"Halo, Bian," sapa Kanaka begitu bocah perempuan itu melangkah masuk ke ruang praktiknya. Pandangannya sempat melirik ke arah Laudya yang berjalan mengekor di belakang an aknya. Ya, Laudya sendiri yang datang mengantarkan Bian pada hari itu.
"Hai, dokter," balas Bian dengan logat bicaranya yang masih cadel dan lucu. Hari itu, an ak perempuan tersebut tampak sangat menggemaskan, rambut panjangnya dibiarkan terurai indah tanpa ikat.
Sepasang mata bulatnya berkedip jenaka dihiasi bulu mata lentik yang membuatnya mirip boneka cantik dari toko mainan. Sayangnya, keceriaan yang biasa terpancar di wajah Bian kini tampak sedikit meredup.
Kanaka merasa yakin bahwa Laudya yang saat itu tampil modis dengan kemeja tanpa lengan dipadu celana panjang model pipa serta masker bermotif bunga-bunga telah memberikan peringatan ke ras kepada Bian agar menjaga sikap di depan dokter. Tindakan itu sungguh tidak adil di mata Kanaka.
"Kenapa hari ini jadi pendiam sekali, sih? Biasanya kamu sangat cerewet. Dokter merindukan suara nyaringmu, lho," ujar Kanaka sengaja mengabaikan keberadaan Laudya. Seperti biasa, wanita itu tampak sibuk membetulkan posisi maskernya agar wajahnya tidak terbongkar.
Kanaka merasa jengah dengan tingkah laku tersebut. Ia sudah tidak sabar lagi untuk menyingkap penghalang wajah itu dan melontarkan rentetan pertanyaan yang selama ini mengusik batinnya. Andai saja ia tidak cepat-cepat sadar bahwa saat ini dirinya sedang berada di lingkungan profesional.
"Ayo kita periksa dulu, Bian. Mari, Dokter bantu naik ke tempat ti dur," kata Kanaka ramah. Bian melangkah mendekati Kanaka, lalu dengan gerakan lincah langsung memanjat sendiri ke atas ran jang pemeriksaan. Ia menolak dengan halus tawaran Kanaka yang hendak menggendongnya.
"Wah, perkembangannya semakin menunjukkan grafik yang bagus. Apakah Bian masih sering batuk, Ibu?" Kanaka hampir saja keceplosan menyebut nama Laudya.
"Sudah tidak," sahut Laudya dengan nada suara yang sangat pendek dan dingin.
"Bagus sekali. Kemajuannya benar-benar luar biasa. Jika kondisinya terus stabil seperti ini, insyaallah dalam waktu enam bulan paru-parunya sudah bersih total," jelas Kanaka.
"Meskipun pada beberapa kasus an ak lain, ada yang harus memperpanjang masa terapi hingga sembilan bulan."
"Baik," jawab Laudya singkat. Tanggapannya terasa sangat dingin dan ketus.
"Nah, Bian mau hadiah apa hari ini?" tanya Kanaka sambil menun juk ke arah sebuah meja kecil di belakang kursi kerjanya. Di sana berjejer rapi berbagai mainan boneka, mobil-mobilan plastik, serta aneka camilan ringan untuk anak-anak.
"Boleh aku pilih, Bunda?" tanya Bian dengan pandangan penuh harap kepada Laudya. Laudya hanya menganggukkan kepala sekilas sebagai tanda persetujuan tanpa banyak bicara.
Begitu putrinya bersorak girang dan berlari mengambil mainan, keheningan yang mence kam kembali menye limuti ruangan tersebut. Kanaka menarik napas panjang, lalu mengempaskan bo bot tubuhnya pada sandaran kursi kerja dengan pera saan campur aduk.
"Le paskan saja maskermu itu. Aku tahu persis bahwa wanita di balik masker itu adalah kamu, Laudya!" ujar Kanaka akhirnya tidak sanggup lagi membendung gejolak di da da nya. Ia memilih untuk langsung membuka suara secara perlahan namun tegas.
Seketika itu juga, kedua netra Laudya membe lalak lebar karena terke jut. Namun sedetik kemudian ia melepas maskernya dengan pas rah, seolah mengakui kekalahannya karena sudah ketahuan.
Baca di KBM app
Judul: Habis Lu ka Terbitlah Kita
Penulis: Sheila Munggah











































