Langkah kaki tak tentu arah berjalan saat keluar dari kafe. Di belakang, suara jepr etan kamera ponsel dan bisik-bisik yang tak lagi disembunyikan terasa seperti hanta man go dam.
Begitu masuk ke dalam mobil, tangan segera mengun ci pintu. Aku menyam bar ponsel yang terus berge tar tanpa henti di kursi penumpang, getara nnya terasa seperti detak jan tung yang sedang seka rat.
'Melda! Kontrak iklan kosmetik dan sabun baru saja dibatalkan sepihak! Mereka menuntut ganti rugi milia ran karena kas us skan dal moral. Kamu gil a, ya?! Kita han cur total!'
Tangan gem etar. Dengan sisa keberanian yang hampir habis, aku mencoba mene kan tombol panggil. Baru dering pertama, panggilan langsung diangkat, tetapi bukan sapaan han gat yang kuterima.
"Melda! Jangan telepon saya dulu!" Mas Hendra berteriak, suaranya terdengar pa nik bercampur mur ka yang belum pernah kudengar sebelumnya. "Kepala saya mau pe cah menghadapi telepon dari klien!"
"Mas, tolong aku... aku harus gimana?" tanyaku parau, suara nyaris hilang.
"Gimana katamu? Kamu sadar nggak live streaming itu sudah ditonton ju taan orang?! Pihak produksi sinetron baru saja menelepon. Namamu resmi dico ret! Karaktermu akan dibuat ma ti kecela kaan di episode besok!"
"Mas, tapi kont rakku masih—"
"Kontr ak apa?! Kamu yang melan ggar kont rak dengan bikin skan dal memuakkan ini!" potongnya ka sar. Napasnya terdengar membu ru di seberang sana. "Dengar ya, jangan hubungi siapa pun. Saya harus menyelamatkan reputasi agensi dari kehanc uran yang kamu buat!"
Sambungan diputu s sepihak. Aku terpaku menatap layar ponsel yang perlahan mengge lap, lalu melem par ponsel itu ke sudut jok.
Sunyi.
Namun kesunyian itu justru lebih menyak itkan daripada teriakan Shinta tadi. Aku menatap pantulan diri di spion tengah. Maskara yang lun tur hitam di bawah mata, rambut lep ek karena kopi, dan bi bir yang pu cat.
Tidak lama ingatan bermuara ke satu nama. Lelaki yang menjadi awal masa lah dalam hidup.
Jemari yang gemet ar he bat kini menceng keram ponsel, menggan tungkan harapan terakhir pada satu nama.
Danu.
Pria itu adalah satu-satunya pemilik ku asa yang bisa membung kam ba dai ini. Harapan itu membubung setiap kali nada sambung terdengar.
Satu kali, dua kali… tetapi pada dering kelima, panggilan mendadak dialihkan.
Percobaan kedua pun menemui jalan bun tu. Dan saat teka nan pada layar dilakukan untuk ketiga kalinya, suara operator yang dingi n menyahut.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."
Da da terasa se sak, seolah pasokan oksigen di dalam kabin mobil mendadak lenya p.
Danu telah memu tus akses.
Tanpa sadar, kaki mengin jak pedal gas. Mobil melaju tanpa arah, membe lah jalanan Jakarta yang mendadak terasa asi ng dan mengan cam. Namun, pelarian ini seolah tak punya ujung.
Di sebuah lampu merah persimpangan besar, pandangan tak sengaja tertuju ke atas. Di sana, sebuah Videotron rak sasa yang biasanya menampilkan waj ah cantik mempromosikan produk kecantikan, kini telah berubah menjadi panggung penghaki man.
Tulisan me rah meny ala di bawahnya terbaca begitu ta jam.
"SKAN DAL AS MARA TERLA RANG SANG ARTIS."
Cuplikan video sira man kopi itu dipu tar berulang-ulang, memperlihatkan rupa yang hanc ur dan ker dil dalam resolusi tinggi.
Dunia seolah sedang menert awakan kejat uhan ini. Langit Jakarta yang mendung ikut mencem ooh kesom bongan yang pernah ada. Videotron itu bukan lagi papan reklame, melainkan tiang gantu ngan yang siap mengha bisi sisa-sisa har ga diri.
Cerita ini tersedia di KBM App.
Judul: Tobatnya Artis Simpanan
Penulis: Lintang_Re




































