Tahta yang Dingin dan Rahasia Azure
Bab 6
Pukul 02.00 pagi. Komplek elit keluarga Xiao sudah sunyi. Mufan bergerak seperti bayangan, mengenakan pakaian serba hitam yang jauh lebih pas di tubuhnya daripada seragam AC bau keringat tadi siang. Ia merayap di atas atap dengan kelincahan seorang predator, sementara Gembul memantau sensor keamanan dari dalam van melalui earpiece. "Bos, jalur aman. Yifan baru saja mematikan lampu ruang kerjanya. Feng juga sepertinya sudah tidur setelah tiga jam main game balap," bisik Gembul.
Mufan membuka penutup ventilasi di atap dengan gerakan yang nyaris tanpa suara. Ia meluncur turun menggunakan tali baja tipis, perlahan masuk ke dalam saluran ducting yang dingin. Suara napasnya sendiri terdengar bergema di telinganya. Begitu sampai di kisi-kisi ventilasi kamar Yueyue, Mufan berhenti.Ia mengintip ke bawah dan melihat pemandangan yang membuatnya tertegun sejenak.
Nona Gemoy itu tidurnya ternyata benar-benar seperti baling-baling bambu. Kamar itu berantakan dengan buku-buku matematika berserakan di lantai, dan di atas tempat tidur, Yueyue sedang tidur terlentang dengan posisi melintang, satu kakinya menggantung ke luar kasur sementara bantalnya sudah berpindah ke ujung kaki. Di sampingnya, si kucing Mochi mendengkur keras. Dan di sana, berkilau pelan di bawah cahaya lampu tidur yang redup, kalung perak itu melingkar di lehernya.
Mufan perlahan membuka sekrup kisi ventilasi. Satu persatu. Kreeek... Ia membeku. Yueyue bergerak, menggumamkan sesuatu dalam tidurnya. "Nggak mau... Mr. Ogawa... jangan kasih soal pembagian... kasih paha ayam aja..."
Mufan menahan napas sampai dadanya sakit. Begitu Yueyue kembali tenang, ia turun perlahan, kakinya mendarat di atas karpet bulu yang empuk. Ia mendekat ke arah tempat tidur, mengeluarkan alat pemindai laser kecil dari sakunya. Baru saja ia hendak mengarahkan laser ke kalung Yueyue, tiba-tiba... MEONG!
Mochi terbangun, menatap Mufan dengan mata bulatnya yang bercahaya di kegelapan. Kucing itu tidak marah, melainkan malah mendekat dan menggesek-gesekkan kepalanya ke kaki taktis Mufan. "Menjauhlah, kucing," desis Mufan dalam hati.
Mufan mengabaikan si kucing dan mulai memindai kalung itu. 10%... 40%... 80%... Tiba-tiba, tangan Yueyue bergerak cepat. Bukan karena terbangun, tapi karena ia sedang bermimpi menangkap ayam goreng yang terbang. Tangannya menangkap lengan Mufan dengan sangat kencang.
"Dapet... ayamnya gede banget..." igau Yueyue.
Mufan membelalak. Ia mencoba menarik tangannya, tapi Yueyue malah menariknya lebih dekat dan menjadikan lengan berotot Mufan sebagai guling. Ia terjebak dalam posisi paling tidak masuk akal dalam sejarah karir mafianya. Ia harus menunggu Yueyue berganti posisi tidur sambil menahan beban lumayan berat. Setelah lima menit yang terasa seperti lima tahun, Yueyue akhirnya berbalik dan melepaskan pegangannya.
Mufan segera menyelesaikan pemindaian. DONE. Ia segera menarik tali bajanya dan melesat naik kembali ke plafon, menutup kisi ventilasi tepat saat pintu kamar Yueyue terbuka pelan. Yifan masuk untuk mengecek adiknya, memberikan Mufan kesempatan untuk meloloskan diri kembali ke van.
***
Esok hari, Mufan melepaskan identitas jalanannya. Tidak ada lagi jaket cokelat bau debu atau seragam biru pudar yang beraroma oli. Ia berdiri di depan cermin besar di markas pribadinya, mengenakan kemeja hitam slim-fit berbahan sutra Italia yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Dua kancing teratas ia biarkan terbuka, memberikan kesan gagah namun berbahaya. Lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf perak yang berkilat dingin terkena sinar mentari dari balik jendela.
Ia menyisir rambutnya ke belakang, menatap sepasang mata tajam yang kini tidak lagi perlu disembunyikan di balik topi proyek. Pagi ini, ia bukan seorang pengintai. Ia adalah Mufan Ardhaka, sang calon tunggal pemimpin organisasi Black Dragon.
Dengan langkah mantap, ia memasuki kediaman utama keluarga Ardhaka—sebuah bangunan bergaya Gotik yang dikelilingi penjagaan ketat. Di ujung lorong panjang yang gelap, sebuah pintu jati besar terbuka otomatis.
Di sana, duduk seorang pria tua dengan rambut putih yang tertata rapi, menatap ke luar jendela besar ke arah taman yang sunyi. Itu adalah kakek Mufan, Wira Ardhaka, sang legenda yang membangun imperium ini dengan tangan besi.
"Kau datang lebih cepat dari yang kubayangkan, Mufan," suara kakeknya berat, bergema di ruang luas itu.
Mufan membungkuk hormat sejenak sebelum duduk di hadapan pria tua itu. "Saya memiliki laporan krusial mengenai target, Kek. Protokol Azure. Saya sudah menemukan koordinat pastinya."
Kakeknya berbalik, matanya yang mulai memudar namun tetap menyimpan kilatan predator menatap Mufan lekat-lekat. "Katakan."
Mufan mengeluarkan tablet taktisnya dan menampilkan simulasi 3D dari rumah keluarga Xiao. "Benda itu terkubur tepat di bawah fondasi utama kediaman Xiao. Terlindung oleh beton anti-balistik dan sistem pendingin udara yang memanipulasi sensor panas kita. Tapi bukan itu masalah utamanya."
Mufan menjeda kalimatnya, menarik napas dalam. "Kunci akses fisik menuju ruang penyimpanan itu... ada di leher cucu bungsu mereka, Xiao Yueyue. Sebuah kalung dengan pola mekanis yang sinkron dengan koin perak keluarga kita."
Mendengar nama Azure, suasana di ruangan itu seolah turun beberapa derajat. Selama ini, banyak yang mengira Protokol Azure hanyalah tumpukan harta karun atau berlian langka. Namun, Mufan tahu kebenaran yang jauh lebih gelap.
"Azure bukan sekadar data kekayaan, Kek," lanjut Mufan dengan nada serius. "Itu adalah 'Daftar Hitam Peradaban'. Di dalam chip itu tersimpan rekaman transaksi kotor, pengkhianatan politik, dan bukti pembunuhan berencana yang melibatkan hampir seluruh petinggi di negara ini selama tiga dekade terakhir. Jika Azure jatuh ke tangan hukum, imperium kita akan runtuh dalam semalam. Namun, jika Azure jatuh ke tangan musuh kita... mereka bisa memeras kita selamanya."
Kakeknya mengetukkan jemarinya di atas meja kayu mahal itu. "Itu adalah asuransi yang dibuat kakek buyut Yueyue. Sebuah bom waktu yang hanya bisa dijinakkan oleh keturunannya. Jadi, kau mengatakan bahwa gadis kecil itu adalah satu-satunya jalan?"
Mufan terdiam sesaat. Bayangan wajah Yueyue yang kemarin siang mencium aroma ayam goreng melintas di kepalanya—begitu kontras dengan situasi mematikan yang sedang mereka bicarakan.
"Benar, Kek. Tanpa kalung dan kehadiran fisik gadis itu di titik akses, sistem Azure akan menghancurkan dirinya sendiri dan memicu ledakan elektromagnetik yang akan menghapus seluruh data digital di radius satu kilometer. Kita tidak bisa mengambilnya dengan paksa."
Kakeknya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk merinding. "Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Kau sudah masuk ke sana sebagai tukang AC, bukan? Apakah kau akan terus bermain sandiwara, atau kau akan melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang Ardhaka?"
Mufan merapikan kerah kemeja hitamnya, wajahnya kembali menjadi topeng dingin yang tak terbaca. "Saya akan mendekatinya. Entah itu sebagai teknisi atau sebagai preman. Saya akan memastikan dia menyerahkan kunci itu tanpa dia sadari bahwa dia sedang menyerahkan nasib dunianya kepada saya."
Kakeknya terkekeh pelan. "Hati-hati, Mufan. Bermain dengan kunci adalah satu hal. Bermain dengan pemegang kuncinya adalah hal lain. Jangan sampai kau lupa bahwa Azure juga bisa menyimpan rahasia tentang siapa kita sebenarnya."
Mufan berdiri, membungkuk sekali lagi, lalu berbalik pergi. Di kepalanya, sebuah rencana baru mulai tersusun. Namun, ada satu gangguan kecil yang tidak bisa ia hilangkan: rasa hangat di lengannya yang tadi malam sempat dijadikan guling oleh gadis bernama Yueyue itu.
"Misi ini harus selesai sebelum perasaan bodoh ini menjadi masalah," bisik Mufan pada dirinya sendiri saat ia melangkah keluar menuju van putihnya yang sudah menunggu di gerbang.
To be continue






































































































































