Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyamakan posisi para menterinya dengan pemain sepak bola.
Ada yang bermain sejak awal dan ada yang menunggu sebagai pemain cadangan.
Pernyataan itu disampaikan saat peresmian APKASI Otonomi Expo 2025 di Indonesia Convention Exhibition ICE BSD Tangerang Selatan pada Kamis 28 Agustus 2025.
Menurut Prabowo beberapa menteri memang "agak di depan" sementara yang lain "cadangan" dan ia meminta para cadangan bersabar serta menjalankan tugas sebagai "holding, jaga".
Ia mengatakan pemerintah mengambil langkah efisiensi berdasarkan amanat Undang Undang Dasar bukan keputusan pribadi.
Prabowo menegaskan tidak ada jabatan yang tidak bisa digantikan termasuk Presiden sendiri.
Sumber: Kumparan
Video: Daniella/jagadjawi
Fenomena Menteri yang diibaratkan seperti pemain sepak bola oleh Presiden Prabowo Subianto ini memang menarik perhatian banyak pihak. Konsep ini memberi gambaran jelas tentang bagaimana dinamika kerja dalam kabinet berjalan, dimana ada menteri yang mendapat peran langsung dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kebijakan, sementara yang lain didorong untuk lebih bersabar dan menjalankan fungsi pendukung sebagai 'holding, jaga'. Penggambaran ini menekankan pentingnya sinergi antar anggota kabinet dan bahwa setiap posisi, termasuk yang terkesan sebagai 'cadangan', memiliki kontribusi yang sangat berarti demi stabilitas pemerintahan dan kelancaran administrasi negara. Kesabaran sebagai kualitas utama bagi para menteri cadangan sangat dibutuhkan agar dapat menjaga konsistensi dan kesiapsiagaan dalam menghadapi perubahan atau penyesuaian tugas. Selain itu, langkah efisiensi yang diambil pemerintah sebagai landasan proses restrukturisasi kabinet tidak bersifat personal melainkan berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah terhadap tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel, khususnya dalam menyusun formasi kabinet yang optimal dan efektif. Pernyataan Prabowo yang menegaskan bahwa "tidak ada jabatan yang tidak bisa digantikan, termasuk Presiden" menambah perspektif penting terkait prinsip kepemimpinan yang adaptif dan terbuka terhadap pergantian demi kemajuan negara. Pesan ini juga mengingatkan bahwa jabatan publik adalah sebuah amanah yang harus dijalankan dengan penuh dedikasi dan jika diperlukan, siap untuk diganti agar kemajuan pemerintahan tetap terjaga. Untuk masyarakat dan pengamat politik, model perumpamaan ini memberi gambaran realistis bagaimana sebuah kabinet bergerak seperti tim olahraga, dengan strategi dan pergantian yang terukur demi mencapai tujuan utama bersama. Ini menjadi bahan refleksi penting tentang bagaimana kekompakan dan kesiapsiagaan dalam setiap posisi jabatan publik menjadi kunci utama keberhasilan pemerintahan. Dengan pemahaman ini, publik diharapkan dapat lebih memahami dinamika kabinet serta pentingnya peran aktif dan kesabaran bagi semua menteri, tidak hanya yang berada di garis depan. Model analogi ini juga membantu memperkuat komunikasi antar pemangku kepentingan dalam membangun pemerintahan yang efektif dan efisien.















































