Langkahnya kembali diayunkan dengan suara lirih Airi mencoba menepis semuanya yang bergejolak di h ati dan pikirannya. “Mustahil, mungkin aku hanya terlalu merindukannya dan belum sepenuhnya menerima jika suamiku sudah tiada.”
Akhirnya sampailah Airi dipersimpangan dan sempat melewati sosok yang kini berdiri tegak. Tidak lama lelaki itu pun memanggil dan menahan langkahnya. “Airi, tunggu!”
Airi yang merasa terpanggil langsung menoleh. Merasa asing dengan orang tersebut, meski dari belakang sama persis dengan mendiang suaminya. Namun, wajah itu tertutupi oleh separuh dari payung sehingga sulit dikenali.
Seseorang itu pun kembali berucap. “Payung, jangan sampai kamu masuk angin dan berakhir s akit.”
Iris sendu itu menatap ke arah orang tersebut. Kelopaknya naik turun dan bulu lentiknya jatuh perlahan. Tidak asing dengan suara yang baru saja ia dengar hingga munculah sebuah pertanyaan. “Siapa kamu? Kenapa aku merasa tidak asing dengan suara milikmu?”
T ubuh Airi semakin gemetar, kuku-kukunya membiru. Menunggu lelaki di depannya untuk memperlihatkan wajahnya yang tertutup sebagian oleh payung.
Beberapa detik berlalu. Airi membeku dan mulutnya bergumam seolah menolak melihatnya. “Tidak, ini tidak mungkin. Kenapa dia, kenapa harus dia!”
Rasa benci, takut. Penasaran kian menyatu menyelimuti hatinya. Di bawah guyuran hujan Airi menangis karena kenapa harus dipertemukan dengan dia lagi.
“Airi, kita pulang dan pakailah payung ini.” Tanpa punya rasa bersalah, lelaki tersebut memberikan payungnya.
Airi melirik dan berseru. “Enyah dari hadapanku!”
Namun, lagi-lagi orang itu menolak. “Ri, jika tubu hmu terus menerus kehujanan. Kamu akan sakit, maaf aku mengikutimu ketika melihat langit mulai mendung. Terlebih kamu phobia dengan suara guntur,”
Seakan tahu segalanya yang ada di diri Airi. Bahkan tidak ada satu pun yang terlewat. “Itu bukan urusanmu dan segera enyah dari hadapanku!”
Dengan cepat lelaki itu pun membalas amukan dari Airi. “Aku peduli denganmu Airi, kenapa kamu sama sekali tidak mengerti diriku.”
Tertawa dibalik tangis. Berusaha tegar akan apa yang dihadapinya, ada apa dengan mereka? Seakan tidak membiarkannya hidup tenang. Meren ggut hari-harinya dengan berbagai masalah. Airi tersenyum kecut, alisnya berkedut dengan mata yang sudah sembab, lalu kalimat terakhir ia ucapkan sebelum langkahnya benar-benar pergi meninggalkan lelaki sepertinya. “Kamu … bukanlah suamiku yang harus aku pahami, yang harus aku mengerti. Atau jangan-jangan makam di ujung sana bukanlah makam suamiku dan itu—,”
“Cukup Airi! Kenapa harus menyangkutkan Rico. Dia sudah mati, aku peduli denganmu karena janji yang harus aku penuhi. Kamu hanya belum bisa merelakan kematiannya bukan, itu sebabnya terus menyangkut pautkan dengan perhatianku.”
Judul: Suamiku, bukan lagi Suamiku
Napen: Shizi
Pf: KBM #kbm #pengkhianatan #rahasiatersembunyi #dramatumahtangga












































