Part 8
B a n dar Udara Charles de Gaulle, Paris...
Pesawat bergun cang pelan saat mendarat di bandara internasional di Kota Paris.
Aku melirik jam di pergelangan tanganku; sekarang p u k u l 20.00 waktu Jakarta.
Saat berjalan menuju bagasi, aku menghidupkan ponselku. Beberapa saat kemudian, notifikasi belasan panggilan masuk memenuhi layar ponselku—dari Farhan dan Fahmi. Mereka sepertinya bergantian meneleponku.
Setelah selesai mengambil bagasi, William meminta kami untuk berfoto bersama dengan senyum ceria dan tangan terangkat ke atas.
"Pak, mau difotokan? Di sana bagus buat jadi latar belakang." William tiba-tiba saja sudah berada di belakangku.
"Sebagai kenang-kenangan Bapak sudah mengin jakkan kaki di bandara Paris," ucapnya sambil berjalan menuju tempat yang ia tunjuk.
Aku berdiri dengan jempol te rang kat ke depan; tak lupa William memintaku tersenyum lebar.
"Ini Pak, keren. Bapak kelihatan lebih ganteng," puji William.
Aku tersenyum t i p i s dan mengucapkan terima kasih.
Aku tak tahu apa yang mendorongku, kemudian aku mengunggah foto itu di status WA-ku dengan tulisan 'Welcome to Paris'.
Perjalananku di Paris baru saja dimulai...
POV Farhan
Sementara itu, di ruang tunggu keberangkatan internasional Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta...
"Apa, Mas? Bapakmu ke Paris?" Tiba-tiba Winda tertawa dengan nada mengejek.
Sejak kapan Bapak bisa membuat status begini? Pikirku penasaran.
"Bapak kamu itu halu, Mas. Dia pasti sengaja melakukan ini, nyuruh orang untuk mengeditkan fotonya seolah-olah dia berada di Paris." Ucap Winda.
"Tapi untuk apa Bapak melakukan itu?" tanya Fahmi.
"Yah buat apa lagi, kalau nggak pengin manas-manasin kita supaya kita iri.“ Ucapan Vina, istri Fahmi, selanjutnya membuatku terdiam.
"Bapakmu itu semakin nggak wa ras saja," ucap Bu Sandra dengan pandangan mence mooh.
"Udahlah, nggak usah dipeduliin. Palingan dia sebenarnya baru datang dari tengah hutan, tapi gayanya ngaku-ngaku ke Paris. Kita nikmati saja liburan ini," ucap Winda sambil berbalik dan hendak duduk.
"Mas, kalau Bapakmu sudah bisa bikin status kayak begitu, berarti ponselnya sudah aktif. Kamu hubungi Bapakmu sekarang juga. Minta ganti ru gi untuk biabya tiket pesawat!" Perkataan Winda langsung menyadarkanku.
"Biar aku saja yang menghubungi Bapak, Bang," ucap Fahmi.
Tak lama Fahmi berbalik dan menghampiriku dengan wajah gu sar. "Nggak diangkat sama Bapak, Bang. Aku coba kirim pesan menanyakan tentang pembatalan tiket pesawat. Tapi hanya centang dua, kayaknya belum dibaca."
Aku mengge ram ke sal, "Ya sudahlah, nanti kita coba lagi hubungi Bapak," pu tusku akhirnya.
Penerbangan 1 jam 40 menit ke Singapura akhirnya berakhir dengan sedikit gun cangan dan turbulensi. Kami sampai di Singapura p u k u l 10 malam.
"Sorry, Sir. Reservation in the name of Mr. Surya has been cancelled. (Maaf Pak, reservasi atas nama Pak Surya sudah dibatalkan)."
"Dibatalkan juga, Bang?" tebak Fahmi. Aku mengangguk.
"Bapak keterlaluan," de sisku ge ram. Aku meraih ponsel dan mulai menghubungi ponsel Bapak.
"Assalamualaikum." Suara Bapak terdengar tenang.
"Waalaikumsalam," jawabku dengan nada gu sar. "Bapak ke mana saja sih? Kenapa nggak angkat teleponku dari kemarin?"
Bapak hanya diam, terdengar helaan na pasnya yang membuatku semakin gu sar. "Bapak tahu nggak, kami kesu sahan di sini! Apa maksud Bapak sebenarnya melakukan semua ini? Kartu kre dit diblokir, tiket pesawat dan ho tel dibatalkan. Bapak sengaja menga caukan rencana liburan kami?" tanyaku ge ram.
"Kamu kan mau berlibur bersama keluargamu. Ya sudah, Bapak kabulkan," jawab Bapakku tenang.
"Maksud Bapak apa? Kami memang berangkat bersama keluarga, namanya juga liburan keluarga. Tapi apa hubungannya sampai semua dibatalkan begini?" Nadaku masih ting gi.
"Kalau kamu mau liburan sama keluarga, terus ngapain Bapak yang harus bia yai liburannya? Minta saja sama keluargamu. Bapak kan bukan keluargamu."
📚 Judul: Ayah (Sang Penopang yang Tak Dianggap)
✍️ Penulis: Tianarie
Hanya di KBM.
#fyp #kbm #AyahSangPenopangyangTakDianggap #Tianarie #RekomendasiNovel
















































