak percaya, tiba-tiba saja sekretaris cupunya ini bertingkah demikian.
"Eum, enggak. Anggap aja saya balas budi sama kebaikan Bapak. Karena hari ini Bapak udah mau keluar duit buat mentraktir saya. Ayo, buka mulutnya."
"Tenang aja. Kak Al paling anti sama paparazi atau tim lambe nyinyir yang hobi nyebar gosip nggak jelas. Resto ini aman dari jangkauan para pemuat berita nggak bermutu, Pak." Luna masih membujuk bosnya. Sesaat senyum tipis itu terurai dari bibirnya ketika sang atasan bersedia ia suapi.
'Manis.'
Itulah kata yang terucap dalam hati Erik saat ini. Ia mengatakan 'manis', bukan ditujukan untuk si udang, melainkan untuk seseorang yang sudah menyuapkan udang itu ke mulutnya.
Lima menu makanan yang berbeda-beda nyaris Luna habiskan. Ga dis itu tampak kekenyangan. Berkali-kali ia mengusap peluh di dahinya, serta membetulkan posisi kacamata yang sedari tadi selalu melorot--efek dari wajahnya yang terlihat penuh dengan keringat.
"Eh. Bapak mau apa?!" Ia pun protes saat Erik tiba-tiba melepas kacamatanya tanpa meminta izin.
"Saya tidak suka, kamu memakai benda ini."
"Emang kenapa? Kelihatan cupu? Bapak malu, punya sekretaris cupu kayak saya?" Luna bertanya bertubi-tubi. Sambil menyeruput jus alpukatnya--ia menantikan Erik menjawab pertanyaannya.
"Karena benda ini, saya jadi tidak leluasa melihat kecantikan kamu."
Pruuuttt!
Saking terkejutnya atas jawaban pria itu, Luna refleks tersedak dan tak sengaja memuncratkan minuman dari mulutnya. Dan sialnya, wajah Erik yang menjadi korban kecerobohan sang sekretaris.
"Argh! Luna ...!" Pria itu membentak. Beberapa pengunjung restoran tak kalah kagetnya akan kema rahan Erik.
"Ma-maaf, Pak. Ng-nggak sengaja." Ga dis itu jelas ketakutan. Meraih tisu dengan tangan bergetar. Niatnya ingin membersihkan wajah Erik, tetapi sang atasan seketika menepis tangannya.
Habis riwayat Luna.
Selengkapnya di Kbm App
Judul : Suamiku CEO Galak
Penulis : ninkzichthea




































































