Berawal dari silent treatment

Berujung manjadi MATI RASA

5/3 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam pengalaman saya, silent treatment memang bisa menjadi salah satu masalah terbesar dalam hubungan pernikahan. Awalnya, saat pasangan mulai jarang berkomunikasi, terasa seperti hanya sedang menunggu waktu yang tepat untuk berbaikan. Namun, seiring berjalannya waktu, penantian yang terus menerus tanpa ada komunikasi yang berarti membuat hati menjadi lelah. Saya pernah mengalami fase di mana saya berharap pasangan saya mengajak bicara atau setidaknya menanyakan perasaan saya. Tapi ketika semua penantian itu sering berakhir dengan kesunyian, perasaan itu berubah dari rindu menjadi kelelahan emosional. Hal itulah yang saya pelajari dari situasi tersebut, bahwa komunikasi yang kurang bukan hanya membangun jarak tetapi juga perlahan mematikan rasa cinta dan keterikatan yang dulu ada. Ketika sudah terbiasa dengan diam, kita cenderung menyesuaikan diri dan itu membuat hubungan kehilangan kehangatan. Rasa rindu yang tadinya menguat kini menghilang, dan yang tersisa hanyalah perasaan mati rasa. Oleh karena itu, saya menyarankan setiap pasangan untuk membuka pintu komunikasi sekecil apapun masalahnya. Mengungkapkan perasaan dan mencari solusi bersama sangat penting agar jarak emosional tidak semakin besar dan hubungan tetap harmonis. Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa silent treatment bukan hanya tentang berdiam diri, tetapi bisa menjadi tanda masalah yang lebih dalam seperti ketidakpuasan atau sakit hati. Jika dibiarkan, kondisi tersebut bisa berakhir pada kebosanan dan hilangnya keintiman dalam hubungan. Berani membuka diri dan mencari bantuan bila perlu, baik dari konselor atau orang terpercaya, bisa membantu mengatasi masalah ini lebih awal. Dengan begitu, hubungan tidak hanya terhindar dari mati rasa, tetapi juga tumbuh menjadi lebih kuat dan saling mendukung.