... Baca selengkapnyaAda satu momen yang bikin aku mikir dalam soal pertemanan. Katanya, semakin dewasa circle pertemanan makin kecil. Dulu aku kira cuma "seleksi alam pertemanan" aja, tapi ternyata banyak juga yang perlahan menjauh cuma karena… gengsi.
Gengsi adalah perasaan sungkan dan malu yang sering kita pakai sebagai tameng. Misalnya, kangen banget sama teman lama, sering lihat story-nya, tapi di kepala muncul pikiran: "Ah, nanti dikira ganggu", "Takut dia udah lupa", atau lebih parahnya, "Ngapain aku yang nyapa duluan?" Padahal yang bikin renggang itu bukan jarak, tapi gengsi kita sendiri.
Aku pernah nggak sengaja ketemu teman lama di Masjid DT Bandung. Awalnya canggung banget, sama-sama senyum hambar, basa-basi seperlunya. Tapi begitu mulai ngobrol soal kajian yang baru kami ikuti, pelan-pelan obrolan ngalir jadi life update panjang. Dari kerjaan, rumah tangga, sampai hal-hal remeh yang dulu biasa kami bahas. Lucunya, kami sama-sama ekstrovert, jadi begitu gengsi runtuh, langsung curhat tanpa filter.
Dari situ aku sadar, ketika bertemu teman hendaknya menunjukkan wajah yang ramah dan terbuka. Senyum tulus, sapa duluan, tanya kabar dengan jujur. Kadang mereka juga kangen, cuma sama-sama jaim. Sebuah chat sederhana seperti, "Eh, aku lihat story kamu kemarin, seru banget. Gimana kabar?" bisa jadi titik balik yang menghangatkan lagi hubungan.
Aku juga sering kepikiran kalimat ini: "Jawabnya ada di ujung langit." Rasanya relate sama pertemanan. Kita sibuk cari jawaban kenapa makin sepi, kenapa circle mengecil, padahal jawabannya ada di hal simpel: berani buka obrolan duluan. Jangan nunggu disapa, jangan terus bersembunyi di balik pride.
Kalau kamu lagi kangen teman lama, coba kirim satu chat aja hari ini. Nggak perlu quotes teman lama yang puitis, cukup jujur: "Aku kangen ngobrol sama kamu." Nggak semua orang akan stay, dan itu nggak apa-apa. Di fase dewasa, memang ada seleksi alam pertemanan, tapi jangan sampai gengsi yang memutus hubungan yang sebenarnya masih bisa diperjuangkan.
Buat kamu yang sempat merasa ditinggal, atau mungkin lagi sedih karena hubungan yang nggak bisa diselamatkan (bahkan sama mantan sekalipun), kamu nggak perlu buang energi buat nyusun kata-kata terakhir buat mantan agar menyesal. Energi itu lebih berharga kalau dipakai untuk merawat teman yang masih mau duduk, dengerin cerita, dan ketawa bareng kamu.
Jadi, kalau nanti kamu lihat story teman lama lagi, ingat ini: satu sapaan kecil bisa jadi awal pertemuan besar yang kamu syukuri bertahun-tahun ke depan. Jangan gengsi, kamu nggak seberisik yang kamu kira; kadang justru kehadiranmu adalah hal yang mereka tunggu-tunggu.
iya, semuanya sudah seleksi alam