Mertua Menyiramku dengan Es Teh karena aku menolak membuatkan Jus untuk putrinya yang seorang guru, tapi tak ber-etika. Dia pikir setelah ini aku akan diam saja? Oh tidak, aku
bukan menantu yang lemah!
Tunggu kejutan dariku, Bu!
"Tia... tolong, Tia... Mas mohon..." suara pria itu parau, air matanya menetes merusak riasan tipis yang sengaja ia pakai agar terlihat tampan malam ini. "Mas khilaf. Mas cuma ingin kita kaya bersama. Mas tidak tahu kalau Nyonya Meilinda seja hat itu. Kita pulang ya, Dek? Ibu... Ibu sudah tua, dia tidak akan kuat kalau harus melihat aku dipenjara."
Wanita bergaun emerald itu berhenti tepat dua langkah di depan suaminya. Ia sedikit menundukkan kepalanya, menatap pria yang selama dua belas tahun ini selalu menuntut dilayani bagai raja di atas penderitaannya.
"Pulang ke mana, Mas Roni?" suara wanita itu mengalun begitu tenang, namun ada nada dingin yang menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. "Ke ru mah kontrakan sempit yang catnya sudah mengelupas itu? Ke dapur yang setiap sore membuat mataku per ih karena asap minyak goreng sementara kamu pamer foto di jet pribadi orang lain?"
"Tia, Ibu minta maaf, Nak..." Bu Asih ikut merangkak maju, mencoba meraih ujung sepatu hak tinggi menantunya. Wanita tua yang biasanya paling nyaring mema ki "dasar lambat" itu kini gemetar hebat dengan wajah yang dipenuhi ketakutan. "Ibu yang salah. Ibu tidak akan menyuruhmu mencuci kuali lagi. Ibu tidak akan membiarkan Rara memesan jus alpukat padamu. Tolong cabut tuntutannya, Ron... Roni itu satu-satunya harapan keluarga kita."
Tia menarik kakinya perlahan, menghindari sent uhan tangan mertuanya seolah sedang menghindari lumpur yang kotor. Ia menoleh ke arah Ayu yang kini menyembunyikan wajah di balik tas tangan tiruannya, menangis sesenggukan karena malu menjadi tontonan ratusan orang kaya di ruangan itu.
"Dua belas tahun, Bu Asih... dua belas tahun aku menelan semua mak ian kalian bersama nasi sisa yang kalian sisakan di meja makan," ucap wanita itu, matanya berkilat ta jam di bawah pendar lampu sorot. "Saat aku mengetik aksara demi aksara di ponsel bututku untuk mencari ketenangan, a nakmu ini membantingnya ke lantai dapur. Kalian menyebutku beban. Kalian menyebutku parasit."
Tia mengangkat tangan kirinya, membiarkan kilau cincin permata hijau dan jam tangan mewahnya tertangkap oleh cahaya lampu, memantulkan kilau harta yang begitu menyilaukan mata keluarga suaminya.
"Sekarang, lihatlah aku. Uan g lima puluh tujuh juta dari royalti pertamaku di KBM App ini... sanggup membiayai pengacara terbaik untuk memastikan kalian membusuk di dalam penjara atas tuduhan pencemaran nama baik dan pemerasan," lanjut wanita itu dengan senyum miring yang penuh kemenangan yang elegan. "Kalian datang ke sini mengenakan baju mahal hasil ua ng suap untuk menyeretku kembali ke lantai dapur yang kotor? Sayangnya... kilau hartaku malam ini justru membakar habis seluruh kesombongan kalian hingga tak bersisa."
"Tia! Aku suamimu! Kamu tidak bisa sekejam ini pada suamimu sendiri!" Roni berteriak frustrasi, mencoba menggunakan otoritas terakhirnya sebagai kepala keluarga.
"Statusmu sebagai suami sudah berakhir sejak kalimat an caman dua miliar itu kamu kirimkan ke ponselku, Mas," sahut wanita itu dingin. Ia berbalik ba dan, tidak sudi lagi menyia-nyiakan waktunya untuk menatap tiga orang yang kini mulai diseret oleh petugas keamanan menuju pintu keluar utama, di mana mobil patroli polisi sudah menunggu dengan sirine yang meraung-raung.
Baca kisahnya di Aplikasi KBM APP
Judul : Kusiram Keluarga Suami dengan Kilau Hartaku
Penulis : Perarenita









































