Bab 8
Pagi harinya.
Pagi itu, matahari belum sepenuhnya bangun ketika Sahna sudah terperangkap dalam drama baru. Cahaya pertama yang menyelinap ke dapur bukanlah kehangatan, melainkan perintah tegas dari Alex, yang sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah masam.
"Sahna, buatkan sarapan sehat untuk Dion. Dia butuh asupan bergizi untuk pemulihannya," perintah Alex tanpa basa-basi, seolah Sahna adalah koki pribadi yang bisa diperintah sesuka hati.
Sahna, yang baru saja mengambil panci untuk memasak bubur bagi Sisil, menoleh pelan. Rasa sa kit dan kelelahan akibat begadang menahan tangis membuat kepalanya terasa berat. "Kenapa aku yang harus masak untuknya? Bukankah Rena, ibunya, jadi dialah yang seharusnya melakukan itu!" balas Sahna ketus.
Alex mendekat, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Jangan mulai lagi, Sahna. Rena tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Keluarganya dulu cukup berada, dia tidak pernah harus memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah. Ini pengalaman pertama baginya hidup dalam kesulitan, dan aku tidak akan membiarkannya terjun ke dapur sendirian."
Sungguh alasan itu terdengar begitu absurd dan manipulatif di telinga Sahna. Rena, seorang janda yang konon tidak punya apa-apa, kini bisa tinggal di rumah mewah dan diperlakukan seperti ratu oleh suami dan mertuanya, sementara dia, sang istri sah, justru diharapkan melayani mereka semua.
"Oh. Dia tidak terbiasa ya? Dan aku? Apakah sejak menikah denganmu aku langsung terbiasa dengan semua ini? Melakukan semuanya sendiri? Tanpa bantuan siapapun, termasuk dirimu?" Sahna membalas, suaranya bergetar menahan amarah dan l u k a.
"Kau ini istri, Sahna! Dan ini sudah menjkewajibanmu!" Alex membentak, m a t anya menyala-nyala. "Aku tidak mau berdebat. Rena dan Dion adalah tamu kita, dan kau akan memperlakukan mereka dengan baik. Sekarang, buatkan sarapan untuk Dion. Aku tidak mau dia makan sembarangan."
Sungguh, kata-kata itu seperti p i s a u yang memutar-mutar lvka di h a t i Sahna. Tamu yang dibawa suaminya sendiri tanpa izin, lalu menduduki rumahnya dan kini dengan mudah memerintahnya.
Dengan g i g i tan bi bir dan m a t a yang berkaca-kaca, Sahna berbalik ke kompor. Tangannya gemetar saat menuangkan beras ke dalam panci. Dia memasak dengan perasaan te rh ina. Di satu kompor, dia membuat bubur ayam khusus untuk Sisil, dengan hati-hati memastikan rasanya lembut dan bergizi untuk kondisi pu trin ya yang masih lemah. Di kompor lain, dengan perasaan jengkel, dia membuat omelet keju dan sosis untuk Dion, persis seperti yang Alex minta—"sarapan sehat".
Saat dia menyiapkan nampan, Rena muncul di dapur dengan pakaian ti dur yang mahal, terlihat segar dan sudah berdandan ringan.
"Wah,harum sekali, Sahna. Terima kasih ya sudah repot-repot," ujarnya dengan senyum manis, namun matanya memancarkan kemenangan.
Sahna tidak menanggapi. Dia hanya mengambil nampan berisi bubur Sisil dan berbalik untuk pergi.
"Yang untuk Dion to long dibawakan ke ruang makan,ya. Alex dan orang tuanya sudah menunggu," pinta Rena, suaranya tetap manis namun terdengar seperti perintah.
Sahna membeku. Mereka tidak hanya memaksanya memasak, tapi kini juga memaksanya untuk me l a y a n i mereka seperti pemb a n tu. Dengan napas berat, dia meletakkan nampan bubur Sisil di meja dapur, lalu mengambil nampan untuk Dion dan membawanya ke ruang makan.
Di ruang makan, pemandangan yang membuat ha nc ur h a t inya menyambutnya. Alex, Santi, Regan, dan Rena sudah duduk manis di meja makan. Dion duduk di antara Alex dan Rena, seperti keluarga inti yang harmonis. Mereka tertawa riang, mengobrol hangat, sementara Sisil masih terbaring lemah di ka mar nya.
Sahna meletakkan nampan di depan Dion tanpa sepatah kata. Dia berbalik untuk mengambil bubur Sisil, meninggalkan "keluarga bahagia" itu menikmati sarapan yang dia masak dengan perasaan terpaksa.
Baca selengkapnya di aplikasi KBM ya
Judul. Sa-kit H a t i Istri Yang Tak Pernah Dianggap
Penulis. Aqilhaswan
Novel Ongoing





















































