BAB 1
“an ak kamu buat aku aja ya. Kalian kan bisa buat lagi,” ucap Kak Tiara tanpa beban. Seakan-akan dia hanya meminta sepotong ayam goreng yang sudah berada di piringku.
Aku melongo, kaget. Bekas operasiku bahkan belum kering, tiba-tiba sekarang an akku mau diambil.
“Kenapa kamu menginginkan an ak mereka, Tiara? Kamu bahkan belum menikah?” ucap Ibu mertuaku heran. Kak Tiara adalah kakak iparku. Usianya sebenarnya belum terlalu tua, tapi dia menolak untuk menikah. Dia lebih mementingkan kariernya, sehingga dia tidak mau terikat dengan hubungan pernikahan.
“Ya nggak papa, Ma. Itu kan an ak Akbar, adik kandungku sendiri. Jadi bisa aku anggap dia an akku juga. Lagipula aku juga pengen dipanggil bunda.”
Aneh. Aku sih nggak keberatan kalau Kak Tiara mau anggap an akku sebagai an aknya juga. Apalagi kalau dia mau dipanggil bunda juga aku nggak masalah. Karena memang Kak Tia adalah donatur terbesar di ru mah ini. Tapi kalau an akku jadi an ak Kak Tia… itu aneh menurutku. Toh kami masih sama-sama ting gal di rum ah Mama. Lagipula dia juga kan sibuk bekerja. Memangnya dia ada waktu untuk mengurus an ak.
“Memang betul sih, tapi memang kamu ada waktu untuk mengurus an ak bayi? Kamu kan sibuk bekerja.”
“Ya bisa saja sih Ma, yang penting itu an ak jadi an akku.”
Sekarang mereka berdua menatap ke arahku seolah menunggu persetujuan. Aku bingung ini terlalu tiba-tiba. Mas Akbar bahkan masih di tempat kerja.
“Eh… itu… ”
“Tidak perlu kamu jawab, Ratih. Kami tau itu pasti berat untukmu. Tapi kamu ingat, siapa yang membayar ua ng operasi sesarmu kalau bukan aku. Siapa yang menanggung hidup kalian kalau bukan kakakmu ini. Jadi anggap saja ini sebagai balas budi atas biaya hidup kalian yang aku tanggung selama ini.”
Kata-kata itu begitu menu suk. Apalagi itu memang benar. Suamiku hanyalah seorang guru honor. Gajinya sangat kecil. Tidak ada ua ng untuk biaya persalinanku. Sementara Kak Tiara bekerja di perusahaan besar dan gajinya pun sudah dua digit, bahkan sebelum kami menikah. Jadi kepada dialah kami meminta tolong untuk membantu menguruskan persalinanku yang waktu itu harus sesar.
Tapi siapa sangka ia meminta har ga yang sangat besar untuk semua kebaikannya.
“Sudahlah, Ratih. Semua yang dikatakan Tiara benar. Kalian banyak berhutang kepadanya. Berikan saja an akmu kepadanya. Kamu kan masih bisa hamil lagi. Tidak usah terlalu kaku.”
Terlalu kaku? Bagaimana bisa seorang ibu yang ingin melindungi an aknya disebut terlalu kaku?
Aku hanya bisa terdiam. Sekuat tenaga aku menahan bulir air mata yang sudah hampir jatuh. An akku bahkan belum aku beri nama.
“Baiklah. Begini saja, aku bisa anggap lunas semua hutang kalian, asal kalian bersedia menyerahkan baby Dika kepadaku.”
Baby Dika?
Nggak bisa. Aku harus bicara. Untuk yang lain aku masih bisa toleransi, tapi kalau soal an ak…
“Tunggu sebentar!”
***
Karya terbaru dari sheilaluktri si penulis cerita fiksi. Yuk, silakan dinikmati hanya di KBM App
Judul : Disiksa Suami Dipungut Mafia Tampan
Penulis: Sheilaluktri



































