"Alah, Mar. Jangan lebay. Namanya juga orang tua lagi emosi. Maafin saja, Ibu kan harus dihormati. Surga kamu itu ada di bawah kaki Ibu sekarang karena aku suamimu. Sudah, diamkan saja, nanti juga sembuh sendiri."
"Sembuh sendiri? Kamu bilang ini masalah kecil?!"
Dar ahku mendidih. Rasa sa kit yang kupendam selama lima tahun sebagai menantu 'numpang' mele dak seketika. Aku menyambar baskom kedua berisi sisa opor di meja makan. Dengan tenaga yang kukumpulkan dari sisa harga diriku, aku menyiramkan seluruh isinya tepat ke wajah Mas Abi.
BYUR!
"Ini rasa hormatku, Mas! Makan itu konten!" ter iakku histeris.
Mas Abi terper angah. Wajah klimisnya kini berlumuran santan berminyak dan potongan ayam. Ponsel mahalnya tergelincir, jatuh ke lantai yang be cek.
"ISTRI KURANG AJAR! BERANI KAMU SAMA SUAMI?!"
Mas Abi ban gkit, matanya merah karena mur ka. Dia menya mbar teko berisi sirup merah pekat yang sudah penuh es batu. Tanpa ragu, dia mengguyurkan es dingin itu tepat di atas kepalaku.
SLUURRP!
Cairan merah leng ket mengalir dari puncak kepalaku, membasahi mukena putih yang baru saja kupakai sholat. Dinginnya es men usuk kulit kepala, tapi hatiku jauh lebih membara.
"Kamu suruh aku maafin ibumu, tapi kamu sendiri tidak terima kusiram sedikit saja?" suaraku bergetar hebat di tengah guyuran sirup yang menetes ke mata.
Ibu Tejo tertawa sumbang di sudut ruangan. "Makanya tahu diri! Kamu itu cuma parasit di sini! Benar kata Abimanyu, kamu itu istri dur haka!"
Aku menatap mereka berdua, dua manusia yang merasa paling suci di hari Idul Fitri ini. Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Dengan gerakan secepat kilat, aku berlari ke dapur, menyambar kuali besar yang masih berada di atas kompor, bagian yang paling panas, paling banyak, dan paling berminyak.
"Marwa! Mau apa kamu…"
Belum sempat Ibu Tejo menyelesaikan kalimatnya, aku sudah merang sek maju dan menyiramkan seluruh isi kuali itu tepat ke w ajah dan sanggul beludrunya yang tinggi.
BYURRR!
Peki kan histeris Ibu Tejo memenuhi rumah. Potongan nangka dan lemak daging menempel di rambutnya yang rapi.
"Selamat Lebaran, Bu! Selamat menikmati hasil jerih payahku di dapur seharian ini!" de sisku ta jam di depan wajahnya yang belepotan kuning.
Aku tidak menunggu jawaban. Aku meny ambar Bagas yang masih teri sak, menggend ongnya erat. Aku tidak akan membiarkan putraku ma ti perlahan di nera ka ini.
"Mas Abi, mulai detik ini, cari saja istri yang mau jadi kesetmu. Karena aku... sudah ma ti rasa."
Cairan merah lengket itu terus menetes dari ujung mukenaku, jatuh ke lantai marmer yang kini licin oleh minyak opor. Dinginnya es batu yang terselip di balik kain membuat kulit kepalaku kebas, tapi panas di da daku justru semakin menjadi-jadi. Aku berdiri mematung, menatap Mas Abi yang na pasnya memburu, mukanya yang berlumuran santan terlihat sangat menge rikan sekaligus menye dihkan.
"Lihat diri kamu, Mar. Kamu itu istri! Tugas kamu sabar, bukan ngelawan kayak kese tanan begini!" ben tak Mas Abi sambil mengusap matanya yang perih kena kuah ca bai.
"Sabar?" suaraku keluar pelan, tapi bergetar hebat. "Lima tahun, Mas. Lima tahun aku telan semua ma ki-ma ki Ibu. Aku diam waktu Ibu bilang masakanku kayak pakan ternak. Aku diam waktu Ibu bilang aku ini beban karena cuma 'numpang'. Tapi kalau a nakku sudah lu ka... sabarku sudah tamat, Mas!"
Bersambung...
Baca selengkapnya di KBM
Judul. A NAKKU DISIRAM KUAH PANAS OLEH MERTUAKU, TAPI SUAMIKU DIAM SAJA.
Author. Ami Furqan



































