Aroma yang Tertinggal dan Diplomasi Jajanan
Bab 7
Di minggu pagi ini, sinar matahari merayap masuk melalui celah gorden kamar Yueyue, menyapu tumpukan buku kalkulus yang masih terbuka di lantai. Yueyue menggeliat, merasa tidurnya semalam sangat nyenyak sekaligus sangat aneh. Ia merasa seperti baru saja memeluk bantal guling yang sangat keras, hangat, dan... wangi?
"Ngghh..." Yueyue membuka matanya perlahan. Ia mengendus udara di sekitarnya.
Aneh. Biasanya kamarnya hanya bau aroma terapi jeruk atau bau bulu Mochi yang belum mandi. Tapi pagi ini, ada samar-samar aroma kopi instan yang pahit dan parfum maskulin yang tajam, tipe parfum yang biasanya dipakai orang-orang yang hobi berdiri di bawah lampu jalanan sambil menatap gedung tinggi.
"Mochi," panggil Yueyue pada kucingnya yang sedang asyik menjilati kaki di ujung kasur. "Tadi malam ada robot masuk ya? Kok bantal guling aku rasanya kayak tembok beton?"
Mochi hanya mengeong malas, seolah menyembunyikan rahasia besar tentang seorang pria berbaju hitam yang semalam hampir mati berdiri karena lengannya dijadikan sandera. Yueyue duduk di tepi kasur, memegangi kalung peraknya yang entah kenapa terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Ia merasa antara sadar dan tidak, seperti ada mimpi yang tertinggal tapi ia tidak ingat visualnya.
"Ah, sudahlah. Mungkin aku mimpi jadi agen rahasia lagi," gumamnya sambil menyeret langkah menuju kamar mandi.
***
Sementara itu, di lantai bawah, suasana tenang keluarga Xiao terusik oleh kedatangan tamu yang tidak biasa. Linxi sudah duduk manis di sofa ruang tamu.
Hari ini, Linxi tampil sangat berbeda. Tidak ada kemeja putih kaku yang membosankan. Ia mengenakan kaos mock-neck berwarna hitam yang dibalut dengan setelan jas casual berwarna sage green. Celananya senada, dipadukan dengan sepatu loafers kulit tanpa kaus kaki. Penampilannya sangat "mahal", tipe pria yang terlihat seperti baru saja turun dari kapal pesiar pribadinya hanya untuk sekadar beli martabak.
Di depannya, Yifan dan Feng duduk berdampingan, membentuk barisan pertahanan kakak-kakak protektif yang sangat mengintimidasi.
"Jadi," suara Yifan memecah keheningan, matanya menatap tajam ke arah Linxi. "Jam tujuh pagi, dan kau sudah duduk di sini dengan setelan yang harganya setara dengan biaya renovasi dapur kami. Mau apa?"
Feng, yang sedang memutar-mutar koin di jemarinya, menimpali dengan seringai jenaka. "Biasanya orang bertamu sepagi ini kalau nggak mau nagih utang, ya mau minta sumbangan, Linxi. Kamu yang mana?"
Linxi tersenyum kalem, sama sekali tidak terpengaruh oleh tekanan udara yang berat di ruangan itu. Ia meletakkan sebuah brosur eksklusif di atas meja kaca.
"Saya ingin mengajak Yueyue ke World Street Food Expo hari ini," ucap Linxi lembut namun tegas. "Hanya ada hari ini, dan saya sudah memesan VVIP Pass agar dia tidak perlu mengantre di bawah terik matahari."
"Dengar, Linxi," Yifan menyandarkan punggungnya. "Adikku itu kalau sudah ketemu makanan, dia lupa jalan pulang. Terakhir kali diajak jalan, dia hampir hilang di bazar buku karena mengejar tukang cilok."
"Saya sudah menyiapkan tim keamanan pribadi yang akan mengikuti dari jarak seratus meter," jawab Linxi tenang. "Dan saya juga membawa ini untuk kalian."
Linxi mengeluarkan dua kotak kecil. Satu berisi cerutu langka untuk Yifan, dan satu lagi berisi kartu akses ke beta test game RPG terbaru yang bahkan belum rilis di Asia untuk Feng.
Feng langsung berhenti memutar koin. "Beta test? Yang servernya di Islandia itu?!"
"Tepat," jawab Linxi dengan senyum tipis.
"Yifan," Feng menoleh ke kakaknya dengan wajah sangat serius. "Aku rasa Linxi adalah warga negara teladan. Adik kita butuh udara segar. Biarkan dia pergi."
Yifan mendengus, "Kau mudah sekali disogok, Feng."
Tepat saat itu, Yueyue turun tangga dengan langkah gontai. Ia masih memakai kaos kebesaran gambar kucing, tapi rambutnya sudah disisir rapi. "Kak Yifan... ada tamu ya? Kok bau orang kaya?"
Yueyue berhenti di anak tangga terakhir, matanya membelalak melihat Linxi. "Lho? Kak Linxi? Kok hari ini ganteng banget? Mau ke undangan ya?"
Linxi berdiri, membungkuk kecil dengan sangat sopan. "Yueyue. Saya ke sini mau ajak kamu makan paha ayam yang bumbunya didatangkan langsung dari tujuh negara berbeda. Kamu mau ikut?"
Yueyue yang tadinya masih setengah nyawa langsung tegak sempurna. "TUJUH NEGARA?! Ada ayam dari Korea juga nggak? Yang pedas-pedas manis gitu?"
"Ada. Semuanya ada. Dan semuanya gratis kalau kamu pergi bersama saya," bisik Linxi, memberikan serangan pamungkas yang tidak mungkin ditolak Yueyue.
Yueyue langsung menatap Yifan dengan mata bulat berbinar-binar yang sangat maut. "Kak Yifan... boleh ya? Please? Aku janji nggak bakal bawa pulang tukang cilok lagi hari ini! Janji!"
Yifan menghela napas panjang, menatap Linxi dengan tatapan 'Awas kalau ada satu goresan di tubuhnya'. "Jam lima sore dia harus sudah ada di depan pintu ini."
"HOREEE! TUNGGU YA KAK LINXI! AKU MAU PAKAI TAS KUCING PALING KEREN!" teriak Yueyue sambil berlari kembali ke atas, hampir saja terpeleset di anak tangga karena terlalu semangat.
Linxi kembali duduk dengan tenang, memperbaiki posisi jam tangannya.
***
Di luar, di dalam sebuah van putih yang terparkir cukup jauh namun memiliki sudut pandang jelas ke jendela rumah Xiao, Mufan mengepalkan tangannya sampai buku jarinya memutih.
"Gembul," desis Mufan melalui earpiece-nya. "Kenapa Linxi pakai baju hijau sage itu? Dia pikir dia lagi mau photoshoot majalah?"
"Ganteng sih Bos, estetik," sahut Gembul polos.
"Diam! Siapkan motor. Kita tidak bisa membiarkan Linxi menguasai 'variabel' itu sepanjang hari hanya dengan iming-iming paha ayam tujuh negara," perintah Mufan. "Operasi Pengacau Kencan dimulai sekarang."
***
Di dalam kamarnya, Yueyue dengan terburu-buru mengganti bajunya, masih merasa ada sisa hangat di pergelangan tangannya semalam. Ia tidak tahu bahwa paha ayam tujuh negara itu hanyalah awal dari hari yang akan melibatkan pengejaran motor, cemburu buta sang mafia, dan rahasia besar di balik kalung peraknya yang kini berkilau terkena cahaya matahari pagi.
***
Festival Kuliner Dunia hari ini benar-benar riuh, tapi pusat perhatian yang sebenarnya bukan terletak pada paha ayam tujuh negara, melainkan pada penampilan Yueyue. Gadis itu turun dari mobil mewah Linxi dengan gaya yang sangat "Yueyue".
Ia mengenakan dress selutut berwarna putih tulang dengan motif bunga-bunga kecil yang terlihat sangat feminin, namun dipadukan dengan jaket jeans kebesaran yang lengannya digulung asal-asalan. Rambutnya diikat dua dengan jepit kucing yang telinganya bisa goyang-goyang setiap kali ia berjalan. Jangan lupakan tas selempang berbentuk kepala kucing gemuk yang penuh berisi tisu, permen, dan mungkin saja kunci inggris pemberian Mufan.
"Kak Linxi! Itu dia! Paha ayam emas!" teriak Yueyue sambil berlari kecil, mengabaikan Linxi yang berjalan anggun di belakang dengan setelan sage green-nya.
Namun, di sudut area festival yang agak tenang, tepatnya di sebuah kafe kucing terbuka, duduklah seorang pria yang tampak sangat mencurigakan. Ia memakai hoodie hitam besar, topi, dan kacamata hitam pekat. Ia adalah Huahai, sang superstar yang sedang mencari ketenangan dari kejaran fans militannya.
"Akhirnya, ketenangan," bisik Huahai sambil menyesap kopi lattenya melalui celah masker. Ia merasa sudah menyamar menjadi bayangan yang tidak terlihat.
Namun, ketenangannya hancur saat ia melihat seorang gadis berbaju bunga-bunga mendadak merangkak di bawah meja kayu tepat di depan kakinya.
"Pusss... pusss... keluar dong. Masa kamu lebih sombong dari Kak Yifan sih?" suara Yueyue terdengar sangat jelas. Ia sedang mencoba memancing seekor kucing persia putih dengan sepotong kue stroberi yang ia beli di jalan tadi.
Huahai tertegun. Suara cempreng itu... bukankah itu gadis yang kemarin menyebutnya "Mas-mas perampok"?
Sialnya, si kucing putih malah lari dan melompat ke atas meja Huahai, mendarat tepat di samping cangkir kopinya. Yueyue refleks berdiri, kepalanya hampir saja membentur pinggiran meja.
"Eh, maaf Mas Masker!" Yueyue berhenti mendadak. Matanya memicing, menatap Huahai dari ujung topi sampai ujung sepatu. "Lho? Mas Masker lagi? Kok kita ketemu terus sih? Kamu... kamu beneran nggak lagi ngikutin aku mau nyopet tasku, kan? Tas ini isinya cuma tisu sama bon utang lho, Mas."
Huahai hampir tersedak kopinya. "Ngapain aku nyopet tas kepala kucing begitu? Aku cuma mau minum kopi dengan tenang!"
"Ya habisnya, Mas aneh banget. Di kafe kucing pakai kacamata hitam sama masker. Kucingnya aja sampai bingung mau kenalan sama Mas, dikira Mas ini penjahat di film detektif yang lagi nungguin sandera," celoteh Yueyue sambil mengambil kucingnya.
Harga diri Huahai sebagai "Pria Tertampan Versi Majalah Gembira" langsung tertantang. Ia sengaja membuka kacamata hitamnya sedikit, memberikan tatapan maut yang biasanya membuat ribuan wanita pingsan di konser. Ia berharap Yueyue akan terpana, atau minimal minta tanda tangan di atas tas bergambar kucingnya.
Yueyue justru makin mencondongkan wajahnya. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter. Huahai menahan napas. “ Apakah ini saatnya dia jatuh cinta padaku?” pikir Huahai penuh percaya diri.
"Mas..." bisik Yueyue serius.
"I-iya?" jawab Huahai gugup, jantungnya mulai konser sendiri.
"Itu... di pojok mata Mas ada belek sedikit. Gede lho. Kayaknya tadi Mas bangun tidur cuma cuci muka pakai air liur ya?" ucap Yueyue polos tanpa rasa berdosa. "Lain kali kalau mau tampil misterius, pastiin matanya bersih dulu ya, Mas. Malu sama kucing. Dadah!"
Yueyue melenggang pergi kembali ke mejanya tempat Linxi sudah menunggu dengan nampan berisi paha ayam, meninggalkan Huahai yang membeku seperti patung es. Sang superstar langsung merogoh ponselnya, menyalakan kamera depan dengan panik. "Hah?! Mana?! Belek mana?!"
Di sisi lain, tidak jauh dari sana, ada sepasang mata yang lebih tajam dari elang sedang memperhatikan kejadian itu. Mufan berdiri di balik tiang dekorasi, masih mengenakan jaket cokelatnya dan kacamata hitam. Di telinganya terpasang earpiece.
"Gembul, lapor. Si Belek... eh maksudku Huahai, mencoba mendekati target," desis Mufan.
"Bos, tenang Bos. Nona Gemoy barusan cuma ngatain dia jorok, bukan jatuh cinta," sahut Gembul dari dalam van yang diparkir ilegal di depan hidran air.
Mufan mengepalkan tangannya saat melihat Linxi mengelap sudut bibir Yueyue dengan tisu premium. "Linxi juga! Dia pikir ini film romantis? Gembul, jalankan rencana B. Masukkan ulat bulu ke setelan hijau sage-nya!"
"Bos, jangan kejam-kejam. Mending kita ganggu pas mereka mau makan aja," usul Gembul.
Huahai, yang masih sibuk mengucek matanya dengan tisu kafe, tidak sadar bahwa di sekitarnya sedang terjadi perang dingin antara seorang mafia cemburu dan seorang pengusaha perlente. Ia menatap punggung Yueyue yang sekarang asyik menyuap paha ayam dengan pipi menggembung.
"Dia... dia benar-benar nggak tahu siapa aku?" Huahai bergumam pelan. Senyum tulus muncul di balik maskernya. "Lucu juga. Xiao Yueyue, ya?"
Tanpa sadar, sang superstar baru saja resmi masuk ke dalam daftar Pria yang Terjerat Pesona Meimei Xiao, tepat di bawah nama Mufan Sang Preman dan Linxi Sang Tuan Muda.
Hari itu, Festival Kuliner bukan lagi soal rasa makanan, tapi soal siapa yang bisa bertahan menghadapi kepolosan Yueyue.
Mufan menggeram melihat Yueyue tertawa bersama Linxi, Huahai tersenyum bodoh sambil memegang tisu bekas belek, dan Yueyue... Yueyue hanya berpikir bahwa ayam goreng tujuh negara ini benar-benar enak, meskipun orang-orang di sekitarnya semuanya tampak butuh bantuan medis jiwa.
To be continued
































































