Bab 3
"Siapkan tim medis terbaik di mansion sekarang, pastikan Ibu ditangani tanpa ada lu ka yang terting gal."
"Maafkan Lukman, Bu. Lukman membiarkan tikus-tikus itu terlalu lama berpesta di ru mah Bapak," ucapnya pelan. Matanya lurus menatap ke depan, namun aku bisa merasakan urat di lehernya menegang.
"Ibu tidak menyangka kalian akan pulang seperti ini, Nak," jawabku lirih.
Lilis yang duduk di kursi depan menoleh. Dia tidak lagi memegang tas punggung lusuh, melainkan sebuah tablet canggih yang layarnya terus berkedip. Jari-jarinya bergerak lincah di atas layar, wajahnya tampak begitu beku.
"Ibu tahu kenapa Mas Dedi berani melakukan ini? Karena Paman Ramdan menjanjikannya posisi manajer di pabrik barunya. Pabrik yang sebenarnya dibangun pakai ua ng sisa warisan Bapak yang mereka curi pelan-pelan," suara Lilis terdengar sinis, begitu nyelekit hingga membuat da daku sesak.
"Jangan sebut nama dia sebagai Mas lagi, Lis. Dia sudah menjual kehormatan Ibunya demi jabatan palsu," Lukman memo tong dengan suara sedingin es.
Aku tertunduk, meremas jaket militer Lukman yang masih tersampir di bahuku.
"Mungkin Dedi hanya khilaf, Nak. Dia punya an ak dan istri yang menuntut gaya hidup tinggi."
"Jangan menangis untuk pria seperti itu, Bu. Air mata Ibu terlalu mahal untuk orang yang lebih memilih jadi an jing penjil at Ramdan," Lilis berpaling kembali ke tabletnya. "Satu menit lagi, Paman Ramdan akan tahu rasanya kehilangan napas finansial."
"Apa yang kamu lakukan, Lis?" tanyaku cemas.
"Hanya membatalkan kontrak sepihak. Seluruh distribusi pabrik Ramdan ada di bawah kendali grup perusahaanku. Malam ini, detik ini juga, aku pastikan semua barangnya tertahan di gudang. Dia akan rugi miliaran bahkan sebelum matahari Idul Fitri terbit," Lilis berujar tanpa ekspresi, seolah baru saja mema tikan saklar lampu, bukan menghancurkan hidup seseorang.
Aku melihat transformasi an ak-an akku dengan rasa campur aduk. Lukman dengan otoritas militernya, dan Lilis yang tumbuh menjadi singa betina di dunia bisnis. Mereka bukan lagi an ak-a nak kecil yang dulu kusuapi ketupat di teras ru mah Bapak. Mereka telah menjadi hakim bagi para penindas.
"Paman Ramdan pikir dia sudah menang karena memegang sertifikat palsu itu," Lukman bicara lagi, suaranya lebih tenang namun terasa lebih berbahaya. "Dia lupa kalau Bapak menitipkan salinan dokumen asli dan rekaman wasiat di brankas militerku. Dia sedang menjerat lehernya sendiri dengan jerat yang dia buat."
Mobil perlahan memasuki gerbang sebuah hunian mewah dengan penjagaan ketat. Bangunan megah itu berdiri angkuh, sangat jauh dari kontrakan sempit di gang kumuh yang tadinya menjadi tujuanku. Tiba-tiba, ponsel tua di dalam saku dasterku berdering nyaring.
Aku merogohnya dengan tangan gemetar. Nama 'Dedi' terpampang di layar yang retak. Dia pasti mulai menyadari ada yang tidak beres. Mungkin pihak pabrik sudah menelponnya, atau dia baru saja melihat mobil-mobil pengawal yang tadi menjemput ku.
Lukman mengulurkan tangan, memintaku memberikan ponsel itu padanya. Aku menyerahkannya tanpa banyak tanya. Lukman menatap layar ponsel itu sesaat, matanya sekelam malam, seolah siap menerkam apa pun yang ada di balik sambungan telepon.
Dia menekan tombol hijau, lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Mobil berhenti tepat di depan lobi mansion yang terang benderang. Pengawal sudah berbaris rapi, menunggu pintu mobil terbuka.
"Halo, Kakak Sulung," Lukman bicara dengan nada yang sangat rendah, namun sanggup membuat bulu kudukku berdiri. "Tidurmu nyenyak di ru mah baru mu malam ini? Nikmati setiap detiknya, karena itu malam terakhirmu menghirup udara bebas sebelum seragam oranye menjadi pakaian lebaranmu."
Lukman mema tikan sambungan secara sepihak, lalu menatapku dengan tatapan yang kembali teduh. Malam ini bukan malam kemenangan bagi mereka, melainkan malam penghakiman yang baru saja dimulai.
🌷🌷🌷
Judul : Lebaran Terakhir di Ru mah Ibu
Karya : Vina Ivantina
Baca selengkapnya di KBM App


























































