Rajab adalah bulan suci yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur'an Surat At-Taubah ayat 36, disebutkan bahwa Allah SWT menjadikan empat bulan dalam setahun sebagai bulan haram yang dihormati. Amal kebaikan dilipatgandakan, dan perbuatan dosa di bulan ini harus lebih dihindari. Rajab juga menjadi momen untuk mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan yang hanya beberapa bulan ke depan.
Dalam bulan Rajab juga ada salah satu peristiwa penting yaitu Isra' Mi'raj, peristiwa perjalanan Rasulullah SAW yang melahirkan kewajiban shalat lima waktu bagi umat Islam.
Oleh karena itu, marilah kita awali tahun baru dengan meningkatkan kualitas ibadah dan amal kebaikan.
... Baca selengkapnyaKalau ngomongin Bulan Rajab, salah satu hal yang sering bikin aku penasaran dari dulu adalah soal tasbih bulan Rajab. Di gambar yang aku sertakan, ada beberapa bacaan dzikir dan doa yang dianjurkan, dan pelan‑pelan aku coba praktikkan supaya lebih kenal sama amalan di bulan mulia ini.
Biasanya, aku mulai dengan memperbanyak istighfar. Tidak harus bacaan panjang, yang sederhana saja seperti “Astaghfirullah al-‘azhim” tapi diucapkan dengan sadar, sambil mengingat kesalahan di tahun sebelumnya. Kadang aku ambil waktu khusus setelah Magrib atau sebelum tidur untuk duduk tenang, pegang tasbih, lalu targetkan misalnya 100 atau 300 kali istighfar. Rasanya seperti membersihkan hati sedikit demi sedikit.
Selain istighfar biasa, di gambar juga disebut Sayyidul Istighfar. Bacaan ini istimewa karena mengajarkan kita mengakui nikmat Allah sekaligus dosa kita dengan jujur. Awalnya aku agak kesulitan menghafal, jadi aku tulis dulu di catatan HP, lalu kubaca pelan sambil melihat teks Arab dan terjemahannya. Lama‑lama kebiasa, dan sekarang kalau masuk Bulan Rajab, Sayyidul Istighfar jadi salah satu dzikir yang aku jaga setiap pagi dan sore.
Untuk tasbih dan dzikir di tanggal‑tanggal tertentu di Bulan Rajab, aku pribadi tidak terlalu mengikat diri dengan angka yang kaku, tapi lebih ke menjaga konsistensi. Misalnya, di malam Jumat aku niatkan untuk memperbanyak “Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar” masing‑masing 33 kali. Kalau lagi luang, aku tambah jadi 100 kali. Yang penting buatku bukan sekadar hitungan, tapi bagaimana dzikir itu bikin hati lebih tenang, kebiasaan lisan terjaga, dan pikiran lebih sering ingat Allah.
Di gambar juga disebut bacaan khusus untuk Jumat terakhir Rajab. Ini menarik, karena terasa seperti penutup manis sebelum kita mendekati Syaban dan Ramadan. Biasanya aku jadikan hari itu sebagai momen refleksi: setelah membaca doa‑doa yang dianjurkan, aku tulis di jurnal kecil, apa saja yang ingin aku perbaiki di Ramadan nanti—mulai dari shalat, tilawah, sampai hubungan dengan keluarga.
Pengalaman pribadiku, tasbih bulan Rajab sangat membantu membangun “ritme ibadah”. Kalau langsung berharap super rajin di Ramadan tanpa pemanasan di Rajab dan Syaban, seringnya kaget dan cepat lelah. Dengan membiasakan dzikir di Bulan Rajab, hati jadi lebih siap. Bahkan di sela kesibukan kerja atau urusan rumah, aku bisa tetap menjaga dzikir pendek yang ringan di lisan.
Kalau kamu baru mulai belajar tasbih bulan Rajab, saran dari aku: jangan terlalu perfeksionis. Pilih beberapa bacaan yang kamu sanggup istikamah, seperti istighfar dan shalawat, lalu tambahkan bacaan lain sedikit demi sedikit. Bisa pakai tasbih fisik, bisa juga pakai jari—yang penting hati hadir. Pelan‑pelan, kamu akan merasakan bedanya: bulan yang tadinya terasa biasa saja, jadi lebih bermakna karena diisi dengan tasbih dan doa.
Semoga amalan dan tasbih bulan Rajab yang kita lakukan, sekecil apa pun, jadi bekal untuk menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih dan siap. Aamiin.
Aamiin allahumma Aamiin 🤲