Mas Adit masuk menggamit pinggang istri mudanya. Disusul ibu dan bapak mertua di belakang. Wajah mereka nampak lelah. Meski begitu, raut bahagia masih jelas terlihat di wajah pengantin baru tersebut.
"Masak apa kamu, Ris?" tanya Bapak yang langsung berjalan ke dapur.
"Risa gak masak, Pak. Risa pikir kalian menginap. Lagian pengantin baru bukannya bulan madu dulu, malah langsung diajak pulang ke rumah madu," sindirku membuat Mas Adit salah tingkah.
"Kenapa gak masak? Kami lapar, cepat masak apa saja biar kami bisa makan!" titah ibu mertuaku dengan wajah cemberut.
"Udah malem, Bu. Kalian pesen ajalah, aku ngantuk banget. Emang pas acara tadi ibu gak makan?" tanyaku heran.
"Gak usah banyak nanya kamu, Risa. Cepetan masak!" sergah ibu mertua gusar.
"Maaf, Bu. Ini sudah jam 10 malam, waktunya beristirahat. Mas, kamu belilah makan di luar. Lagian kalo nunggu aku masak keburu ibumu kelaperan." Mas Adit yang terlihat lesu, hanya mengangguk saja.
"To long kamu antar Nita ke ka marnya!" ujarnya yang langsung kutolak.
"Itu k a m arnya kelihatan kok dari sini. Masa gitu aja dianterin? Kayak tamu aja!" sungutku yang langsung berjalan meninggalkan mereka.
"Kesambet kayaknya istrimu, Dit," gerutu ibu yang masih bisa kudengar meski samar.
Aku masih menyiapkan sarapan seperti biasa. Setelah menata menu diatas meja, aku segera m a n d i dan bersiap-siap. Aku keluar k a m a r dengan pakaian rapi, khas wanita yang akan berangkat bekerja, lalu bergabung bersama ibu dan bapak.
Kulirik jam digital yang melingkar di pergelangan tanganku. Mas Adit belum juga keluar ka mar, padahal sudah pukul tujuh lewat sepuluh menit. Biasanya jam segini dia sudah berangkat bekerja.
"Mas Adit gak dibangunin, Bu?" tanyaku pada ibu.
"Biarin ajalah, namanya juga pengantin baru," ujarnya santai.
"Tapi kan dia harus kerja?"
"Ya biarin aja lah, Ris. Libur sehari juga gak apa-apa. Bosnya pasti ngerti kok. Lagian kamu kok sewot begitu sih? Kayak gak pernah jadi pengantin baru aja!" gerutunya panjang.
"Aku pernah kok bu jadi pengantin baru. Tapi tetap bangun pagi untuk shalat subuh," balasku cadas membuatnya bungkam.
Belum sempat ia membalas, Mas Adit berlari keluar lalu ke kamar mandi. Ia ma ndi tak sampai lima menit.
"Kamu kenapa gak bangunin aku sih, Ris? Lihat, gara-gara kamu aku jadi terlambat. Sial! Mana ada meeting lagi," umpatnya kesal berlarian ke ka mar.
"Risaa! kemeja warna abu mana? Aku mau pakai."
"Risaa! Kaos kaki dimana?"
"Risaa! Risaa!!"
Teriakan heboh Mas Adit pagi ini sungguh membuatku pusing. Akhirnya kusiapkan segala keperluannya agar ia tak lagi berteriak seperti a n a k SD yang baru mulai bersekolah.
"Tadi ibu bilang, Mas Adit libur karena kecapekan. Maklum, pengantin baru. Jadi sengaja aku gak siapin apa-apa." Ibu melotot mendengar aduanku.
"Ya, ibu pikir kamu dikasih cuti. Lagian kan kamu masih pengantin baru, masa gak dikasih cuti sih?" tepisnya membela diri.
"Sudahlah, jangan berdebat! Aku sudah telat."
Tanpa salam, Mas Adit berjalan tergesa keluar rumah. Ia bahkan melewatkan makan pagi dan kopi. Aku kembali duduk menyelesaikan sarapanku yang sempat tertunda.
"Penganten baru sih penganten baru, tapi masa iya ada suami teriak-teriak gitu gak denger? Matahari udah tinggi, masih enak-enak tidur," gerutu bapak sambil beranjak membawa piringnya ke dapur.
Aku segera mencuci bekas sarapan kami lalu bersiap berangkat.
"Kok kamu udah mau berangkat, Ris? Terus yang beberes rumah siapa?" tegur ibu saat melihatku melenggang keluar.
"Ibu kan punya menantu satu lagi. Suruh dia aja yang beberes, kan sejak pagi aku udah sibuk di dapur." Aku mengangkat dagu ke arah ka mar tamu. Ibu menoleh begitu terdengar suara pintu terbuka. Menantu baru rumah ini baru saja keluar dengan muka bantalnya.
"Dah ya, Risa pamit dulu. Assalamualaikum!" Tanpa menunggu jawabannya, aku bergegas keluar rumah.
Baca selengkapnya di Kbm App
Judul : USAI
Penulis : Citty Moo























