Bab 3
Euforia keberadaan mobil Hon da Brio putih di halaman r u m a h kami belum surut. Sejak kemarin, tetangga seperti Bu Tari dan Jeng Lastri sengaja bolak-balik menyapu teras hanya untuk m e n c u r i pandang ke arah halaman r u m a h kakek. Rasanya kesuksesan finansial ini benar-benar menjadi tamparan tunai bagi mereka yang suka meremehkan kami.
Malam harinya, gerimis t i p i s mulai mengguyur kampung Sidomukti. Di ruang tengah yang senyap, Mas Rendra tampak sibuk menatap layar laptopnya. Melihat suamiku yang kelihatan sangat capek akhir-akhir ini, aku membawakannya secangkir teh hangat agar badannya lebih rileks. Mas Rendra tersenyum teduh, lalu memintaku duduk di sebelahnya karena ada dokumen penting yang ingin dia perlihatkan.
Mas Rendra memutar laptopnya ke arahku, menampilkan sebuah dokumen resmi: Surat Perjanjian Kerja (SPK) — Pengadaan Material Konstruksi Utama Skala Besar.
Saat mencoba membaca berkas itu, ma ta ku langsung terpa ku pada kolom nilai kontrak di lembar ketiga. Jan tung ku seketika berde gup kencang menghitung deretan angka nol yang tertera di sana.
“*Mi li aran, Mas? Ini... nilainya sampai sebanyak ini?” bisikku setengah tidak percaya.
Mas Rendra mengangguk mantap. Ini bukan proyek ecek-ecek. Sebuah perusahaan manufaktur besar dari luar negeri tengah membangun pabrik di kawasan industri Gresik, dan badan usaha milik suamikulah yang ditunjuk langsung untuk menyuplai material utama selama setahun penuh. *U a n g* muka sebesar tiga puluh persen bahkan sudah masuk ke r e k e n i n g operasionalnya, yang menjadi alasan kenapa dia bisa langsung membelikan mobil tunai tanpa berpikir dua kali.
Air mata haru seketika menggenang. Selama tiga belas tahun pernikahan, kami selalu hidup dalam kekurangan dan penuh perhitungan. Bahkan, **r u m a h** peninggalan almarhum kakek terpaksa dibiarkan kusam dan bocor karena tabungan kami habis terkuras demi biaya promil serta pengobatan medis yang selalu berujung nihil.
Aku sangat bersyukur karena di saat kami terus-menerus d i h i n a dan dikucilkan orang kampung karena belum memiliki *a n a k*, Tuhan justru membuka pintu rezeki yang luar biasa. Mas Rendra meyakinkanku bahwa kerja k e r a s dan *b a n t i n g tulang yang dilakukannya murni demi mengangkat derajatku agar tidak dipandang sebelah mata lagi.
Namun, terselip rasa khawatir karena jarak Gresik-Lamongan cukup jauh. Mas Rendra menjelaskan bahwa mulai minggu depan dia akan lebih sering menginap di mes atau pulang larut malam demi memantau proyek. Dia memintaku tenang karena semua fasilitas di r u m a h pasti akan tercukupi dengan rapi.
Di akhir obrolan, Mas Rendra berdiri di dekat jendela sambil menatap gerimis. Anehnya, wajah suamiku tampak begitu dingin tanpa emosi, seperti seorang pria yang sedang menghitung mundur langkah di atas papan catur.
Melihat t u b u h kokohnya, aku meme luk lengannya erat dengan ha ti yang polos. Aku meyakini perubahan ekonomi yang t a j a m ini adalah awal kebahagiaan sejati kami. Aku sama sekali tidak menduga, bahwa dokumen proyek mi li aran di Gresik itu sebenarnya adalah fondasi awal dari sebuah skenario pengkhia natan paling rapi.
📚 Judul: Hadiah Pe rih dari Suamiku
✍️ Penulis: Ita Wachid20
Dapatkan cerita lengkapnya di KBM APP! #kbm #HadiahPerihdariSuamiku #ItaWachid20 #RekomendasiNovel























































































