Bab 9
"Apa kau sudah g i l a?"
"Aku serius," jawab Rangga. "Cuma beberapa hari."
"Dari semua orang yang bisa kau minta bantuan, kenapa harus aku?" tanya Dikta.
"Karena kau nggak ada kerjaan."
Dikta menatapnya t a j a m. Rangga langsung tertawa sebelum mene guk air mineralnya.
"
Aku CEO," ujar Dikta datar.
"
CEO yang tiap hari kerjanya diminta nikah sama ibunya."
Kali ini Dikta terdiam. Rangga tersenyum pu as karena berhasil mengenai sasaran. Sudah bertahun-tahun mereka berteman dan hanya pria gondrong itu yang berani berbicara see n a knya di depan Dikta. Orang lain mungkin sudah kehilangan pekerjaan hanya karena bercanda seperti itu.
Dikta menyandarkan t u b u h ke rak minuman. Awalnya permintaan itu terdengar sangat konyol. Namun, semakin dipikirkan, semakin menarik juga. Sudah bertahun-tahun hidupnya dipenuhi rapat, investor, dan target perusahaan. Bahkan untuk berjalan santai di tempat umum saja ia harus menya mar menggunakan masker.
Setidaknya bekerja di minimar ket akan membuatnya bebas sejenak dari rutinitas tersebut. Tidak ada yang mengenalnya di sana. Tidak ada yang peduli berapa ni l ai perusahaan yang dipimpinnya. Ia hanya akan menjadi pegawai biasa.
Selain itu, ia punya alasan lain. Dikta masih belum menye rah membu juk Rangga masuk ke Kusuma Group.
"Memang atasanmu menyetujui pergantian karyawan seperti ini?" tanya Dikta.
"Aku membujuk atasan sampai mau. Lagian daripada nggak ada yang bantu," terang Rangga.
"
Berapa hari?"
Rangga langsung tersenyum lebar.
"Tiga sampai lima hari."
"Aku akan menye sal menyetujui ini."
"Tapi kau tetap setuju, kan?"
Dikta menghela n a p a s panjang. "Hanya beberapa hari." Rangga hampir bersorak saat itu juga.
Untuk pertama kalinya, Pradikta Kusuma mengenakan seragam minimarket berwarna biru. Ia berdiri di depan cermin ruang karyawan sambil menatap pantulan dirinya sendiri. Jika para direktur Kusuma Group melihat pemandangan itu, mungkin mereka akan ping san berjamaah. CEO mereka yang biasanya mengenakan jas jutaan ru piah kini memakai seragam minimar ket sederhana. Di d a d a kanannya terpasang sebuah name tag: DIKTA. Pria itu mena tap tulisan tersebut beberapa detik. "Lucu juga."
"Hei, pegawai pengganti!" Suara k e r a s dari luar membuatnya menoleh. Seorang pria paruh baya bertu buh gemuk berdiri di ambang pintu. Namanya Pak Hendra, kepala to ko Indomerit.
Sejak awal ia mengira Dikta hanyalah kerabat Rangga yang menggantikan sementara.
"Mulai susun barang di rak belakang," perintah Pak Hendra.
"Baik."
Lima belas menit kemudian, Pak Hendra mulai menye sali kepu tusan itu.
"Astaga!" Pria itu memegangi kepala saat melihat rak mi instan yang baru saja disusun Dikta. Semua produk memang tersusun sangat rapi, tetapi seluruh kategorinya beran takan. Merek A bercampur dengan merek B. Ukuran besar dan kecil tertukar. Label h a r g a tidak sesuai tempatnya.
"Siapa yang menyuruh kamu menyusun seperti ini?" tanya Pak Hendra.
Dikta menoleh tenang. "Bukankah lebih mena rik?"
Pak Hendra hampir terse dak. "Mena rik apanya?"
"Pelang gan akan lebih lama melihat rak."
"Itu bukan tujuan kita!"
Dikta hanya mengangguk pelan. Dalam hati, ia justru merasa terhibur. Sudah lama tidak ada orang yang berani memben taknya seperti ini.
Namun, yang tidak diketahui Pak Hendra, semua kekaca uan itu memang disengaja. Dikta sedang menguji kesabaran semua orang, dan sejauh ini hasilnya cukup memu askan.
Satu jam berikutnya, seorang pelanggan wanita datang membawa dua botol minuman. Setelah tran sa ksi selesai, wanita itu bertanya letak rak s u s u. Dikta menun juk ke lorong belakang, padahal rak s u s u ada di depan. Akibatnya pelanggan berputar sepuluh menit sebelum menemukan barangnya. Ia pun langsung mengo mel panjang kepada Pak Hendra.
"Maaf, Bu," kata Pak Hendra berkali-kali.
-to be continiued-
🍒🍒🍒
Baca selengkapnya di KBM App
📚 Judul: Tuan, Nona Mengaku Istrimu
✍️ Penulis: Nona Merlin


































