Sebagai orang sumatera pasti masakannya gak jauh dari kata pedas, #RelateGak ?
Kalau aku pribadi dirumah, untuk saat ini masakan anak dan masakan dewasa aku pisahin dan aku gak merasa repot.
Tapi dilemanya ketika lagi kumpul keluarga, ketika anakku gak ku kasih makan pedas pasti ada aja celotehan yg bikin gondok. "masa kalah sama si A, dia udah makan pedas loh", "dibiasakan dari kecil biar ntar terbiasa makan pedas".
Tenang...tenang....anakku bukan anti pedas kok, kalau kayak saos atau masakan yg ada irisan cabe, masih ku kasih. Tapi kalau sambal, makanan yg dominan pedas memang belum ku kasih.
Karena pernah dia makan nasi yg ada sambalnya terus diare, yg benar² pup terus menerus dan cair.
Aku konsul ke DSA, ternyata memang anak balita belum bisa makan pedas.
Intinya....anak akan makan pedas pada waktunya, tapi gak perlu dipaksakan, apalagi dijadikan ajang lomba-lombaan.
... Baca selengkapnyaJujur, sejak kejadian anakku diare setelah makan nasi yang ada sambalnya, aku jadi jauh lebih hati‑hati sama makanan pedas, berminyak, dan gorengan. Dulu aku pikir, "ah cuma sedikit kok", tapi ternyata buat saluran cerna anak yang belum matang, efeknya bisa segitunya.
Sekarang aku lebih aware kalau pedas itu bukan cuma soal "kasihan nanti kepedasan", tapi juga soal lidah & tenggorokan anak yang masih sensitif. Waktu anak merasa terbakar di mulut, mereka bisa jadi trauma makan. Pernah anakku sampai nolak makan karena ingat rasa pedas sebelumnya. Dari situ aku belajar, biarin dulu mereka menikmati rasa asli makanan: manis alami dari wortel, gurih dari telur, segar dari timun atau tomat, bukannya langsung dikasih tantangan level pedas.
Aku juga mulai mengurangi makanan pedas berminyak dan gorengan di rumah. Bukan cuma buat anak, tapi buat aku dan pasangan juga. Ternyata terlalu sering makan yang pedas, berminyak, dan gorengan bisa memicu asam lambung naik (GERD) dan perut perih. Buat orang dewasa saja bisa kembung atau kolik, apalagi buat anak kecil yang saluran cernanya belum matang. Kalau lagi maag kambuh atau darah tinggi, aku juga tahan dulu keinginan makan pedas, karena rasanya badan langsung nggak enak setelahnya.
Sekarang kalau pengin makan pedas, aku atur waktunya. Misal: aku makan sambal pas anak sudah tidur, atau aku pisahkan benar antara piringku dan piring anak. Masakan anak lebih ke rebus, tumis ringan dengan sedikit minyak, dan tanpa cabai. Kadang aku pakai trik: kasih bau/cita rasa dari bawang putih, bawang merah, tomat, jagung, wortel, atau buncis biar tetap enak walaupun nggak pedas. Jadi anak nggak merasa "dilangkahi" hanya karena nggak ikut makan sambal.
Soal kapan aman kenalkan rasa pedas, DSA yang aku datangi bilang kuncinya: pelan‑pelan dan lihat respons anak. Mulai dari yang sangat ringan, misalnya kuah masakan yang cuma kena aroma cabai, bukan sambal langsung. Kalau setelah itu perut anak aman, pup normal, tidak rewel, berarti tubuhnya sudah mulai bisa adaptasi. Tapi kalau muncul tanda seperti diare, perut kembung, anak gelisah, atau mengeluh perut sakit, ya stop dulu. Nggak ada keharusan anak sudah bisa makan pedas di usia tertentu.
Intinya, sekarang aku berusaha tidak membandingkan anakku dengan anak lain soal makan pedas. Setiap anak punya kesiapan yang beda. Buat aku, lebih penting pencernaan anak sehat dan mereka punya hubungan yang positif dengan makanan, daripada ikut-ikutan tren makan pedas atau dibilang "lebay" karena menghindari makanan pedas berminyak dan gorengan untuk anak.
aku ngenalin makanan pedes tp ya ngga sambel juga ka😂 aku kenalin lewat lada dulu.. masak sop ceker, telur dadar, ayam kecap, aku kasih lada tapi ngga banyak ya.. yang sekiranya dia bisa menerima pedesnya aja
aku ngenalin makanan pedes tp ya ngga sambel juga ka😂 aku kenalin lewat lada dulu.. masak sop ceker, telur dadar, ayam kecap, aku kasih lada tapi ngga banyak ya.. yang sekiranya dia bisa menerima pedesnya aja